ZONAUTARA.com– Perayaan Cap Go Meh 2577 di Kota Manado berlangsung meriah dan khidmat pada Selasa (3/3/2026). Tradisi yang dikenal juga sebagai Guan Xiao atau oleh warga Tri Dharma disebut Pasiar Toa Pe Kong ini menjadi puncak rangkaian Tahun Baru Imlek dan diikuti ribuan masyarakat yang memadati ruas jalan pusat kota.
Cap Go Meh dirayakan setiap hari ke-15 bulan pertama dalam kalender Imlek. Pada tahun 2026, perayaan tersebut bertepatan dengan Tahun Kuda Api. Bagi umat Tri Dharma, momentum ini dimaknai sebagai ungkapan syukur, doa keselamatan, serta harapan akan keberkahan di tahun yang baru.
Sebanyak sembilan klenteng di Manado turut ambil bagian dalam prosesi, yakni Klenteng Ban Hin Kiong, Klenteng Kwan Kong, Klenteng Seng Kong Bio, Klenteng Hok Tek Cin Sin, Klenteng Istana Agung Tua Rike, Klenteng Hian Tian Siang Tee Buha, Klenteng Thian Tan Kiong Altar Agung, Klenteng Tiong Tan Lie Goan Swee Liwas, dan Klenteng Lo Tjia Miao Kombos. Dari sembilan tempat ibadah tersebut, diarak 14 usungan Kio (tandu dewa) dan 10 Tangsin atau Tatung yang menampilkan ritual spiritual sepanjang rute arak-arakan.
Prosesi Guan Xiao memadukan unsur ritual dan non-ritual. Pada barisan non-ritual, tampil tarian Cakalele, Paskibraka, BKSAUA, serta musik bambu. Sementara barisan ritual menampilkan barongsai, liang naga, kuda Lo Cia, barisan umat Tri Dharma, serta para Tangsin yang melakukan atraksi sebagai bentuk pengabdian spiritual dan doa keselamatan bagi masyarakat luas.
Ketua Komisariat Daerah Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Sulawesi Utara, Ferry Sondakh, menjelaskan bahwa perayaan tersebut didasarkan pada ajaran Tri Dharma tentang pemulihan keselarasan alam dan kehidupan.
“Tujuan spiritualnya untuk membebaskan manusia dan lingkungan dari kemalangan, kesedihan, dan penderitaan, serta membangun tatanan dunia baru yang aman, subur, dan makmur,” ujarnya.
Ia menambahkan, tema perayaan tahun ini adalah “Harmoni Guan Xiao Nusantara, Membingkai Keragaman dalam Mewujudkan Indonesia Tangguh.” Perayaan juga bertepatan dengan momentum keagamaan lain, yakni Bulan Suci Ramadan bagi umat Muslim dan masa Prapaskah bagi umat Kristiani, sehingga diharapkan semakin mempererat toleransi antarumat beragama.
Menurut panitia, kegiatan berlangsung lancar berkat dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Manado, serta aparat TNI dan Polri yang menjaga keamanan selama acara berlangsung. Pihak panitia turut menyampaikan permohonan maaf apabila kegiatan tersebut sempat mengganggu aktivitas masyarakat.
Selain sebagai agenda keagamaan, Cap Go Meh di Manado telah menjadi ikon budaya dan daya tarik pariwisata di Sulawesi Utara. Tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun ini dinilai sebagai simbol kerukunan dan kekayaan budaya daerah yang terus dijaga dan dilestarikan.


