ZONAUTARA.com — Banjir bandang dan longsor hebat menerjang Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, pada Senin, 5 Januari 2026 dini hari, menewaskan 16 orang dan menyebabkan tiga lainnya masih dalam pencarian hingga Rabu, 7 Januari 2026.
Bencana alam yang dipicu hujan deras berjam-jam ini berdampak pada sedikitnya 244 kepala keluarga atau 693 jiwa ang mengungsi di berbagai wilayah seperti Kampung Bahu, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Bumbiha, Paseng, dan Bandil.
Gubernur Sulut, Yulius Selvanus telah mendatangi Siau pada Selasa (6/1/2026) sore untuk meninjau langsung penanganan bencana, memastikan evakuasi, pelayanan kesehatan, dan ketersediaan logistik bagi warga terdampak berjalan optimal.
Usai tiba, Gubernur bersama rombongan langsung meninjau wilayah Kelurahan Bahu (Sondang) yang menjadi salah satu titik terparah terdampak banjir bandang. Di lokasi tersebut, Gubernur berdialog dengan Bupati Sitaro dan unsur Forkopimda setempat terkait langkah-langkah penanganan pascabencana serta kebutuhan mendesak masyarakat.
Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke lokasi pengungsian di Gedung Museum Ulu Siau. Selain itu, Gubernur juga menyempatkan diri menjenguk warga terdampak yang tengah menjalani perawatan medis di Puskesmas Ulu Siau, serta meninjau beberapa titik lainnya yang terdampak bencana.

Jumlah korban
Dari laporan yang dihimpun di lapangan mencatat sebanyak 17 orang masih menjalani perawatan di puskesmas, sementara dua korban lainnya dirujuk ke Manado untuk penanganan medis lanjutan.
Hingga Selasa (6/1/2026) malam, jumlah total korban terdampak banjir bandang Siau mencapai 37 orang, dengan rincian 16 orang meninggal dunia, 18 orang luka-luka, dan tiga orang masih dinyatakan hilang.
Di tengah upaya pencarian korban yang terus dilakukan Tim SAR dengan kendala akses dan cuaca buruk, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem lanjutan untuk wilayah Sulawesi Utara hingga Rabu (7/1/2026).
Upaya pencarian terhadap korban hilang terus diintensifkan oleh Tim SAR gabungan, namun dihadapkan pada berbagai kendala. Pihak Badan SAR Nasional (Basarnas) Kantor SAR Manado menyebut, kendala utama adalah beberapa titik akses menuju lokasi masih tertutup material sisa banjir dan longsor.
Kondisi cuaca juga menjadi tantangan. Siau masih diguyur hujan deras beserta angin kencang dari Selasa (6/1/2026) sore hingga Rabu (7/1/2026) dini hari.
Kesulitan bahan bakar minyak untuk mengoperasikan perahu juga menghambat pencarian di laut.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Stenly Marthin melaporkan, ada tiga titik akses jalan yang terhalang material berupa batu dan tanah, yakni di Bahu (Kecamatan Siau Timur), Batusenggo (Siau Barat Selatan), dan Laghaeng (Siau Barat Selatan).
“Akses jalan di Bahu sudah boleh dilewati. Tapi ada banjir susulan sehingga akses di tutup sementara. Di Batusenggo sudah terbuka. Di Laghaeng alat berat masih bekerja di sana,” pungkas Stenly.

Cuaca ekstrem
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk Rabu, 7 Januari 2026. Wilayah Sulawesi Utara masuk dalam kategori waspada hujan sedang hingga lebat.
Kepala Stasiun Meteorologi Naha, Rafael Alesandro Marbun menjelaskan bahwa peringatan dini ini berlaku dari tanggal 5 hingga 7 Januari 2026, berdasarkan analisis dinamika atmosfer.
Fenomena seperti pusat tekanan rendah di utara Australia, pertemuan massa udara (konvergensi), belokan angin, La Nina yang lemah, suhu muka laut yang lebih hangat, kelembapan udara tinggi, dan indeks labilitas atmosfer yang tinggi, semuanya berkontribusi pada peningkatan curah hujan.
“Potensi cuaca ekstrem ini dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kabupaten Kepulauan Sangihe,” jelas Rafael dikutip dari Tribbun Manado.


