ZONAUTARA.com – Perdamaian di Timur Tengah kembali terganggu setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap Libanon, di tengah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Aksi ini memicu potensi penutupan jalur energi penting dunia, yang berdampak besar terhadap pasar global dalam waktu singkat.
Bagi Indonesia, situasi ini merupakan peringatan serius bagi stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional. Ketidakstabilan di Selat Hormuz berpotensi mempengaruhi ekonomi domestik, terutama dalam ruang fiskal APBN dan harga energi rumah tangga.
Selat Hormuz menjadi jalur paling vital, di mana seperlima perdagangan minyak global melewatinya setiap hari. Kondisi di sana dapat memperburuk konflik, terutama setelah serangan oleh Israel menyebabkan korban jiwa dan respons dari Iran serta proksi regional lainnya.
Untuk Indonesia, dampaknya langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak memaksa Indonesia menyiapkan subsidi energi lebih besar, sementara kebutuhan devisa untuk impor energi bisa memperlemah rupiah.
Pemerintah merespons dengan kebijakan work from home (WFH) untuk menekan konsumsi energi, meskipun ini hanya solusi jangka pendek. Krisis ini juga menyoroti kebutuhan untuk menata ulang kedaulatan energi melalui strategi seperti pengembangan biodiesel dan kendaraan listrik.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

