ZONAUTARA.com – Di Bandara Taman Bung Karno Siau, Kabupaten Sitaro, malam itu tak ada karpet merah, tak ada kamar hotel, apalagi kasur empuk.
Yang ada hanya deretan kursi tunggu penumpang, lampu bandara yang redup, dan angin laut yang sesekali menyelinap masuk. Di sanalah Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling memilih menghabiskan malamnya.
Keputusan itu lahir dari perjalanan panjang penuh risiko dan empati. Sejak Selasa siang (6/1/2026), Yulius Selvanus sudah berada di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Tujuannya jelas! Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, wilayah yang sedang terluka oleh bencana alam.
Laporan cuaca buruk datang silih berganti. Langit tak bersahabat, angin kencang, dan gelombang tinggi menjadi peringatan yang tak bisa diabaikan.
Namun pukul 15.30 WITA, setelah menimbang risiko, ia memilih tetap berangkat.
Pesawat perintis Susi Air PK-BVJ membawanya bersama Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Mirza Agus, Kapolda Sulut Irjen Pol. Roycke Langie, Danrem 131/Santiago Brigjen TNI Martin Turnip, serta jajaran pejabat dan jurnalis.
Di udara, pesawat bergoyang hebat, tiga kali turbulensi membuat napas tertahan. Ketegangan terasa, tetapi tekad untuk tiba di Siau lebih kuat.
Setibanya di Bandara Taman Bung Karno Siau, Yulius Selvanus tak menunda waktu. Ia langsung bertanya tentang kondisi warga.
Dari Kelurahan Bahu yang tertutup bebatuan Gunung Tamata, lokasi pengungsian di Museum Ulu Siau, hingga Puskesmas Ulu Siau, semuanya disambangi. Ia mendengar keluh kesah warga, menyapa anak-anak, memastikan obat tersedia, dan meminta aparat tetap siaga.
Hari itu, ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai sesama manusia yang ingin memastikan warganya tak sendirian.
Malam datang, kelelahan mulai terasa. Sekitar pukul 19.00 WITA, rombongan menuju Pelabuhan Siau untuk kembali ke Manado.
Jalan sempit, gelap, pohon tumbang, dan angin kencang kembali menjadi ujian. Sesampainya di pelabuhan, kabar itu datang: kapal belum bisa berlayar karena cuaca buruk.
Pilihan pun harus diambil. Rombongan kembali ke bandara. Di situlah momen sederhana namun sarat makna terjadi. Gubernur Sulut itu menolak penginapan.
Ia memilih duduk dan berbaring seadanya di kursi tunggu penumpang bandara, berdekatan dengan Pangdam dan Kapolda. Tanpa fasilitas khusus, tanpa jarak dengan rombongan.
Meski tubuhnya terlihat lelah dan kondisi kesehatannya tak sepenuhnya prima, Yulius Selvanus tetap bertahan di sana.
“Kita ini pemimpin yang benar-benar merakyat, bukan memilih tempat untuk istirahat,” ucapnya pelan, namun tegas, dikutip dari Tribunmanado.co.id. Kalimat singkat yang malam itu terasa lebih kuat daripada pidato panjang.

Sekitar lima jam kemudian, fajar menyingsing. Pukul 06.00 WITA, pesawat Susi Air PK-BVJ kembali mengudara membawa rombongan ke Manado. Empat puluh lima menit berselang, pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Sam Ratulangi.
Di sana, kelelahan perjalanan seakan luruh. Sang istri, Ketua TP-PKK Sulut Anik Yulius Selvanus, menyambutnya dengan senyum dan pelukan hangat.
Yulius Selvanus mengecup kening, pipi kiri, dan pipi kanan istrinya. Tepuk tangan dan sorakan mengiringi momen sederhana penuh rasa syukur itu.
Perjalanan itu mungkin telah usai, tetapi kisah tentang seorang gubernur yang memilih beristirahat di kursi bandara demi tetap bersama rakyatnya, akan tinggal lebih lama.
Sebagai pengingat bahwa kepemimpinan sejati sering kali lahir dari pilihan-pilihan sederhana, di tempat-tempat yang paling bersahaja.
“Respect, dgn status beliau seorang Pejabat Gubernur, beliau nginap & tidur semalam seadanya di Terminal Bandara Taman Bung Karno Siau. Sehat selalu pak Jendral,” tulis akun @Iwan L. Hartono dalam postingannya di Facebook.

***


