ZONAUTARA.com – Volatilitas tinggi dalam perekonomian masih berpotensi berlanjut hingga akhir Mei, seiring dengan pentingnya komunikasi yang persuasif dan empati untuk meningkatkan cakupan vaksinasi nasional. Beberapa waktu lalu, dugaan kasus hantavirus di sebuah kapal pesiar yang ditolak berlabuh di Tanjung Hijau (Cape Verde) menjadi perhatian. Di kapal tersebut, tiga orang meninggal saat berlayar di Samudra Atlantik. Meskipun World Health Organization menyatakan risikonya terhadap masyarakat umum relatif rendah, respons internasional cukup besar, dengan pelabuhan berhati-hati dan aktivitas kapal dibatasi.
Sensitivitas dunia terhadap isu kesehatan meningkat pesat. Ancaman wabah yang muncul dapat berdampak luas, mulai dari sektor kesehatan hingga ekonomi. Kini, dampak wabah meluas ke bidang pariwisata, investasi, perdagangan, rantai pasokan, hingga keuangan negara, seiring dengan globalisasi.
Meski kasus hantavirus belum mencapai pandemi seperti Covid-19, risikonya sebagai emerging infectious disease mendapatkan perhatian lebih serius. Khan et al (2021) mengingatkan bahwa kasus ini memerlukan kewaspadaan karena potensinya menular antarmanusia. Rasa takut dan ketidakpastian yang muncul akibat berita wabah turut mengubah perilaku masyarakat, mempengaruhi pilihan perjalanan dan keputusan investasi.
Dampak pertama wabah biasanya terasa di sektor pariwisata, yang sangat bergantung pada rasa aman. Penelitian Rossello et al (2017) menunjukkan bahwa penyakit menular memiliki dampak substansial terhadap wisata internasional. Jika penyakit-penyakit ini dapat ditekan, pengeluaran wisata global berpotensi meningkat hingga US$12 miliar.
Belajar dari pandemi Covid-19, yang menghantam sektor wisata dengan keras, terlihat jelas bagaimana wabah kecil sekalipun bisa memicu efek besar dalam ekonomi. Kehadiran kasus seperti hantavirus menjadikan kesehatan publik sebagai bagian dari pertimbangan keamanan ekonomi, yang mulai diperhatikan juga oleh investor bersama faktor politik, pajak, dan infrastruktur. Ketangguhan sistem kesehatan menjadi pertanyaan kunci bagi stabilitas bisnis dan investasi di tengah krisis kesehatan yang mungkin muncul.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

