Tiga babak di akhir tahun: Dari arus Toraut hingga puncak Tomohon

Rekomendasi wisata murah di 3 daerah di Sulawesi Utara.

zonaX

Tiga babak di akhir tahun: Dari arus Toraut hingga puncak Tomohon

Rekomendasi wisata murah di 3 daerah di Sulawesi Utara.
🌊
River Tubing
🌲
Lembah Pinus
⛰️
Puncak Tomohon
Babak 1: Petualangan River Tubing

Adrenalin yang Terbanting di Arus Toraut

Semilir angin Dumoga menyapa perjalanan saya pada Sabtu, (28/12/2025). Sepanjang jalan, pemandangan hamparan persawahan yang hijau nan asri terhampar sejauh mata memandang. Suasana itu seolah memberi ketenangan tersendiri, membuat perjalanan terasa ringan dan menyenangkan. Hari itu, tujuan utama saa berkunjung ke salah satu bagian Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, tepatnya di kawasan Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Perjalanan kali ini terasa berbeda karena saya tidak berangkat sendiri melainkan ditemani oleh beberapa rekan Penggerak Moisipun serta satu orang dari Komunitas Sampul Belakang.

Hari itu, tujuan utama saya berkunjung ke salah satu bagian Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, tepatnya di kawasan Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow. Tujuan utama datang ke lokasi ini adalah untuk melihat langsung kondisi kawasan sebagai bahan liputan untuk tulisan feature wisata alam untuk Zonautara.com

Namun, di luar tugas tersebut, ada satu agenda yang sudah lama saya nantikan, yakni mencoba river tubing yang keinginan itu sudah ada sejak sekitar tiga bulan lalu.

Persiapan river tubing di sungai Toraut
Narsis sebelum dihempas river tubing di sungai Toraut • Koleksi Pribadi

Untuk menikmati river tubing ini, pengelola menetapkan tarif sebesar Rp30.000 per orang, sementara untuk masuk ke kawasan taman nasional tidak dipungut biaya apa pun. Sebuah pengalaman wisata alam yang cukup terjangkau, apalagi berada di kawasan konservasi dengan pemandangan yang masih sangat alami.

Suara deras aliran sungai sudah terdengar bahkan sebelum kami benar-benar memulainya. Debur air yang menghantam bebatuan menambah rasa antusias, sekaligus sedikit ketegangan. Karena jumlah kami berlima, kami harus dibagi menjadi dua tim.

Sambil menunggu giliran, rasa tidak sabar bercampur dengan kegugupan menerpa saya. Namun itu tertipis oleh semangat dan rasa penasaran saya.

Aliran air sungai Toraut yang jernih
Pemandangan sungai Toraut yang jernih • Koleksi Pribadi

Kegiatan river tubing ini dipandu langsung oleh Jefri Bonde, pengelola lokasi sekaligus pemandu kami hari itu. Sebelum memulai, ia menyempatkan waktu memberikan penjelasan singkat mengenai jalur sungai serta kondisi alam sekitar. Ia juga menyampaikan bahwa kawasan Toraut kerap dijadikan lokasi penelitian karena kekayaan alam dan keanekaragaman hayatinya yang masih terjaga dengan baik.




Memulai petualangan river tubing
Berfoto bersama Kak Jefri • Koleksi Pribadi

Lintasan river tubing yang kami lalui kurang lebih sepanjang 900 meter. Tubuh kami hanyut mengikuti arus sungai yang dingin dan jernih, diapit oleh rimbunnya hutan di kiri dan kanan.

Sebelum adrenalin kami dipacu, di titik start kami sempat melihat aktivitas beberapa laki-laki dewasa yang sedang mencuci bambu untuk memasak makanan tradisional orang Sulawesi Utara yakni nasi jaha. Pemandangan sederhana namun begitu lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Kalau sudah matang, kami minta.

— Celetuk Deysi sambil tertawa, teman perjalanan

Setelah cukup lama menerjang arus, kami akhirnya tiba di bendungan Toraut. Di sana, kami menyempatkan diri untuk beristirahat, berfoto ria, dan saling berbagi cerita. Saya baru menyadari adanya beberapa bekas luka kecil di kaki, namun anehnya saya sama sekali tidak merasakan sakit. Mungkin karena rasa senang dan adrenalin yang dipacu sepanjang jalur yang dilalui.

Di titik start
Di titik start
Merayakan kemenangan
Merayakan kemenangan

Perlahan, suara rie-rie (tonggeret atau cicada) mulai terdengar, menandakan waktu telah beranjak mendekati malam. Dan kami harus segera kembali. Saat sedang menikmati kopi hangat, Jefri kedatangan tamu, yakni Susan dan Filips, mereka aktivis konservasi asal Inggris yang cukup sering berkunjung ke kawasan tersebut.

Suasana pun menjadi semakin hangat. Kami berbincang santai, saling bertukar cerita, diselingi tawa yang akrab. Dalam pertemuan singkat itu, Susan sempat meminta nomor ponsel saya, dan saya pun melakukan hal yang sama.

Menurut Susan, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memang kerap menjadi lokasi kegiatan berbagai lembaga konservasi. Salah satunya Selamatkan Yaki.

keseruan river tubing
Ada yang kepalanya “lenyap” ditelan arus • Koleksi Pribadi

Hari itu, saya merasa beruntung bisa berkenalan langsung dengan Filips dan Susan. Kami banyak berbagi cerita, terutama topik yang berkaitan dengan liputan saa soal perdagangan satwa liar.

Setelah berfoto bersama, kami memutuskan beranjak pulang dan singgah sejenak di sebuah rumah makan yang ada di Desa Doloduo. Perjalanan hari itu terasa seperti tripel combo bagi saya, karena dalam satu perjalanan bisa bertemu dan berinteraksi dengan berbagai latar belakang profesi mulai dari tenaga pendidik, jurnalis, tenaga kesehatan dan konservatoris.

Pemandangan alam sekitar Toraut
Pemandangan alam sekitar Toraut
Suasana perjalanan pulang
Narsis lagi
“Perjalanan ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini menjadi pengalaman cerita baru yang memperkaya sudut pandang saya tentang kawasan konservasi dan kehidupan di sekitarnya.”
Lanjut ke bagian berikutnya:
Babak 2: Kesunyian di Lembah Pinus

Mengigil di Jaton, Keliling Danau Tondano dan Kesunyian di Lembah Pinus

Kami melanjutkan petualangan di akhir tahun ini menuju ke destinasi lain, kali ini berpindah kabupaten. Dari Dumoga kami memutar arah menuju Tondano Utara di Kabupaten Minahasa pada keesokan harinya, setelah malam usai menjajal river tubing kami istirahat di Kotamobagu.

Meski kami semua orang Sulawesi Utara, namun tidak semua rute perjalanan kami tahu. Termasuk perjalanan ke arah Tondano ini. Tak satu pun di antara kami yang benar-benar tahu arah.

Kami hanya mengandalkan petunjuk dari aplikasi maps di handphone dan insting. Padahal perjalanan harus menembus hawa dingin di beberapa lokasi.

Kami seolah sedang membuka jalan baru, berbelok dan menyusuri rute menggunakan insting, hingga tanpa sadar roda sepada motor yang kami kendarai membawa kami ke Pasar Kawangkoan. Dari sana, dengan keyakinan yang entah datang dari mana, kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju Tondano
Mengabadikan kebersamaan • Koleksi Pribadi

Di beberapa titik jalanan terasa sangat sepi, hanya hutan rimbun membelah di kiri dan kanan. Hingga di suatu waktu kami melihat sebuah tugu sederhana menyambut kami dengan tulisan, “Selamat Datang di Desa Rurukan.” Kami saling menertawakan kebodohan kecil ini, tersesat tapi tetap melaju.

Kami saling menertawakan kebodohan kecil ini, tersesat tapi tetap melaju. Beberapa waktu kemudian kami tiba di Desa Eris. Barulah dari sana kami kembali menyerahkan arah pada maps. Tujuh belas menit kemudian, tibalah kami di Tondano Utara, tepatnya di Jawa Tondano atau orang banyak menyebut Jaton.

Kampung ini terasa berbeda, sebuah perkampungan muslim di tengah mayoritas pemeluk kristen di Minahasa. Rumah-rumah khas Minahasa berdiri anggun, berpadu dengan suasana religius islami yang kental.

Azan magrib berkumandang, bersaing dengan dingin yang semakin menggigit. Kami tiba di rumah sahabat kami Dhea Ali. Menurutnya, Jaton dihuni penduduk mayoritas pemeluk agama islam. Sebuah fakta unik di tengah Minahasa yang dikenal dengan keberagaman budayanya.

Suasana di Jaton, Tondano
Mengekspresikan perayaan hidup • Koleksi Pribadi

Setelah bersalaman dengan ibu dan nenek Dhea, kami naik ke lantai dua. Dhea seusia dengan kami. Dan malam itu kami disuguhi kue macis, camilan khas yang menghangatkan suasana. Bersama adiknya, Dwi, saya, Deysi, Dila, dan Delia, kami berbincang tentang banyak hal, ditemani gigil khas malam Tondano. Ada yang lucu malam itu, kami yang berkumpul semua memiliki nama berawalan huruf D.

Malam kian larut. Sweter dan kaus kaki pun tak sepenuhnya mampu menahan dingin. Satu kasur diisi saya, Deysi, dan Delia. Di kasur lain ada Dila dan Dhea, sementara Dwi tidur bersama orang tuanya. Percakapan kami mengalir tentang sejarah Jaton, rumah-rumah Minahasa, dan rencana menjelajah kampung keesokan hari.

Pagi pukul delapan pagi keesokan harinya, saat matahari memberi kehangatan tipisnya, dari lantai dua tercium aroma masakan yang menggoda.

“Dhea, bangunkan teman-teman. Makanan sudah siap!” teriak ibu Dhea dari lantai satu.

Pagi itu kami disambut hidangan khas, ikan payangka, spesies endemik Danau Tondano yang hanya bisa ditemukan di perairan ini. Harga perkilonya bisa mencapai Rp 120ribu.

Disajikan bersama ayam daun ubi bumbu rw (bumbu rw sendiri adalah bumbu khas minahasa untuk memasak daging anjing tetapi ini diganti dengan daging ayam) dan sambal timun. Rasanya sulit dideskripsikan. Sederhana, kaya rempah, dan benar-benar baru bagi kami.

Usai makan itu, kami belum bergerak ke manapun. Alasannya cuma satu, dingin! Nanti sekitar pukul satu siang kami benar-benar selesai dengan drama gigil. Kami beranjak dan berkeliling Tondano hingga singgah di Wisata Lembah Pinus, di Desa Tonsea Lama, Kecamatan Tondano Utara.

Pemandangan Lembah Pinus
Berfoto di tepi Danau Tondano • Koleksi Pribadi

Tiket masuknya Rp25.000 per orang. Tempat ini sunyi. Saat datang hanya kami dan satu lagi pengunjung lain. Di pintu masuk terdengar gonggongan anjing, dengan papan bertuliskan “Rumah Anjing Manado”. Penanda yang membuat kami bertanya-tanya, mengapa terletak di Tondano tetapi dinamakan Manado.

Lembah Pinus menyuguhkan pemandangan pinus yang menjulang, udara sejuk, dan deretan rumah kaca yang menyatu dengan alam. Sunyi, tenang, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk dunia.

Suasana sejuk Lembah Pinus
Salah satu sudut berfoto di Lembah Pinus • Koleksi Pribadi

Tondano Utara sendiri merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Wilayah ini dikenal dengan udara sejuk karena berada di dataran tinggi dan dekat dengan Danau Tondano, danau terbesar di Sulawesi Utara.

Kawasan Jaton memiliki nilai sejarah penting sebagai permukiman keturunan Jawa yang memeluk Islam sejak masa kolonial, menjadikannya simbol toleransi dan akulturasi budaya Minahasa dan Jawa.

“Lembah Pinus di Tonsea Lama dapat menjadi rekomendasi destinasi wisata alam yang tenang. Cocok bagi pencari keteduhan dan ketenangan.”
Babak 3 : Keindahan Tomohon

Puncak Tetena dan Keheningan di Bukit Doa Mahawu

Pagi itu udara masih terasa dingin ketika kami memutuskan bangun lebih awal dari biasanya. Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, tetapi semangat kami sudah lebih dulu terjaga. Tujuan kami hari ini yaitu Puncak Tetena Tomohon Suluan, yang terletak di Kecamatan Tombulu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Waktu baru menunjukan pukul 09.00 tetapi kami sudah bergegas memulai perjalanan menuju puncak yang cukup menantang. Jalanannya terjal dan berkelok, namun rasa khawatir langsung terbayar karena aksesnya sudah sangat baik, aspal mulus membentang hingga ke puncak. Sepanjang perjalanan, kabut tipis dan hawa sejuk khas perbukitan menemani kami, seakan memberi isyarat bahwa sesuatu yang indah sedang menunggu di ujung jalan.

Perjalanan menuju Puncak Tetena
Suasana magis pagi hari di Puncak Tetena • Koleksi Pribadi

Sesampainya di lokasi, kami membayar tiket masuk sebesar Rp25.000 per orang. Menariknya, karcis tersebut bisa langsung ditukarkan dengan secangkir kopi atau teh hangat, minuman sederhana yang terasa begitu nikmat di tengah dinginnya bukit. Kehangatan minuman itu seperti menyempurnakan suasana pagi yang tenang dan damai.

Hal lain yang membuat kami tersenyum adalah sistem pembayarannya yang sudah modern. Qris tersedia, sangat memudahkan kami kaum Gen Z yang jarang membawa uang tunai. Praktis, cepat, dan terasa relevan dengan gaya perjalanan masa kini.

Begitu sampai di puncak, kami dibuat terdiam. Pemandangannya luar biasa. Dari satu titik, mata kami dimanjakan oleh pemandangan hamparan Kota Manado di kejauhan, laut biru yang luas, jajaran gunung yang kokoh, Bandara Sam Ratulangi, hingga jalan tol yang terlihat kecil dari titik kami berdiri. Semua berpadu dalam satu panorama yang mustahil untuk dilewatkan begitu saja.

Panorama dari Puncak Tetena
Koleksi tanaman di sini cukup banyak
Suasana di Puncak Tetena
Resto di Puncak Tetena

Di sekeliling kami, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warna cerah, tertata rapi dan menambah kesan romantis sekaligus menenangkan. Angin berhembus pelan, membawa aroma alam yang segar, membuat kami ingin berlama-lama berdiri di sana.




“Cantik sekali,” ucap Dila pelan, namun penuh rasa kagum. Ucapannya sederhana, tetapi terasa mewakili perasaan kami semua saat itu.

— Dila, teman perjalanan

Kami pun memutuskan untuk memesan pisang goreng sebagai teman menikmati pagi. Satu porsi datang dengan jumlah yang cukup banyak, disajikan hangat, dengan rasa yang pas. Harganya terjangkau, membuat kami semakin betah duduk berlama-lama, berbincang santai, dan menikmati momen tanpa terburu waktu.

“Pisang goreng ini enak ketika disantap bersama kopi, di tempat setenang ini,” ucap Delia sembari menunggu kopi kami datang.

“Kapan lagi menikmati libur bersama sebelum menyambut 2026,” sahut Dhea.

Puncak Tetena ternyata bukan hanya milik para pencari spot foto. Kami melihat begitu banyak pengunjung dari berbagai kalangan datang ke sini. Ada anak-anak yang berlarian riang, remaja yang sibuk mengabadikan momen, balita dalam gendongan orang tuanya, hingga para orang tua yang menikmati pemandangan dengan senyum tenang. Tempat ini benar-benar terasa ramah untuk semua usia.

Bukit Doa Mahawu

Sekitar tiga jam kami menghabiskan waktu di Bukit Tetena. Waktu terasa berjalan begitu cepat, seolah pagi enggan benar-benar pergi. Namun perjalanan harus berlanjut. Sebelum benar-benar meninggalkan Tomohon dan beranjak menuju Manado, kami sepakat untuk singgah di satu tempat wisata terakhir yakni Bukit Doa Mahawu.

Perjalanan menuju Bukit Doa Mahawu tak kalah menantang. Jalanan kembali menanjak dan terjal, namun rasa lelah lagi-lagi terbayarkan lunas oleh pemandangan di sepanjang jalan. Pepohonan hijau, udara sejuk, dan langit yang terasa lebih dekat membuat kami kembali jatuh cinta pada kota ini.

Rasanya memang benar apa yang sering orang katakan, bahwa Tuhan menciptakan Tomohon dalam keadaan tersenyum.

Pemandangan Bukit Doa Mahawu
Amphitehater di Bukit Doa Mahawu • Koleksi Pribadi

Setibanya di lokasi, kami membeli tiket masuk seharga Rp25.000 per orang, sama seperti di Bukit Tetena. Tiket tersebut juga bisa ditukarkan dengan kopi atau teh hangat di resto. Sebuah detail kecil, namun selalu berhasil menghadirkan rasa nyaman di tengah dinginnya udara pegunungan.

Bukit Doa Mahawu menawarkan begitu banyak spot foto cantik. Hampir di setiap sudut, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang tertata dengan apik dan alami. Namun satu hal yang langsung mencuri perhatian kami adalah sebuah kapel bergaya klasik modern, berdiri megah dengan desain yang begitu indah dan tenang. Tanpa banyak bicara, kami saling pandang dan akhirnya memberanikan diri untuk masuk, meski kami berempat menganut kepercayaan Islam.

Di balik pintu tembok berwarna cokelat, suasana langsung berubah. Terpampang patung Yesus, berdiri dengan penuh ketenangan. Ada kesucian yang begitu terasa di dalam gereja itu sunyi, dan hening.

Gereja di Bukit Doa Mahawu
Pemandangan di sekitar resto
Interior gereja yang hening
Chapel di Bukit Doa Mahawu

Sebagai seorang muslim, aku justru merasa damai. Bagiku, Islam adalah rahmatan lil alamin agama yang lembut, penuh kasih, tanpa paksaan maupun intimidasi. Dan di tempat itu, rasa saling menghormati terasa begitu nyata.

Kami hampir tak berbicara satu sama lain. Keheningan seolah menjadi bahasa yang paling tepat.“Eh, tidak apa-apa kah kita memotret di sini?” tanya Delia pelan, seolah tak ingin mengganggu suasana. “Bagiku tak apa, kita hanya memotret bagian dalamnya saja,” jawabku singkat.

Kami duduk sejenak, menundukkan kepala. Tak ada isi di kepala selain keinginan untuk segera keluar dengan tetap menjaga rasa hormat, lalu melanjutkan perjalanan mencari spot foto lainnya.

Tepat di depan gereja terdapat view Gunung Lokon dan suasana hutan pinus menyejukan yang terletak di atas 1500 di atas permukaan laut.

Pemandangan alam Bukit Doa
Pemandangan alam Bukit Doa
Spot foto di Bukit Doa Mahawu
Spot foto di Bukit Doa Mahawu
Restoran estetik di Bukit Doa
Lagi lagi narsis

Tak jauh dari gereja, terdapat sebuah restoran estetik yang juga menjadi tempat penukaran kopi dan teh. Tempatnya hangat, tertata cantik, dan dipenuhi oleh pengunjung hari itu. Tawa, obrolan, dan suara langkah kaki berpadu dengan udara sejuk pegunungan, menjadi penutup yang pas untuk perjalanan kami di Tomohon.

Tomohon memberi kami lebih dari sekadar pemandangan, ia memberi ketenangan, yang akan kami bawa pulang menuju Manado sore itu.

“Perjalanan yang mengajarkan kami tentang keindahan alam, keragaman budaya, dan arti kebersamaan di penghujung tahun 2025.”

Kredit

Semua foto: Koleksi Pribadi

Ditulis untuk Zonautara.com | Desember 2025

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com