ZONAUTARA.com – Lebaran selalu identik dengan kebersamaan, maaf-memaafkan, serta hidangan khas yang tersaji di setiap rumah. Dari berbagai jenis kue kering yang menghiasi meja tamu, nastar menjadi salah satu yang paling ikonik dan hampir tidak pernah absen.
Kue kecil berbentuk bulat dengan isi selai nenas ini seolah menjadi simbol kehangatan hari raya. Ia hadir di berbagai daerah, termasuk di berbagai wilayah Bolaang Mongondow Raya. Kue yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nisa Ramadhani Ayadi (25), salah satu warga asal Bolaang Monhondow Selatan, mengungkapkan bahwa nastar selalu menjadi kue favorit di rumahnya setiap Lebaran. Menurutnya, kehadiran nastar bukan hanya soal rasa, tetapi juga kenangan yang menyertainya.
“Setiap lebaran, nastar itu selalu jadi yang pertama habis di rumah. Rasanya lembut, manisnya pas, dan ada sedikit asam dari selai nanas yang bikin ketagihan. Bahkan sebelum tamu datang, biasanya kami sudah curi-curi makan duluan,” ujarnya saat dihubungi Zonautara, Senin (23/3/2026).
Senada dengan itu, Anisya Mokodongan warga asal Molinow ini juga menyampaikan bahwa nastar memiliki tempat khusus di keluarganya. Ia mengatakan bahwa ayahnya adalah penggemar berat kue tersebut.
“Di rumah, nastar itu wajib ada. Ayah saya sangat suka, jadi setiap tahun kami pasti membuat atau membeli dalam jumlah banyak. Menurut saya, kombinasi antara kulit kue yang lembut dan selai nanas yang legit itu tidak bisa tergantikan. Makanya, nastar selalu jadi kue yang paling ditunggu,” jelasnya saat ditemui Zonautara pada hari yang sama.
Tidak hanya di Bolaang Monggondow Selatan, tradisi menyajikan kua nastar ini juga terasa kuat di wilayah Genggulang, Kotamobagu. Rahma Rengkuan (47), warga setempat, menuturkan bahwa nastar sudah menjadi bagian dari identitas Lebaran di keluarganya. Ia bahkan masih mempertahankan kebiasaan membuat nastar sendiri di rumah bersama anggota keluarga lainnya.
“Kalau Lebaran tanpa nastar, rasanya seperti ada yang kurang. Dari kecil saya sudah terbiasa melihat ibu membuat nastar, dan sekarang saya melatih anak-anak untuk membuatnya. Proses membuatnya memang cukup panjang, tapi di situlah letak ujian sebenarnya. Kami biasanya membuatnya seminggu sebelum Lebaran,” ungkapnya.
Sementara itu, Listri Pandesia warga Moyag juga menilai bahwa nastar memiliki nilai lebih dibandingkan kue kering lainnya. Ia mengatakan bahwa selain rasanya yang khas, nastar juga memiliki daya tarik emosional.
“Nastar itu bukan cuma soal rasa, tapi juga soal momen. Biasanya kami membuatnya bersama-sama, dari menyiapkan bahan sampai memanggang. Itu jadi waktu berkualitas bersama keluarga. Jadi ketika dimakan saat Lebaran, rasanya beda, ada kenangan di dalamnya,” katanya.

Di balik kelezatan nastar, terdapat proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Listri menjelaskan secara rinci tahapan membuat nastar yang biasa ia lakukan bersama keluarganya.
“Pertama, tentu kita siapkan bahan-bahannya seperti tepung terigu, mentega atau margarin, gula halus, kuning telur, dan susu bubuk. Untuk isinya, kita gunakan nanas segar yang diparut lalu dimasak dengan gula hingga menjadi selai. Proses membuat selai ini cukup lama karena harus dimasak sampai kering agar tidak merusak tekstur kue,” jelasnya saat ditemui Zonautara, Selasa (24/3/2026).
Ia melanjutkan bahwa setelah selai siap, adonan kulit nastar dibuat dengan mencampurkan mentega dan gula hingga lembut, lalu ditambahkan kuning telur dan bahan kering secara bertahap.
“Adonan tidak boleh terlalu lembek atau terlalu keras. Setelah itu, kita ambil sedikit adonan, pipihkan, lalu isi dengan selai nanas dan dibentuk bulat. Ini bagian yang paling butuh ketelatenan, karena ukurannya harus seragam agar matang merata,” tambahnya.
Tahap berikutnya adalah memanggang. Nastar biasanya dipanggang dalam oven dengan suhu tertentu hingga setengah matang, lalu diolesi dengan campuran kuning telur untuk memberikan warna kuning keemasan yang menggoda. Setelah itu, kue dipanggang kembali hingga matang sempurna.
“Kalau sudah matang, aromanya itu harum sekali. Biasanya seluruh rumah jadi wangi. Itu yang membuat suasana puasa semakin terasa,” ujarnya.
Selalu jadi primadona
Di tengah banyaknya pilihan kue kering seperti kue rambutan dan spekulas, nastar tetap menjadi primadona. Ada beberapa alasan yang membuat kue ini begitu istimewa di hati masyarakat.
Nastar memiliki perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit asam dari selai nanas yang menciptakan keseimbangan rasa yang unik. Berbeda dengan kue rambutan yang cenderung didominasi rasa cokelat dan tekstur renyah di luar, atau spekulas yang memiliki cita rasa rempah yang kuat, nastar menawarkan rasa yang lebih universal dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan usia.
Nastar sudah lama menjadi bagian dari budaya Lebaran di Indonesia. Banyak keluarga yang menjadikan proses pembuatannya sebagai kegiatan rutin menjelang hari raya.
Listri menambahkan bahwa nastar memiliki daya tarik visual yang sederhana namun elegan.
“Bentuknya memang sederhana, bulat kecil dengan warna kuning keemasan, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Kadang juga dihias dengan keju, kismis, meses atau topping lain, jadi terlihat cantik di toples,” katanya.
Ia mengungkapkan kue rambutan dan spekulas memang memiliki penggemar tersendiri, namun keduanya belum mampu menyaingi popularitas nastar. Kue rambutan, yang biasanya dilapisi meses cokelat, lebih disukai oleh pecinta rasa manis yang kuat. Namun, bagi sebagian orang, rasa tersebut bisa terasa terlalu dominan.

Sementara itu, spekulas dikenal dengan aroma rempah seperti kayu manis dan pala. Kue ini memiliki cita rasa khas Eropa yang cukup unik, tetapi tidak semua orang terbiasa dengan rasa rempah yang kuat tersebut.
Anisya Mokodongan turut memberikan pandangannya terkait hal ini.
“Kalau dibandingkan, nastar itu lebih ‘aman’ rasanya. Semua orang suka, dari anak kecil sampai orang tua. Kalau kue rambutan atau spekulas, biasanya ada yang suka, ada juga yang kurang cocok. Tapi nastar hampir pasti disukai semua orang,” ujarnya.
Di tengah perubahan zaman dan munculnya berbagai jenis kue modern, nastar masih menjadi favorit sebagian orang sebagai simbol klasik Lebaran.

