ZONAUTARA.com – Kepedulian terhadap kelestarian alam mendorong Jefri Bonde bersama sejumlah pemuda di Bolaang Mongondow mendirikan Komunitas Pencinta Alam (KPA) Tarsius, sebuah wadah yang berfokus pada konservasi lingkungan dan edukasi masyarakat di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW).
Jefri menjelaskan, cikal bakal komunitas ini bermula pada Januari 2018 saat ia bersama pemuda Desa Toraut menggelar kegiatan perkemahan Jumat/Sabtu/Minggu (Perjusami) se Kecamatan Dumoga di salah satu resort milik TNBNW. Usai kegiatan tersebut, pihak Taman Nasional menyarankan agar dibentuk komunitas berkelanjutan yang berfokus pada konservasi.
“Dari situlah kami berdiskusi dan sepakat membentuk Komunitas Pencinta Alam Tarsius. Kami kemudian menggelar rapat bersama Balai Taman Nasional, dan difasilitasi sekretariat di salah satu gedung milik TNBNW,” ujar Jefri saat kepada Zonautara Rabu (31/12/2025).
Sejak berdiri, KPA Tarsius bersama pihak TNBNW aktif memetakan berbagai persoalan di kawasan, khususnya perambahan hutan yang dijadikan kebun oleh warga. Untuk menjawab persoalan tersebut, KPA Tarsius menggagas Program Pemulihan Ekosistem Kolaboratif, yang bertujuan menjaga fungsi kawasan hutan sekaligus mempertahankan mata pencaharian masyarakat.
Program ini dilakukan melalui penanaman tanaman produksi seperti pala dan kemiri, serta tanaman kehutanan berupa pohon kehidupan (kayu nantu). Khusus pohon nantu, penanaman dilakukan di batas-batas kebun agar petani mengetahui batas lahan masing-masing dan meminimalkan konflik lahan yang kerap terjadi.
Dalam pelaksanaannya, KPA Tarsius mendata warga yang memiliki kebun di dalam kawasan TNBNW dan menawarkan program tersebut. Respons masyarakat pun cukup antusias. Pihak TNBNW berperan menyediakan bibit yang dibagikan secara gratis kepada petani.
Sebanyak 25 petani dalam satu hamparan kawasan dibentuk menjadi satu kelompok, dengan total luas lahan mencapai 32 hektare. Lahan tersebut kemudian dipulihkan menjadi kawasan hutan yang tetap produktif bagi petani. Proses penanaman dilakukan secara gotong royong oleh petani, KPA Tarsius, dan pihak TNBNW.
“Ini bukan sekadar mengembalikan hutan, tapi juga memastikan hutan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Jefri.
Dari program tersebut, KPA Tarsius juga menjalin kerjasama dengan salah satu lembaga swadaya masyarakat internasional, EPPAS, dan menerima dana hibah sebesar Rp110 juta. Namun, Jefri mengakui bahwa keterbatasan pengalaman organisasi membuat pemanfaatan dana belum optimal.
“Sebagian anggaran kami pihak ketigakan ke vendor untuk pembangunan camping ground dan potensi wisata lain, tapi hasilnya jauh dari ekspektasi. Bahkan rumah pohon yang dianggarkan Rp25 juta kualitasnya kurang baik dan kini sudah lapuk,” ungkapnya.

Meski demikian, upaya pengembangan wisata berbasis konservasi terus dilakukan. Salah satu potensi yang dikembangkan adalah wisata river tubing, yang mulai beroperasi pada tahun 2020 yang difasilitasi pihak TNBNW. Dalam waktu sekitar lima bulan, jumlah pengunjung tercatat mencapai kurang lebih 70.000 orang.
Namun, operasional wisata tersebut sempat terhenti akibat kendala pengelolaan, menyusul banyak anggota komunitas yang diterima sebagai aparatur sipil negara di luar daerah.
“Tahun ini, wisata river tubing kembali saya operasikan secara mandiri,” jelas Jefri.
Berkat keterlibatannya dalam program konservasi, Jefri juga mendapat kesempatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengikuti pembelajaran pengelolaan wisata di Sumatra Utara.
Di sana, ia mempelajari pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang dinilai sukses, sekaligus menyosialisasikan Program Pemulihan Ekosistem Kolaboratif yang memiliki kesamaan persoalan, yakni perambahan kawasan hutan untuk perkebunan.
Dalam perjalanannya, Jefri menilai tantangan terbesar masih datang dari rendahnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap lingkungan. Meski begitu, KPA Tarsius bersama pihak TNBNW tetap konsisten melakukan sosialisasi dan penyadartahuan.
“Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa pelestarian lingkungan dan pengembangan wisata alam bisa berjalan beriringan demi keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.


