ZONAUTARA.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar tidak diperkirakan akan berkembang menjadi epidemi besar. Pernyataan ini disampaikan di Jenewa, Kamis (7/5), merujuk pada lingkungan spesifik dan terbatas di mana orang-orang berinteraksi dalam kontak dekat berkepanjangan.
Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman serta langkah-langkah yang telah diambil oleh negara-negara anggota, risiko perkembangan wabah ini menjadi epidemi besar relatif rendah. Dia menegaskan, “Kami percaya wabah ini tak akan menyebabkan rantai penularan lanjutan.”
Sampai saat ini, lima kasus hantavirus telah dikonfirmasi, yang terkait dengan virus Andes, strain yang dapat menular antarmanusia dalam kondisi kontak dekat dan berkepanjangan. Kasus-kasus tersebut dideteksi di kapal pesiar MV Hondius dan diagnosisnya telah dikonfirmasi melalui pengujian di Afrika Selatan dan Swiss.
Mahamud menambahkan bahwa pasien yang terinfeksi harus tetap diisolasi, sementara individu yang terpapar perlu menjalani pemantauan aktif hingga 42 hari. Penerapan kebijakan ini dapat bervariasi antar negara, dengan beberapa negara memilih karantina institusional dan yang lain mengandalkan pemantauan kesehatan harian oleh petugas kesehatan.
Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi, Maria Van Kerkhove, menekankan bahwa wabah hantavirus memiliki sifat yang berbeda dari pandemi COVID-19. “Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal pandemi COVID,” katanya. Sebagian besar hantavirus ditularkan melalui hewan pengerat, seperti air liur, urine, atau kotoran mereka, dan penularan antarmanusia jarang terjadi.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa WHO telah memberi tahu 12 negara yang warganya terlibat dengan kapal pesiar tersebut. Negara-negara ini adalah Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turkiye, Inggris, dan Amerika Serikat. Tedros juga menambahkan bahwa dua kasus pertama sempat melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum menaiki kapal.
Saat ini, kapal tersebut berlayar menuju Kepulauan Canary dengan izin dari Spanyol. WHO menilai risiko penyebaran hantavirus termasuk di Kepulauan Canary relatif rendah.
Diolah dari laporan Antara.

