ZONAUTARA.com – Starbucks cabang Korea Selatan mendapat sorotan tajam setelah promosi tumbler bertajuk “Tank Day” menimbulkan kontroversi dan kemarahan publik. Kampanye yang dimulai pada 25 Mei tersebut bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju 1980, ketika rezim militer menumpas demonstrasi prodemokrasi dengan kekerasan.
Kontroversi dimulai saat Starbucks Korea meluncurkan promosi menggunakan frasa “Tank Day” dan “Slam on the desk!” yang menyinggung insiden tragis Pemberontakan Gwangju, di mana ratusan warga sipil tewas. Promosi ini juga terkait dengan kasus penyiksaan aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987, yang menjadi simbol kekejaman rezim militer.
Akibatnya, Starbucks Korea meminta maaf dan menghentikan promosi tersebut. Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, serta CEO Starbucks Korea, Sohn Jeong-hyun, juga menyampaikan permintaan maaf. Namun, kontroversi ini menyebar secara online, memicu gerakan boikot oleh pengguna media sosial yang menuntut pertanggungjawaban lebih lanjut.
Gerakan boikot ini diperparah dengan unggahan-unggahan hasil AI dari politisi sayap kanan yang menyebar di internet. Pengguna media sosial yang anti-boikot merespons dengan cara merusak produk Starbucks dan mengunggahnya secara online. Ada pula panduan untuk mendapatkan pengembalian dana dari kartu prabayar Starbucks Korea.
Reaksi negatif tersebut juga mencapai pemerintah. Menteri Dalam Negeri Yoon Ho-jung menyatakan kementeriannya akan menghentikan penggunaan produk dari perusahaan yang dinilai menyepelekan sejarah demokrasi Korea. “Demokrasi dibangun atas pengorbanan dan dedikasi warga negara,” ujar Yoon dalam unggahannya di media sosial.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

