Dampak Krisis AS-Iran Terhadap Asia: Langkah Indonesia dan Negara Lain

Dampak krisis AS-Iran di Asia, bagaimana negara-negara mencari solusi energi. Ketahui langkah Indonesia dan negara lainnya.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran berdampak signifikan pada kawasan Asia, memaksa pemerintah regional berupaya keras dalam mencari solusi alternatif bagi pasokan energi mereka. Situasi ini tidak hanya mempengaruhi stabilitas ekonomi tetapi juga memberikan tekanan besar pada anggaran negara-negara importir minyak utama di Asia.

Menurut laporan Reuters, krisis ini telah mendorong Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik menjadi 4,7% tahun ini, serta meningkatkan perkiraan inflasi menjadi 5,2%. Data dari Kpler mengungkapkan bahwa impor minyak ke Asia, yang bergantung 85% pada pengiriman dari Teluk, turun 30% pada April dibanding tahun lalu, level terendah sejak Oktober 2015 akibat penutupan Selat Hormuz.

Para pemerintahan Asia, terutama di Asia Selatan, menghadapi tekanan fiskal yang meningkat karena kebutuhan untuk menyalurkan subsidi dan penghapusan bea masuk guna menstabilkan harga bahan bakar. Misalnya, sektor pengilangan di India mengalami kerugian sekitar 100 rupee atau setara US$ 1,06 (Rp 18.288) per liter diesel untuk menjaga harga tetap stabil. Hanna Luchnikava-Schorsch dari S&P Global Market Intelligence menjelaskan langkah yang diambil pemerintah untuk menyerap guncangan energi yakni dengan subsidi dan pengurangan cukai.

Sejumlah negara juga telah membatasi penggunaan bahan bakar dan ekspor guna melindungi cadangan energi. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, mengandalkan cadangan besar dan diversifikasi pasokan meskipun memberikan pengecualian ekspor untuk beberapa daerah. Meskipun demikian, dampak ekonomi dari krisis ini tetap dikhawatirkan, meskipun Goldman Sachs mencatat dampak belum separah yang diperkirakan namun tetap memangkas proyeksi pertumbuhan untuk beberapa negara di Asia Tenggara.

Mata uang pasar berkembang di Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS, dengan peso, rupee, dan rupiah mencapai rekor terendah. Ekonomi di Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka telah disebut sebagai yang paling rentan dengan lonjakan harga energi dunia. Hanna Luchnikava-Schorsch menegaskan bahwa negara-negara ini memiliki cadangan fiskal yang tipis sehingga terpaksa menggunakan lebih banyak sumber daya untuk mensubsidi perusahaan energi lokal dan melindungi konsumen akhir dari lonjakan harga energi.




Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com