Cara Sanggar Seni Abo Tadohe merawat budaya Mongondow di tengah tantangan Gen Z

Selama kurang lebih lima tahun perjalanannya, Sanggar Seni Abo Tadohe aktif berkolaborasi dan menorehkan sejumlah capaian.
budaya
(Foto: Koleksi Sanggar Seni Abo Tadohe)
budaya

zonaX

Cara Sanggar Seni Abo Tadohe merawat budaya Mongondow di tengah tantangan Gen Z

Selama kurang lebih lima tahun perjalanannya, Sanggar Seni Abo Tadohe aktif berkolaborasi dan menorehkan sejumlah capaian.

ZONAUTARA.com – Di tengah derasnya arus modernisasi dan minimnya perhatian generasi muda terhadap tradisi lokal, sekelompok pemuda di Bolaang Mongondow Timur memilih jalur yang sunyi namun bermakna: merawat budaya lewat seni. Dari kegelisahan itulah Sanggar Seni Abo Tadohe lahir dan tumbuh sebagai ruang kreatif sekaligus ruang belajar budaya bagi generasi muda.

Sanggar Seni Abo Tadohe resmi dibentuk pada 22 Januari 2021. Inka Erlandia Tokolang, salah satu pengurus sanggar, menceritakan bahwa sanggar ini berawal dari perbincangan santai tiga orang, yakni Arthur Mokoagow, Herindra C. Mamonto, dan Ika Ayu Putri Lomban. Dari obrolan sederhana tersebut muncul gagasan untuk membangun sebuah ruang seni yang bukan hanya menjadi wadah ekspresi, tetapi juga sarana pelestarian adat dan budaya Mongondow.

Gagasan itu kemudian ditindaklanjuti oleh Arthur dengan mengajak sejumlah pemuda dan remaja di sekitar lokasi sekretariat sanggar saat ini. Mereka di antaranya Cecen, Wendri, Jojo, Hermawan, Gafar, dan Eko. Dengan sembilan orang awal inilah, Sanggar Seni Abo Tadohe mulai dirancang secara lebih serius.

Tahap awal yang cukup panjang adalah penentuan nama. Proses ini tidak berlangsung instan. Sejumlah nama sempat diusulkan, seperti Rintis, Taraki, Patung Bulawan, hingga Mokodoludut, nama Punu (raja) pertama Kerajaan Bolaang Mongondow. Setiap usulan lahir dari keinginan yang sama: menghadirkan identitas sanggar yang memiliki keterikatan kuat dengan sejarah dan nilai budaya Mongondow.

Nama Mokodoludut bahkan sempat diputuskan. Namun sebelum disahkan, diskusi mendalam kembali dilakukan. Dari proses tersebut, Ayu mengusulkan nama Sanggar Seni Abo Tadohe. Nama ini merujuk pada Tadohe, salah satu Punu di tanah Bolaang Mongondow yang dikukuhkan di Tudu In Bakid. Kisah perjalanan Tadohe dari Timur Totabuan yang dimulai dari Togid, lokasi sekretariat sanggar saat ini, semakin menguatkan alasan penggunaan nama tersebut.




Akhirnya, nama Sanggar Seni Abo Tadohe disahkan dalam musyawarah pertama sanggar pada 22 Februari 2021. Dalam forum yang sama, ditetapkan pula struktur kepengurusan awal, yakni Musli Mamonto sebagai Ketua, Wendri Mamonto sebagai Sekretaris, dan Bowo Agow sebagai Bendahara.

Pada masa kepengurusan Musli Mamonto, Sanggar Seni Abo Tadohe membentuk lima divisi utama: Seni Rupa, Musik, Tari, Teater, serta Olahraga dan Permainan. Selain itu, sanggar ini juga menghadirkan struktur Dewan Adat yang diisi oleh Chris dan Ayu sebagai pembina, serta Pemangku Adat yang dijabat oleh Deysri dan Pita. Kehadiran struktur adat ini menjadi ciri khas sanggar, memastikan setiap aktivitas seni tetap berpijak pada nilai tradisi Mongondow.

budaya
(Foto: Koleksi Sanggar Seni Abo Tadohe)

Apresiasi

Selama kurang lebih lima tahun perjalanannya, Sanggar Seni Abo Tadohe aktif berkolaborasi dan menorehkan sejumlah capaian. Mereka pernah bekerja sama dengan Monibi Institute dalam pementasan teater bertema wintu-wintu, terlibat dalam produksi Birman The Movie oleh TVRI, hingga ambil bagian dalam salah satu adegan video klip lagu “Moraoi” dari grup band Braga. Pada Kabela Fest 2025, sanggar ini juga turut memeriahkan rangkaian kegiatan festival.

Namun bagi para pengurus, pengalaman paling berkesan justru hadir dari momen-momen sederhana: ketika anggota baru, terutama anak-anak dan remaja, mulai bergabung. Inka menyebut, kehadiran mereka menjadi bukti bahwa sanggar ini secara tidak langsung telah memperkenalkan kembali adat dan budaya Mongondow kepada generasi muda. Dukungan para orang tua yang mendorong anak-anaknya untuk ikut berkegiatan di sanggar semakin memperkuat peran Abo Tadohe sebagai ruang edukasi budaya sejak dini.

Pencapaian lain diraih melalui kolaborasi dengan PKK Moyongkota Baru pada tahun 2025 dalam lomba PKK tingkat Provinsi, yang berhasil meraih juara satu kategori Paredi. Sanggar ini juga bekerja sama dengan Motobatu Project dalam lomba video kreatif Kotamobagu yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kotamobagu dan kembali meraih juara pertama.

Di balik capaian tersebut, tantangan tetap hadir. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi dan semangat anak-anak sanggar di tengah perkembangan zaman dan derasnya budaya digital. Menurut para pengurus, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menyatukan adat dan budaya dengan teknologi agar tetap relevan bagi Generasi Z.

Apresiasi terhadap konsistensi Sanggar Seni Abo Tadohe datang dari berbagai pihak, salah satunya Sangadi Inaton, Saipul Amrin. Ia menyampaikan dukungan terbuka terhadap peran sanggar dalam merawat tradisi kebudayaan Mongondow.

“Saya memang bukan budayawan, tapi saya terus belajar tentang sejarah dan kebudayaan. Saya juga banyak berdiskusi dengan teman-teman budayawan,” ujar Saipul.

Menurut Saipul, dari banyak komunitas yang ia temui selama berdiskusi dan berkeliling di Bolaang Mongondow Raya, Sanggar Seni Abo Tadohe memiliki keunikan tersendiri. “Di tengah satu wilayah yang luas, sanggar ini benar-benar serius mengembangkan tradisi kebudayaan,” katanya.

Ia juga menyoroti pengembangan Tarian Tuitan yang dinilainya sarat makna filosofis dan historis.

“Ada satu tarian yang belakangan ini mereka kembangkan, yaitu Tarian Tuitan. Tarian ini, kalau diberi nyawa, dia adalah saksi hidup perjalanan orang Bolaang Mongondow. Tarian ini menyaksikan kehebatan Loloda Mokoagow, bagaimana Belanda menguasai Bolaang Mongondow, sampai bagaimana Kerajaan Bolaang Mongondow akhirnya hilang dan digantikan oleh Republik Indonesia,” jelasnya.

budaya
(Foto: Koleksi Sanggar Seni Abo Tadohe)

Apresiasi serupa datang dari Patra Mokoginta, penggiat sejarah dari Monibi Institute sekaligus penulis buku Mukadimah Celebes Utara. Ia mengaku kagum dengan proses kaderisasi budaya yang dilakukan Sanggar Seni Abo Tadohe.

“Saya hadir karena diundang. Tapi kalaupun tidak diundang, saya pasti tetap datang, karena saya sangat kagum dengan Sanggar Budaya Abo Tadohe,” ujarnya, saat menghadiri Pentas Seni Lima Tahun Sanggar Seni Abo Tadohe, Sabtu (24/1/2026).

“Dari video yang saya lihat, banyak anak-anak usia SD sudah dilibatkan. Ini kaderisasi yang sangat luar biasa dan jarang kita temukan,” tambahnya.

Pandangan menarik juga disampaikan pustakawan lokal Supri Gantu. Menurutnya, arsip budaya tidak selalu berbentuk tulisan.

“Tubuh itu arsip. Sanggar Seni Abo Tadohe adalah arsip yang ditampilkan lewat tari dan nyanyian. Hari ini kita apresiasi Sanggar Seni Abo Tadohe karena sudah merawat luka itu, supaya kita tidak lupa.” kata Supri.

Apresiasi masyarakat pun terasa dalam setiap pementasan Sanggar. Elga, warga asal Upai, yang juga hadir saat Pentas Seni Lima Tahun Sanggar Seni Abo Tadohe. Ia mengaku hanyut oleh aransemen musik, monolog, dan pesan yang disampaikan.

“Merupakan hal yang patut diberikan apresiasi, kekompakan juga sangat nampak dari kerja sama sanggar yang dapat kita lihat malam ini,” ujarnya.

budaya
(Foto: Koleksi Sanggar Seni Abo Tadohe)

Hal serupa diungkapkan Refina Dilasani dari Pobundayan. Menurutnya, pementasan teater Abo Tadohe tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi.

“Mulai dari alur cerita, penghayatan para pemain, hingga pesan yang disampaikan, semuanya terasa kuat dan menyentuh,” katanya.

Bagi seniman asal Bolaang Mongondow Timur Jamal Iroth, kehadiran Sanggar Seni Abo Tadohe menjadi penyejuk di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial dan dinamika politik.

“Padahal mereka terus berjuang menghadirkan kedamaian dengan menjaga nilai-nilai luhur peradaban,” ujar Jamal.

Merekah seperti mentari pagi, langkah Sanggar Seni Abo Tadohe mungkin tidak selalu riuh, tetapi konsisten. Di tengah minimnya kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal, mereka memilih seni sebagai jalan untuk mengingatkan, menghubungkan, dan menumbuhkan kembali rasa memiliki.

Sebuah upaya kecil yang pelan-pelan menjaga agar budaya Mongondow tidak terputus di generasi hari ini.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com