ZONAUTARA.com – Malam itu Rabu (24/12/2025), sebuah mobil pikcup Grandmax hitam dengan nomor polisi DB 203 GE melaju dari arah Gorontalo. Tujuannya ke arah Manado, dan akan menuju ke Pasar Beriman Tomohon. Tepat di depan SDN 1 Pinogaluman pick up itu diberhentikan. Di situ ada pos penjagaan, tempat para petugas gabungan dari BKSDA Sulawesi Utara, GAKKUM Manado, Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, Wildlife Conservation Society Indonesian Programme dan Polres Bolaang Mongondow, menggelar Patroli Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar bersiaga.
Titik operasi patroli di pusatkan di Desa Pinogaluman, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
“Kiri pak, kami saat ini sedang melakukan operasi dan mohon kerjasamanya,” ucap petugas dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Sulawesi Seksi Wilayah III Manado atau GAKKUM Manado.
“Mobil ini isinya hanya 80 ekor anjing pak, ini hanya titipan,” sanggah sopir berinisial DK kepada petugas gabungan.
“Silahkan turun dan dibantu pemeriksaannya,” tanggap petugas lainnya dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara.
Namun dengan penuh percaya diri sang sopir meraih ponsel dan menelepon seseorang. Ia terdengar bercerita dengan seseorang. Sementara satu persatu coolbox atau tempat penyimpanan berisi es di bagian belakang pick up tersebut diturunkan oleh petugas.
Saat coolbox dibuka terlihat beberapa jenis daging satwa yang sudah mulai beku, seperti kelelawar, kus-kus, ular piton, babi hutan tikus bahkan kucing. Tidak ketinggalan anjing baik yang sudah mati maupun yang masih hidup.
Aroma busuk, amis darah, dan bangkai bercampur menyeruak ke udara. Menusuk hidung siapapun yang ikut patroli malam itu, meninggalkan rasa mual yang tak berkesudahan selama beberapa hari bagi beberapa orang yang benar-benar asing dengan aroma tersebut.

Tak lama dari itu, muncul seorang lelaki dengan seragam loreng, sepatu PDL dan postur tubuh tegak. Ia bersama isterinya. Kepada petugas mereka mengakui bahwa stok pasokan daging satwa itu milik mereka, dan berusaha mengajak petugas dari GAKKUM bernegosiasi.
Namun petugas tak bergeming, identitas sopir berupa KTP dan STNK diamankan. Malam itu juga ia bersama barang buktinya digiring ke kantor GAKKUM di Manado untuk proses lebih lanjut. Dia dituduh membawa satwa liar yang dilindungi (kus kus) serta daging satwa lainnya tanpa dokumen lengkap.
Beberapa pekan kemudian pada Minggu (18/1/2025) Zonautara.com mendatangi Tomohon. Tujuan utama adalah Pasar Beriman, pasar tradisional yang menyediakan bagian penjualan berbagai daging satwa seperti yang diangkut oleh sopir DK yang terjaring operasi menjelang Natal di 2025 itu. Meski pagi itu pasar yang terkenal ini tidak seramai dari hari-hari biasanya, namun pasar masih tetap padat orang yang datang berbelanja, termasuk kebutuhan daging.
Dari lapak buah dan sayuran, terdengar suara aktivitas memotong daging. Bunyi khas pisau yang bertemu talenan kayu, buk buk buk menemani aroma amis darah yang menyeruak ke udara sekeliling. Bau itu datang dari darah-darah berbagai satwa dan hewan yang diolah di situ yang nyaris tak dibersihkan dari aktivitas sebelumnya. Berhari-hari bercampur di satu meja, menjadi becek dan mengalir hingga ke lantai.
Terlihat pemandangan yang asing bagi orang di luar Minahasa, berbagai jenis daging berwarna merah kehitam-hitaman digantung begitu saja, termasuk kelelawar, yang sayapnya ikut direntangkan. Aromanya melebihi aroma ketika Zonautara.com mengikuti patroli pada 24 Desember 2025.
Namun inilah pemandangan yang ditemui setiap saat di bagian penjualan daging Pasar Beriman Tomohon, yang dijuluki sebagai pasar ekstrim. Pasar yang telah lama menjadi simpul perdagangan satwa liar di Sulawesi Utara, yang bertautan dengan isu konservasi, kesehatan publik, dan perubahan iklim.

Beberapa laporan mendalam Zonautara.com mencatat tren yang tak surut, penjualan kelelawar justru menunjukkan lonjakan pasokan lintas provinsi dalam beberapa tahun terakhir. Meski patroli rutin digelar, spanduk larangan dipasang, namun pengangkut dengan mobil boks mereka terus datang memasok.
Dari Sulawesi Tengah, Gorontalo, satwa-satwa itu mengalir ke Tomohon dan Minahasa. Perdagangan ini bukan sekadar aktivitas ilegal atau hukum yang kabur, tetapi juga menjadi fenomena sosial, ekologi dengan konsekuensi nyata bagi kesehatan publik dan krisis iklim.
Di era ketika dunia mulai memahami pandemi sebagai gejala relasi manusia dengan alam yang timpang, pasar-pasar ini menjadi contoh yang terbuka untuk mempelajari hal ini. Konsep One Health, melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan bertemu dengan krisis iklim.
Dalam banyak literatur, perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran konservasi, melainkan soal bagaimana perubahan iklim mempercepat kerentanan ekologi, dan bagaimana kerentanan itu kembali menghantam manusia melalui penyakit zoonotik.

Kelelawar dan ancaman zoonosis
Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan, menjelaskan bahwa jenis kelelawar yang paling sering diperdagangkan adalah kelelawar buah hitam (Pteropus alecto) yang saat ini berstatus least concern (LC) atau berisiko rendah berdasarkan status konservasi. Meskipun demikian, aktivitas perdagangan tetap berpotensi menimbulkan keterancaman kepunahan, mengganggu keseimbangan ekosistem, serta meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis.
Akademisi Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado dari Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Ir. Martina Langi, M.Sc.,Ph.D mengungkapkan bahwa perdagangan satwa sering memperkuat risiko zoonosis karena mengumpulkan banyak spesies dalam kondisi stres dan kepadatan tinggi, memperbanyak titik kontak manusia dengan darah atau cairan tubuh, dan memfasilitasi lompatan lintas spesies.
Menurutnya, kemunculan zoonosis biasanya multifaktor seperti perubahan tata guna lahan, deforestasi, intensifikasi peternakan, dan urbanisasi. Semua itu memperluas interaksi manusia dengan satwa.
“Dapat menjadi sama penting dan genting tergantung konteks patogen dan lokasi,” jelasnya, Kamis (15/1/2026).
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa kelelawar memiliki kemampuan toleransi yang tinggi terhadap berbagai virus. Hal ini disebabkan oleh sistem imun bawaan yang sangat efektif, namun dengan respons inflamasi yang relatif terkontrol, sehingga virus dapat bertahan di dalam tubuh kelelawar tanpa menyebabkan kematian pada inangnya.
Rantai perdagangan kelelawar di Sulawesi Utara bekerja seperti sistem peredaran darah yang terbuka. Di hulu, pemburu menyasar gua, hutan sekunder, dan kebun-kebun buah di luar provinsi. Kelelawar ditangkap menggunakan jaring atau dipukul saat bergelantungan di pohon. Banyak yang berasal dari wilayah dengan pengawasan lemah, terutama daerah-daerah yang terdampak deforestasi dan perubahan iklim.
Dari sana, bangkai atau kelelawar hidup dimasukkan ke karung dan boks pendingin seadanya, diangkut melalui jalur Trans-Sulawesi. Pengawasan sering kali minim bahkan nyaris nihil. Satwa liar kerap lolos sebagai “barang konsumsi”. Pengangkut memainkan peran kunci, menjadi penghubung antara pemburu di berbagai daerah di pulau Sulawesi dengan penampung dan pedagang lokal di Minahasa dan Tomohon.
“Kalau dokumen ditanya, kami bilang ini untuk konsumsi lokal. Biasanya lolos. Semua orang tahu jalurnya,” jelas salah satu transporter dikutip dari liputan investigasi Zonautara.com saat meliput aktivitas penangkapan dan perdagangan satwa liar lintas provinsi di Sulawesi yang terbit pada Desember 2024.
Sementara di Tomohon penampung menyortir dan mendistribusikan ke pedagang di pasar-pasar. Daging yang tiba sering kali dalam kondisi tanpa pendingin memadai. Beberapa masih segar, sebagian mulai membusuk. Pedagang mengaku permintaan tetap stabil, bahkan meningkat pada momen perayaan keagamaan dan hajatan adat. Angka pastinya sulit diverifikasi, namun estimasi lapangan menunjukkan ratusan hingga ribuan ekor kelelawar dapat masuk ke dua pasar ini setiap pekan pada musim ramai.

Dari riset yang dilakukan Sheherazade, Susan M. Tsang (Quantifying the Bat Bushmeat Trade in North Sulawesi, Indonesia, with Suggestions for Conservation action), menyebut konsumsi kelelawar yang intens di Sulut, telah meningkatkan perburuan dan ancaman terhadap kepunahan, yang bukan hanya terjadi di Sulut tetapi dapat menyebar ke daerah lain.
Sulut menjadi area dengan pasar daging satwa liar terbesar di kawasan Asia Tenggara (Lee. 2005 dalam hasil riset yang dilakukan Liana dan Witno, yang diterbitkan di Jurnal Penelitian Kehutanan Bonita, Vol. 3 No 1 tahun 2021).
Riset Liana dkk pada 2019 menyebut sebanyak 569.515 ekor kelelawar atau setara 189 ton di Sulut berakhir di meja makan saban tahun. Tapi angka yang lebih besar dihasilkan dari riset Sheherazade. Setidaknya setiap tahun sekitar 500 ton kelelawar didatangkan dari luar Sulut untuk memasok 8 pasar utama yang tersebar di berbagai kabupaten di Sulut. Itu setara 1,4 juta ekor kelelawar harus terpisah dari koloni mereka di alam. Pasokan terbesar datang dari Sulawesi Selatan sebesar 38%.
Roy salah satu Pedagang daging di Pasar Tomohon, mengakui bahwa pasokan kelelawar saat ini tidak lagi dari Sulawesi Utara. “Saat ini pasokan kelelawar sudah tidak lagi berasal dari Sulawesi Utara. Kebanyakan didatangkan dari daerah lain seperti Gorontalo dan Sulawesi Tengah,” ujarnya kepada Zonautara.com.
Sementara pedagang lainnya, Stanley mengatakan bahwa pasokan kadangkala datang dari daerah lain “Jika stok di Sulawesi terbatas, pasokan kelelawar terkadang juga datang dari Kalimantan,” ungkap Stanley.
Mata rantai ini menambah jarak antara satwa dan habitatnya, sekaligus memperpendek jarak antara patogen dan manusia.

Dikutip dari riset yang dilakukan oleh John S Mackenzei dkk, dalam artikel The Role of Bats as Reservoir Host of Emerging Neuroviruses yang terbit di PubMed Central pada 2016, secara ilmiah, kelelawar adalah reservoir alami bagi berbagai patogen zoonotik. Sistem imun mereka memungkinkan virus bertahan tanpa menyebabkan penyakit berat pada inangnya.
Masalah muncul ketika virus itu mendapat “kendaraan” baru yakni manusia atau hewan domestik melalui kontak langsung. Pasar basah, dengan sanitasi buruk, kepadatan manusia, dan campuran banyak spesies, seperti Pasar Beriman Tomohon adalah titik perantara yang ideal.
Literatur ilmiah yang terbut di OneHealth Volume 19 Desember 2024 dengan judul How studies on zoonotic risks in wildlife implement the one health approach – A systematic review yang terbit pada Desember 2024, menegaskan bahwa perdagangan satwa liar meningkatkan peluang spillover melalui luka terbuka, cairan tubuh, dan aerosol saat pemotongan.
Studi-studi regional yang dikutip dari Ekuatorial yang tebit pada 4 Maret 2022 (Ancaman zoonosis dalam perdagangan hewan liar di Sulawesi Utara), menunjukkan bahwa di Sulawesi Utara, risiko transmisi meningkat karena praktik pemrosesan daging di ruang terbuka, tanpa alat pelindung, dan minim pengawasan veteriner. Dalam konteks masyarakat Tomohon dan Minahasa, pasar menjadi ruang di mana manusia, satwa liar, dan hewan ternak bertemu tanpa sekat.
Liputan ini didukung oleh Fellowship LaporIklim x PIKUL

