Elegi Evia Siau: Sumekolah bisa mematikan juga

Tragedi Evia adalah bukti ternyata pendidikan juga membawa kenaasan, padahal dikira sebelumnya sumber pengharapan.

Penulis Tamu
Penulis: Penulis Tamu
Editor: Redaktur
Ilustrasi digenerate dengan AI.
Oleh: Pitres Sombowadile*

BELUM banyak orang tahu, bahwa orang asal Celebes pertama yang pergi merantau untuk bersekolah adalah seorang pangeran dari Siau. Buku arsip Documenta Malucensia Seri I 1542-1577 membeber kisahnya. Pada Januari 1569, tercatat seorang Pangeran Siau berusia 8 tahun telah diboyong seorang padre atau pastor bernama Pero Mascarenhas untuk dididik oleh para rohaniwan Jesuit di dalam benteng Gamalama, Ternate.

Di masa Portugis itu, memang para pewaris atau calon penguasa di wilayah Hindia-Portugis mesti “di-Portugis-kan”. Pertama, para calon raja yang bersahabat dengan Portugis itu mesti memeluk Katolik. Kemudian, mereka mesti dididik agar berpengetahuan nan bestari. Untuk itulah, mereka mesti belajar bahasa Porto, serta melek Latin. Mereka pun wajib bisa berhitung serta punya kecakapan ilmu lain. Meski sesungguhnya yang paling utama ditanamkan para padre Jesuit era Portugis itu adalah ketaatan beribadah, disiplin hidup sesuai ajaran dan kredo dan segala pernik praktik keimanan.

Begitulah pangeran Wuisang (Wuisan atau Buisang) yang asal Siau itu pergi bersekolah ke seberang lautan di Ternate. Dia menjalani tradisi pengajaran anak yang berbeda dengan tradisi pendidikan “papendangan” tradisional. Sebelum itu, dia memang sudah dimateraikan ke dalam Katolik dengan dibaptis dengan nama baptis: João (dibaca: Jon). Pada tahun 1563; sang pangeran adalah seorang di antara 1500 orang yang dibaptis padre Diego de Magalhãens bersama Raja Manado dan Raja Siau Jeronimo Pasuma. Yang terakhir ini adalah ayah João Wuisang.

Kabar merisaukan kemudian datang di tahun-tahun sesudah kepergian untuk bersekolah itu. Setahun sejak kepergian sang pangeran, terbetik kabar ke Siau, bahwa: Benteng Gammalama Ternate mulai dikepung pasukan gabungan serdadu pribumi yang datang dari berbagai penjuru Nusantara atau disebut sebagai Hindia Portugis. Sultan Ternate Baabullah, yang barusan naik tahta telah dengan tegas menyatakan dia memang akan menuntut balas kematian ayahnya, Sultan Hairun. Sang sultan itu memang tragis terbunuh dalam benteng Portugis Gammalama Ternate.

Dengan berlindung di dalam benteng beton itu, serangan pasukan pribumi menjadi tidak mempan. Benteng sulit diterobos, karena itulah Baabullah memilih memilih tidak menyerang pasukan Portugis di dalamnya, tetapi cukup dengan menutup berbagai pasokan logistik serta bantuan militer ke dalam benteng. Barikade laut dan daratan di sekitar benteng dilakukan semakin ketat selama bertahun-tahun, dalam durasi 1570-1575.




Dari kisah pangeran itu, jelaslah para pelaku bersekolah memang tidak pernah sepi dari halangan bahkan ancaman terhadap nyawanya. Kisah pada ratusan tahun lampau ini berlanjut dengan catatan surat berangkatnya Raja Pasuma ke Ternate dengan perahu kora-kora besar dengan pendayung hingga 80 orang itu. Ringkasnya, dengan berbagai perjuangan akhirnya Raja Jeronimo Pasumah akhirnya dapat menyelamatkan anaknya. Ayahnya ternyata tetap merupakan pengayom bagi anak di saat-saat naas. Kisah bersekolah awal di Siau ini mencapai puncak pada kepergian Pangeran Fransiscus Bataha menjadi lulusan nan cendekia dari kolese San Jose yang dikelola para Jesuit Spanyol di dalam Benteng Del Murros Manila, Filipina.

Kisah Evia, 357 tahun kemudian

Kisah orang merantau untuk bersekolah di Sulawesi Utara, pada medio abad ke-20 populer disebut sebagai aksi sumekolah. Ini adalah peristiwa seseorang pergi bersekolah. Namun kemudian berkembang menjadi kata untuk menyatakan sebuah “tradisi atau budaya baru” pergi dari rumah orang tua untuk merantau; meninggalkan kampung halaman demi tujuan bersekolah.

Meski tradisi bersekolah sudah dimulai sejak Portugis dan menjadi sistemik di masa Spanyol dan kolonial Belanda. Tetapi istilah sumekolah itu, di Sulawesi Utara khususnya di luar dari negeri-negeri Minahasa, menjadi kata populer yang dipakai untuk mengenang peristiwa suri teladan intelektual dan pahlawan nasional Sam Ratulangi. Sam meninggalkan kampung halaman di Tondano untuk bersekolah ke Jawa, bahkan pergi melanglang hingga Eropa di atas niat kukuh ber-sumekolah.

Sementara Sam ber-sumekolah pada waktu bersamaan Minahasa, khususnya kota-kota Tomohon, Tondano dan Manado mulai terkembang menjadi lokasi bagi sekolah-sekolah modern. Menyusul sekolah-sekolah rakyat (volkschool) yang dibangun “zending” di banyak desa pada paruh awal abad ke-19, kemudian muncullah “kweekschool” yang digagas Nicolas Graafland di tahun 1851 untuk “mencetak” para guru pribumi; juga muncul sekolah khas meisjesschool, khusus bagi kaum putri di Tomohon dan berbagai sekolah lanjutan termasuk yang khusus bagi anak-anak raja di Tondano.

Semenjak abad ke-20, kebebasan dan budaya bersekolah berkecambah di Sulawesi Utara. Orang boleh memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekitaran banua-nya atau mengirimnya melakukan sumekolah pada sekolah lanjutan dan sekolah vokasi serta sekolah tinggi di berbagai kota Nusantara atau disebut sebagai Hindia Belanda.

Di antara cerita besar itu, di tahun 2020-an tersebutlah Anthonius Mangolo, figur kecil buruh pelabuhan Siau, namun punya cita-cita mulia mengirim satu-satunya anak putrinya: Anthonieta Evia Maria Mangolo. Sang putri cantik bertubuh sintal. Teruna yang memekar bagai mawar ini pergi meninggalkan pulau Siau. Teruna per-EMPU-an ini tidak lagi hijrah ke Ternate atau Manila, tetapi ke arah Manado, kota yang tiga abad sebelumnya diset sebagai pusat orientasi, sedang wilayah-wilayah sekitarnya “dipermak” kedudukannya sebagai jalur lintasan yang mengacu ke kota Manado itu alias para opa-oma kita menyebutnya sebagai: “landstreek van Manado”.

Evia pergi bersekolah di Tomohon pada perguruan atau pendidikan tinggi dalam lingkup UNIMA. Dia pergi dengan semangat khas pengharapan seorang anak miskin yang ingin memperbaiki hidup dan kebanggaan keluarga. Dia terus bergelut ingin sekali kelak menjadi guru, tetapi sayangnya nasib justru menibakanya kondisi “gurumi”. Nyawa terengut, tubuhnya yang ranum itu ditemukan sudah bermalih menjadi jenazah, tanpa napas, tanpa cita-cita. Mawar amblas, mimpi kandas, jiwa terlepas. Evia tidak pulang ke Siau seperti Pangeran Wuisang dan Pangeran Bataha. Cerdas dan siap mengabdi.

Sumekolah kok mematikan

Evia yang sudah marhum, itu jelas pantas dikenang sebagai tragika dari nasib orang-orang kecil yang punya spirit untuk ber-“sumekolah”. Dia juga adalah cerita pahit bagi wilayah-wilayah yang mengklem diri sebagai lokasi tujuan “sumekolah” semacam Tomohon. Juga ini adalah sisi kelam dari kebudayaan baru Sulawesi Utara yang sudah sekian abad gandrung bersekolah, meski terakhir ini orang jauh lebih terpana pada ijasah daripada ilmu.

Tragedi Evia adalah bukti ternyata pendidikan juga membawa kenaasan, padahal dikira sebelumnya sumber pengharapan. Dan jauh lebih “gurumi” lagi karena kenaasan itu terkait dengan para guru yang menjadi tiang pendidikan. Sampai di sini, jelas ada bangunan pendidikan kita yang perlu direkontsruksi kembali, seperti spirit para zending, misi dan mubalig saat mereka mendirikan sekolah, yaitu bahwa sekolah adalah institusi kebaikan paling murni dalam kemuliaan kepada pencipta.

Keutuhan itu yang hilang, saat sekolah menjadi pabrik ijasah dan bukan kancah penempaan citra dan cita manusia, yang dalamnya suri tauladan para guru menjadi pondasinya. Guru-guru yang cacat akhlak etik moralnya semestinya dikelupas dari tubuh lembaga pendidikan, dan ini bukan menjadi tugas polisi, tetapi pemerintah, pendidik dan kita semua.


* Penulis adalah budayawan, sejarawan, penulis buku: “Sejarah Kekristenan di Sulawesi Utara: Siau di Masa Misi Portugis-Spanyol 1563-1677: TUNAS YANG DIBIARKAN TERAMPAS.”

TAGGED:
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com