ZONAUTARA.com – Penggunaan kosmetik telah ada sejak ribuan tahun silam, dimulai setidaknya 7.000 tahun lalu di peradaban kuno seperti Mesir. Orang Mesir Kuno, baik pria maupun wanita, menggunakan kosmetik bukan hanya untuk mempercantik diri, tapi juga untuk tujuan spiritual dan protektif. Kohl, campuran jelaga dan bahan lainnya, dipakai untuk melindungi mata dari sinar matahari sekaligus dipercaya mengusir roh jahat.
Penggunaan kosmetik juga ditemukan di wilayah Mesopotamia, seperti Sumeria dan Babilonia, yang memanfaatkan batu permata untuk menciptakan riasan. Selain fungsi estetika, kosmetik pada masa ini memiliki keterkaitan erat dengan status sosial dan ritual keagamaan. Semakin mahal bahan baku kosmetik, semakin tinggi pula status sosial penggunanya.
Di masa Yunani dan Romawi Kuno, kosmetik tetap dipertahankan dengan karakteristik unik. Perempuan Yunani, misalnya, menganggap kulit pucat sebagai simbol kemewahan dan menggunakan bedak timbal untuk mencapainya, meski sekarang diketahui berbahaya. Sementara itu, perempuan Romawi cenderung menyukai tampilan natural namun tetap menggunakan kosmetik untuk mempercantik wajah.
Memasuki Abad Pertengahan, penggunaan kosmetik berkurang akibat pengaruh gereja Kristen di Eropa yang menganggap riasan sebagai bentuk kesombongan atau dosa. Meskipun demikian, di wilayah kekuasaan Islam, penggunaan parfum dan perawatan tubuh tetap mengalami perkembangan.
Sejarah kosmetik menunjukkan bahwa kosmetik tidak hanya digunakan untuk mempercantik diri, tetapi juga memiliki berbagai fungsi lain yang penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat di berbagai peradaban kuno. Pemahaman akan kosmetik juga sangat dipengaruhi oleh nilai budaya dan agama di masing-masing tempat.
Diolah dari laporan Tirto.id.

