ZONAUTARA.com– Langit di atas Kota Kotamobagu belum sepenuhnya gelap ketika suara adzan Magrib menggema dari berbagai masjid. Di sudut-sudut jalan, lampu warung mulai menyala, sementara aroma gorengan dan makanan berbuka puasa perlahan memenuhi udara.
Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh berkah bagi banyak orang, termasuk para pedagang kecil yang berharap rezeki meningkat. Namun bagi sebagian warga, Ramadan tahun ini terasa berbeda.
Beberapa pelaku usaha kecil mengaku mengalami penurunan penghasilan. Harga bahan baku yang naik, daya beli masyarakat yang menurun, hingga berkurangnya aktivitas hiburan menjadi cerita mereka yang mencoba bertahan di Kotamobagu. Mulai dari musisi yang kehilangan panggung, hingga penjual bakso tusuk yang berjualan hingga dini hari.
Fenomena ini tidak hanya dikeluhkan secara personal oleh para pelaku usaha kecil. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah laporan ekonomi daerah di Sulawesi Utara juga menunjukkan dinamika yang tidak sepenuhnya stabil di tingkat ekonomi rumah tangga.
Secara umum, perekonomian Sulawesi Utara masih tumbuh, namun tekanan harga pangan dan perubahan pola konsumsi masyarakat membuat sebagian pelaku usaha kecil merasakan dampaknya lebih cepat dibanding sektor lain. Kondisi seperti ini kerap terlihat di kota-kota menengah seperti Kotamobagu, di mana aktivitas ekonomi sehari-hari sangat bergantung pada perputaran uang di pasar tradisional, usaha kecil, serta kegiatan hiburan lokal.
Terasa sepi
Panggung musik yang semakin sepi turut dirasakan Agung Gusti(32) salah satu musisi asal Pobundayan, yang cukup aktif tampil di beberapa coffe shop di Kotamobagu. Bagi Agung Gusti, Ramadan biasanya membawa dua sisi kehidupan. Di satu sisi, suasana religius membuat aktivitas hiburan berkurang. Namun di sisi lain, sejumlah kafe dan tempat nongkrong masih tetap menghadirkan musik akustik yang menjadi sumber penghasilannya.
Menurutnya, Ramadan memang selalu membawa perubahan ritme bagi musisi kafe. Namun tahun ini terasa sedikit berbeda.
“Kalau bagi saya pribadi tidak terlalu signifikan, karena masih ada beberapa coffee shop yang tetap menyediakan musik,” ujarnya saat ditemui Zonautara Kamis (5/3/2026).
Ia mencontohkan Rivs Coffe Shop yang masih memberi ruang bagi musisi untuk tampil.
Meski begitu, Agung mengakui dampak sebenarnya justru dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang bergerak di sektor event atau penyedia jasa hiburan. Ketika acara berkurang, otomatis kesempatan tampil bagi musisi juga ikut berkurang.
“Yang lebih terasa itu kalau tidak ada event. Biasanya ada beberapa kegiatan yang mengundang musisi,” katanya.
Baginya, situasi yang terjadi saat ini bukan hanya soal Ramadan. Ia melihat ada kondisi yang lebih luas yang mempengaruhi pergerakan ekonomi masyarakat. Ia menggambarkan situasi yang menurutnya cukup memprihatinkan, terutama dari usaha kecil di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
“Kalau saya lihat dari lingkungan sendiri, situasi sekarang cukup memprihatinkan,” katanya.
Agung menilai berbagai kebijakan yang ada juga turut mempengaruhi kondisi tersebut, khususnya di wilayah Kotamobagu. Meski begitu, sebagai musisi ia tetap berusaha menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Bagi Agung, panggung kecil di coffee shop tetap menjadi ruang untuk bertahan.
“Saya masih beberapa kali tampil, tetapi saya melihat situasi ini kompleks dan berkaitan denganIndonesia hari ini,” katanya.
Cerita Agung menggambarkan bagaimana perubahan kecil dalam aktivitas hiburan dapat mempengaruhi rantai ekonomi yang lebih luas. Di kota seperti Kotamobagu, kegiatan kafe, event komunitas, hingga hiburan lokal bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi juga sumber penghasilan bagi banyak orang, mulai dari musisi, pekerja event, hingga pelaku usaha makanan dan minuman.

Dagangan yang tertahan
Beberapa kilometer dari tempat Agung biasa tampil, aktivitas berbeda terlihat di Pasar 23 Maret. Di antara deretan lapak sayur, Tirsa Rorong (37) sibuk menata wortel-wortel segar di atas meja jualannya. Sebagian masih utuh, sementara sebagian lainnya sudah diparut dan dimasukkan ke dalam plastik kecil. Menurut Tirsa, dagangannya kini jauh lebih sulit terjual dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, yang laku berkurang sekitar 50 persen,” ungkapnya.
Penurunan itu ia rasakan sejak beberapa waktu terakhir, termasuk di bulan Ramadan. Ia tidak tidak tahu persis apa penyebab utamanya.
“Saya tidak tahu pastinya apakah karena efisiensi atau situasi kondisi sekarang. Yang jelas teras pembeli menurun,” tuturnya.
Agar wortel tidak busuk, ia mencari cara lain agar tetap terjual. Salah satunya dengan memarut wortel lebih dulu sebelum dijual.
“Ini cara untuk bertahan, saya jual yang sudah diparut,” ucapnya lagi.
Dengan cara itu, ia berharap pembeli yang ingin memasak bisa langsung menggunakannya tanpa harus repot mengolah lagi. Tirsa yang berasal dari Amurang dan berjualan di pasar bersama suaminya merasakan betul perputaran ekonomi yang melambat.
“Saya dan suami sangat merasakan sulitnya perputaran ekonomi saat ini,” tambahnya.
Cerita Tirsa juga mencerminkan kondisi yang sering dialami pedagang pasar tradisional ketika harga bahan pangan berfluktuasi. Di banyak daerah di Sulawesi Utara, kenaikan harga komoditas seperti cabai, bawang, dan kacang tanah kerap terjadi menjelang Ramadan karena permintaan meningkat. Ketika harga naik sementara pengeluaran rumah tangga tidak bertambah, masyarakat cenderung mengurangi jumlah belanja. Akibatnya, pedagang kecil di pasar tradisional sering menjadi pihak pertama yang merasakan perubahan daya beli tersebut.

Cerita serupa datang dari Imam Bukhori (39), pedagang bakso tusuk asal Gogagoman. Setiap malam Ramadan, ia biasanya berjualan setelah salat tarawih. Gerobak motor sederhana miliknya menjadi tempat ia menggantungkan harapan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Namun tahun ini, Imam merasakan perubahan. Selain pembeli yang berkurang, harga bahan baku juga ikut naik. Salah satu yang paling terasa adalah bahan untuk membuat saus kacang.
“Kacang tanah sekarang ikut naik,” keluhnya, saat ditemui Zonautara Kamis (5/3/2026) di Lapangan Pobundayan.
Menurutnya, Selain kacang tanah, harga cabai rawit juga sering melonjak, terutama saat Ramadan.
“Kalau bukan kacang tanah, pasti cabe, apalagi kalau Ramadanbegini,” ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat tidak selalu mengikuti. Akibatnya, keuntungan yang didapat pun semakin menipis. Imam mengatakan, pada hari-hari biasa sebelumnya ia bisa menjual hingga sekitar 1.000 tusuk bakso dalam satu malam, namun sekarang jumlah itu menurun.
“Sekarang paling sekitar 600 sampai 700 tusuk,” ucapnya.
Ia juga menuturkan seringkali membutuhkan waktu lebih lama agar dagangannya habis dan harus berjualan hingga larut malam, bahkan sampai pukul satu atau dua dini hari.

Dinamika
Ramadan selama ini identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi di banyak tempat. Pasar biasanya lebih ramai, pedagang makanan bermunculan termasuk dengan para penjual takjil dan berbagai kegiatan sosial serta hiburan ikut menggerakkan perputaran uang di masyarakat. Namun pengalaman sejumlah warga di Kotamobagu menunjukkan bahwa dinamika ekonomi tidak selalu berjalan sama setiap tahun.
Sejumlah pengamat ekonomi daerah menilai perubahan yang dirasakan pedagang kecil sering kali berkaitan dengan tekanan pada pengeluaran rumah tangga. Ketika harga kebutuhan pokok naik atau biaya hidup meningkat, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Fenomena ini tidak hanya muncul di Kotamobagu. Di beberapa daerah lain di Indonesia, sejumlah pedagang pasar juga mengeluhkan penurunan pembeli menjelang Ramadan tahun ini. Namun di tingkat nasional, indikator ekonomi secara umum masih menunjukkan pertumbuhan, sehingga kondisi yang dirasakan masyarakat sering kali lebih terlihat pada skala ekonomi kecil atau lokal.
Di kota seperti Kotamobagu, di mana banyak warga bergantung pada usaha harian seperti berdagang di pasar, berjualan makanan, atau bekerja di sektor hiburan kecil, perubahan kecil dalam daya beli dapat langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Agung, Tirsa, dan Imam, Ramadan tahun ini tetap dijalani seperti biasa. Mereka tetap bekerja, membuka lapak, dan berharap pembeli datang. Di tengah berbagai dinamika ekonomi yang mereka rasakan, satu hal yang tetap sama: usaha untuk bertahan. Karena bagi mereka, setiap malam yang dilalui, setiap dagangan yang terjual, adalah bagian dari cara menjaga kehidupan tetap berjalan.

