Nelayan Tatoareng Sangihe keluhkan masalah pemasaran dan pengawasan konservasi

Nelayan berharap pemerintah menempatkan SDM yang memahami tata kelola pariwisata dan konservasi sesuai visi kesejahteraan daerah.

Editor: Redaktur
(Foto: SIEJ Daerah)

ZONAUTARA.com – Nelayan di Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, masih menghadapi kendala besar dalam pemasaran hasil tangkapan dan pengawasan kawasan konservasi. Keluhan ini disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan penandatanganan ikrar kemitraan Coastal 500 untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 14 (TPB-14) ekosistem lautan, Senin (30/3/2026).

Kegiatan yang digelar oleh Rare Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sangihe ini dihadiri Bupati Kepulauan Sangihe, 77 Kepala Desa, 13 Lurah, dan 14 Camat wilayah pesisir. Acara menghadirkan narasumber Ronald Izaak, Kepala Bappelitbangda Kabupaten Sangihe, dan Muchaerany Labora, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sangihe.

Apner Mananggel, perwakilan Kepala Desa Kampung Mahengetang, mengungkapkan masalah klasik yang dihadapi nelayan tradisional yakni ketidakpastian pasar pasca-panen. Meskipun hasil tangkapan melimpah, para nelayan kerap kebingungan menyalurkan produk ke pasar yang tepat.

“Masalah perikanan di Sangihe adalah ketika selesai melakukan penangkapan, kami bingung menjual atau memasarkan hasil tangkapan itu ke mana,” ujar Apner.

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Sangihe, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan, mengambil langkah konkret. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah peningkatan kapasitas penampungan ikan di Dagho agar mampu menyerap lebih banyak hasil tangkapan nelayan lokal.




Selain masalah ekonomi, aspek lingkungan juga menjadi sorotan. Apner menyoroti beban berat pemerintah desa sebagai garda terdepan pengawasan spot konservasi. Minimnya dukungan pendanaan membuat pengawasan mandiri oleh stakeholder desa tidak optimal.

“Untuk menganggarkan kontribusi bagi orang yang mau melakukan pengawasan konservasi itu sangat sulit. Kami bermohon kepada Dinas Kelautan dan Bapelitbangda untuk berperan aktif memberikan solusi alternatif yang tepat,” tambahnya.

Potensi pariwisata di Kecamatan Tatoare juga dinilai belum tergarap profesional. Masyarakat berharap pemerintah menempatkan SDM yang memahami tata kelola pariwisata dan konservasi sesuai visi kesejahteraan daerah.

“Harapan kami, Sangihe semakin sejahtera dan maju. Apa yang menjadi pekerjaan masyarakat harus memberikan harapan baru bagi kesejahteraan mereka,” pungkas Apner.

Menanggapi keluhan tersebut, Ronald Izaak siap memfasilitasi pertemuan antara Nelayan Tatoare dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mencari solusi di tengah krisis efisiensi anggaran.

“Tolong kepala dinas didata, nanti akan disiapkan jaringan berupa Starlink disana agar difasilitasi untuk melaksanakan Zoom bersama pihak kementrian,” singkat Ronald Izaak.

Pertemuan ini diharapkan menjadi pintu pembuka investasi dan perbaikan sistem pemasaran, sehingga alat tangkap sederhana nelayan Tatoare seperti jaring pemberat batu dan panah tetap menopang ekonomi keluarga berkelanjutan.

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com