TNI AL minta maaf atas insiden di Melonguane, lima prajurit diproses hukum

Editor: David Sumilat
Panglima Kodaeral VIII, Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi, menyampaikan permohonan maaf saat konferensi pers. (Foto: Dok. Kodaeral VIII)

ZONAUTARA.com – Komandan Kodaeral VIII (Dankodaeral VIII), Laksamana Muda (Laksda) TNI Dery Triesananto Suhendi, menyampaikan permohonan maaf khususnya kepada masyarakat Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, terkait insiden kesalahpahaman yang melibatkan lima oknum anggota TNI AL dengan seorang warga sipil.

Insiden yang terjadi pada Kamis, (22/01/2026), sekitar pukul 23.30 WITA di Pelabuhan Umum Melonguane, yang menyebabkan korban mengalami luka-luka dan sempat menimbulkan situasi tidak kondusif.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Joglo Makodaeral VIII pada Sabtu, (24/01/2026). Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi menjelaskan bahwa kesalahpahaman tersebut diduga dipicu oleh pengaruh minuman keras. 

Ia menegaskan bahwa TNI AL tidak akan mentolerir pelanggaran hukum oleh prajuritnya dan telah mengambil langkah cepat dengan mengamankan oknum yang terlibat untuk menjalani pemeriksaan intensif oleh Detasemen Polisi Militer TNI Angkatan Laut serta diproses sesuai hukum yang berlaku.

Dankodaeral VIII menekankan bahwa peristiwa ini menjadi bahan evaluasi serius dalam pembinaan personel.




TNI AL berkomitmen untuk terus meningkatkan disiplin, profesionalisme, serta sikap humanis prajurit dalam melaksanakan tugas di tengah masyarakat.Situasi di Melonguane saat ini dilaporkan telah kembali kondusif. 

“Komandan Lanal Melonguane telah menyerahkan bantuan pengobatan dan tali asih kepada korban. Selain itu, koordinasi dan mediasi juga telah dilaksanakan dengan Pemerintah Daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama setempat,” kata Dery Triesananto.

Dia mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud untuk tetap tenang dan bersama-sama menjaga keamanan serta ketertiban wilayah.

“Kami memastikan bahwa proses hukum akan dilaksanakan secara transparan dan profesional,” tegasnya. 

Warga Talaud Gelar Aksi Dem

Sejumlah tokoh adat di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menuntut proses hukum terhadap kasus dugaan penganiayaan warga oleh oknum anggota TNI Angkatan Laut di Pelabuhan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Mereka mendesak pimpinan TNI untuk bertindak tegas terhadap prajurit Pangkalan TNI AL (Lanal) Melonguane yang diduga terlibat dalam insiden tersebut. 

Pada Jumat (23/1/2026) siang, ratusan massa menggelar aksi unjuk rasa dengan berjalan kaki dari Monumen Yesus Raja Memberkati menuju Markas Komando Lanal Melonguane di Desa Mala Timur.

Aksi ini dipimpin oleh tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat sebagai bentuk protes atas tindakan kekerasan yang dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat di wilayah perbatasan utara Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Dalam orasi yang disampaikan, massa mengecam praktik kekerasan dan main hakim sendiri yang diduga dilakukan aparat. Mereka mendesak Komandan Lanal Melonguane untuk menindak tegas anggotanya yang terlibat, karena tindakan tersebut dinilai tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap institusi TNI.

Dalam aksinya, mereka menyampaikan tiga tuntutan utama yang disampaikan di markas Komando Lanal Melonguane sebagai berikut:

Pertama, meminta Presiden RI Prabowo Subianto agar memerintahkan penindakan tegas terhadap oknum TNI AL pelaku penganiayaan.

Kedua, mendesak pencopotan Komandan Lanal Melonguane apabila penanganan kasus tidak dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam.

Ketiga, meminta Kapal Angkatan Laut (KAL) Pulau Karakelang dipindahkan dari Pelabuhan Melonguane. 

Wakil Bupati Kepulauan Talaud, Anisya Gretsya Bambungan, yang hadir di tengah massa, mengimbau masyarakat agar tetap menjaga ketertiban dan keamanan selama proses hukum berjalan.

“Kami memahami perasaan keluarga korban yang mengalami luka fisik dan batin. Namun saya mengajak masyarakat untuk tetap kondusif dan tidak melakukan tindakan yang justru menimbulkan persoalan baru. Pemerintah daerah akan mendampingi dan mengawal kasus ini hingga tuntas,” ujar Anisya.

Ia juga memastikan akan menyampaikan secara langsung seluruh tuntutan keluarga korban kepada Komandan Lanal Melonguane.

Usai menyampaikan aspirasi di Mako Lanal yang sempat terjadi kericuhan,  massa melanjutkan aksi menuju Pelabuhan Laut Melonguane. Di lokasi tersebut, massa sempat melepas tali sandar KAL Pulau Karakelang sebagai bentuk protes simbolik atas peristiwa yang terjadi.

***

Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com