ZONAUTARA.com – Pemerintah China menetapkan pembatasan ekspor komoditas mineral kritis ke Jepang. Langkah ini diambil sebagai bentuk tekanan terhadap sekutu utama Amerika Serikat tersebut, agar membatalkan kebijakan yang dinilai China sebagai upaya menuju remiliterisasi.
Kementerian Perdagangan China sebelumnya telah memperketat kendali ekspor barang-barang yang berpotensi memiliki aplikasi militer ke Jepang sejak Januari lalu. Ini termasuk larangan transfer barang dengan fungsi ganda kepada pengguna militer Jepang, setelah pernyataan dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengaitkan keamanan negaranya dengan Taiwan.
Mengutip Newsweek, pembatasan tersebut kembali diperketat oleh Beijing sebanyak dua kali sepanjang bulan Februari. Sanksi ekspor ini mencakup elemen tanah jarang dan mineral kritis lainnya yang penting untuk teknologi canggih. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menjelaskan keputusan ini dalam konferensi pers rutin.
“China, sesuai dengan hukum dan peraturan, melarang ekspor barang-barang dengan fungsi ganda untuk pengguna militer dan kegunaan militer Jepang, dengan tujuan menghentikan remiliterisasi dan ambisi nuklir Jepang,” ujar Mao pada hari Senin.
Langkah ini merespons pidato Takaichi pada bulan November yang memicu kemarahan Beijing setelah mengaitkan langsung pertahanan Jepang dengan Taiwan. Beijing menganggap ini sebagai tanda Jepang ingin kembali ke era militerisme Kekaisaran Jepang. Director Program Keamanan Mineral Kritis di Center for Strategic and International Studies, Gracelin Baskaran, bersama Associate Fellow, Meredith Schwartz, menyatakan bahwa tindakan China mencerminkan pengaruh rantai pasok sebagai alat pencegahan dan pemaksaan.
Baskaran dan Schwartz mengungkapkan bahwa China menunjukkan kemampuan mengelola ekonomi untuk membentuk perilaku sekutu. Ini merupakan peringatan bagi AS bahwa penanganan konflik Taiwan harus menyertakan pertimbangan ekonomi. Selain itu, meski Pasukan Bela Diri Jepang dibatasi, pemimpin Jepang berusaha memperluas peran militer mereka untuk menandingi kekuatan China.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

