ZONAUTARA.com – Pada tahun 2002, Jonathan Abrams, seorang mantan karyawan Netscape, menghadapi kebuntuan dalam karier setelah startup miliknya, Hotlinks, gagal selama krisis dot-com di Silicon Valley. Di tengah situasi tersebut, ia menghabiskan waktu luangnya untuk merancang sebuah perusahaan baru yang dapat mengubah cara orang berinteraksi secara online. Ide tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk platform bernama Friendster yang diluncurkan dalam versi resmi pada Maret 2003.
Friendster memperkenalkan banyak hal baru pada media sosial, seperti profil pribadi, testimoni, dan jaringan pertemanan digital. Fitur ini mendorong penggunaannya di kalangan generasi milenial dan dalam waktu singkat mampu meraih tiga juta pengguna terdaftar tanpa memerlukan anggaran pemasaran yang besar.
Keberhasilan awal Friendster menarik perhatian banyak investor, termasuk Google yang menawarkan 30 juta dolar AS untuk mengakuisisi platform ini. Namun, Abrams dan para investornya menolak tawaran tersebut karena yakin mereka bisa mengembangkan Friendster menjadi bisnis bernilai miliaran dolar AS.
Namun, popularitas Friendster tidak bertahan lama. Selain karena munculnya pesaing seperti MySpace dan Facebook, Friendster juga menghadapi masalah internal akibat maraknya akun palsu atau Fakester. Hal ini berlawanan dengan tujuan awal Friendster sebagai platform dengan identitas autentik. Perusahaan mengalami kesulitan dalam menangani akun-akun anonim ini, yang menurut Mike Fisher dalam bukunya, adalah salah satu kesalahan terbesar platform ini.
Akhirnya, Friendster tidak mampu bertahan. Menurunnya jumlah pengunjung dan berbagai masalah manajemen dan teknis membuat dewan direksi memaksa Jonathan Abrams untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO, saat MySpace dan Facebook mulai mendominasi pasar media sosial.
Diolah dari laporan Tirto.id.

