Capung dan Dampaknya Terhadap Ekologi Perairan

Peran capung dalam ekosistem sebagai predator nyamuk memiliki dampak penting terhadap ekologi perairan.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Capung memainkan peran penting dalam ekosistem agraris Indonesia, di mana serangga bersayap jala ini sering terlihat di persawahan dan aliran sungai yang jernih. Namun, kehadiran mereka kini semakin berkurang karena lingkungan hidupnya yang tergerus. Capung, yang merupakan predator utama larva nyamuk, berperan penting pada fase nimfa di air dan sebagai imago dewasa di udara dalam memangsa nyamuk. Kehadiran capung membantu mencegah lonjakan penyakit seperti DBD, malaria, dan chikungunya yang disebabkan oleh nyamuk.

Menurut klasifikasi ilmiah, capung berada di ordo Odonata dengan lebih dari 6.300 spesies yang terbagi menjadi dua subordo yakni Anisoptera dan Zygoptera. Anisoptera adalah capung besar dengan sayap belakang lebih lebar, sementara Zygoptera atau capung jarum ramping melipat sayap sejajar perut saat hinggap. Michael L. May dalam jurnalnya pada 2019 menyoroti perbedaan ini dari sisi fungsi ekologisnya, di mana Anisoptera lebih baik dalam penerbangan jarak jauh dan Zygoptera ahli bermanuver di celah sempit.

Keahlian capung diterjemahkan melalui sistem navigasi presisi yang dibantu oleh struktur sayapnya serta otot terbang asinkron. Riset “Extraordinary diversity of visual opsin genes in dragonflies” (2015) mengungkapkan mata majemuk capung yang terdiri dari puluhan ribu ommatidia memberi pandangan hampir 360 derajat dan memungkinkan deteksi spektrum dari ultraviolet hingga inframerah. Gen opsin yang lebih banyak dibanding manusia memberikan kemampuan visual yang superior.

Capung selama fase nimfa akuatik adalah predator yang efektif dengan senjata utama labium untuk menangkap mangsa. Nimfa capung berperan dalam ekosistem dengan memangsa rata-rata 40 larva nyamuk per hari, mampu menekan populasi hingga 45 persen, termasuk genus nyamuk berbahaya seperti Aedes, Anopheles, dan Culex. Studi British Ecological Society (2013) menunjukkan efektivitas ini.

Kondisi ini mempertegas pentingnya keberadaan capung dalam mengendalikan populasi nyamuk secara alami. Disudutkan oleh usaha keras pemerintah mengendalikan nyamuk dengan larvasida, resistansi kimia justru mendorong peneliti mengalihkan perhatian pada capung. Seperti di Kulon Progo yang kembali menghadapi kasus malaria setelah sebelumnya dinyatakan bebas, kehadiran capung dapat menjadi solusi ekologis dan berkelanjutan dibandingkan intervensi kimia yang gagal.




Diolah dari laporan Tirto.id.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com