ZONAUTARA.com – Korea Utara kembali menegaskan bahwa statusnya sebagai negara bersenjata nuklir tidak akan menjadi bahan perundingan. Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik perempuan sekaligus tokoh penting di lingkaran kekuasaan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Pernyataan ini keluar hanya sehari sebelum Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Pyongyang.
Pernyataan tersebut menandakan sikap tegas Korea Utara mengenai kebijakan strategisnya di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Selain itu, ini merupakan pesan penting menjelang pertemuan tingkat tinggi dengan sekutu utamanya, China. Media resmi Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), pada Minggu (7/6/2026) memuat pernyataan Kim Yo Jong bahwa program senjata nuklir negara mereka tidak akan dinegosiasikan.
“Status kita sebagai kekuatan nuklir sama sekali tidak dapat dinegosiasikan,” kata Kim Yo Jong dalam pernyataannya.
Ia juga memperingatkan bahwa Pyongyang tidak akan menoleransi ancaman apa pun terhadap negara tersebut. Kim Yo Jong selama beberapa tahun terakhir dipandang sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam pemerintahan Korea Utara. Ia memiliki peran penting dalam komunikasi politik dan kebijakan luar negeri negara tersebut. Oleh karena itu, pernyataannya sering kali mencerminkan sikap resmi kepemimpinan tertinggi Korea Utara.
Penegasan terbaru ini muncul di tengah posisi Korea Utara yang sejak lama mempertahankan program senjata nuklir dan rudal balistik meskipun mendapat tekanan internasional. Pyongyang konsisten berargumen bahwa kepemilikan senjata nuklir merupakan hak kedaulatan yang diperlukan untuk menjaga keamanan nasional. Namun, program nuklir dan rudal balistik Korea Utara selama bertahun-tahun menjadi sasaran berbagai sanksi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meski demikian, Korea Utara justru semakin memperkuat posisi hukumnya terkait program tersebut. Pada 2023, negara itu secara resmi memasukkan status sebagai negara bersenjata nuklir ke dalam konstitusinya. Langkah tersebut dipandang banyak pengamat sebagai upaya untuk memperjelas bahwa kemampuan nuklir Korea Utara tidak lagi dianggap sebagai alat tawar-menawar diplomatik, melainkan bagian permanen dari identitas dan strategi pertahanan negara. Pernyataan Kim Yo Jong menjadi sorotan karena disampaikan tepat menjelang kunjungan Presiden China, Xi Jinping, ke Korea Utara. Menurut KCNA, kunjungan Xi akan berlangsung mulai Senin hingga Selasa. Ini adalah perjalanan resmi luar negeri pertama Xi sepanjang tahun ini dan dinilai penting karena terjadi saat China sedang aktif berdiplomasi dengan sejumlah kekuatan besar dunia.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

