ZONAUTARA.com – Dukungan publik terhadap monarki Inggris mengalami penurunan signifikan, mencapai titik terendah dalam tiga dekade terakhir. Berdasarkan survei Ipsos terbaru, pada tahun 2026 hanya sekitar 55% responden yang masih mendukung sistem monarki, turun dari puncaknya yang mencapai sekitar 80% pada 2012. Fenomena ini terutama didorong oleh generasi muda yang semakin kritis terhadap relevansi institusi kerajaan.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa hampir separuh dari responden berpendapat bahwa Inggris akan lebih baik jika menjadi republik. Menurut Ipsos, hasil ini merupakan angka terendah sejak mereka mulai melacak opini publik pada tahun 1993. Istana Buckingham menegaskan kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam proses hukum yang sedang berlangsung terkait isu keluarga kerajaan.
“Pikiran dan simpati Raja telah, dan tetap bersama para korban dari segala bentuk pelecehan,” demikian dinyatakan oleh Istana Buckingham.
Penurunan dukungan paling tajam terlihat pada kelompok usia 18-34 tahun, di mana hanya sekitar 33% yang mendukung monarki. Lebih dari 45% kelompok ini menyatakan Inggris sebaiknya menjadi republik, mencerminkan perubahan pandangan generasi muda terhadap institusi tradisional tersebut.
Meskipun dukungan terhadap monarki menurun, popularitas pribadi anggota keluarga kerajaan masih terbilang stabil. Sekitar 60% responden menyukai cara Raja Charles III menjalankan tugasnya, sementara Putra Mahkota Pangeran William memperoleh persetujuan sekitar 71%. Kontroversi terkait Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor dan hubungannya dengan mendiang Jeffrey Epstein turut mempengaruhi citra keluarga kerajaan.
Di luar Inggris, pengaruh monarki juga dilaporkan terus menyusut. Beberapa negara persemakmuran mulai mempertimbangkan hubungan mereka dengan Kerajaan Inggris. Barbados bahkan resmi menjadi republik pada tahun 2021. Survei lain oleh YouGov pada tahun 2023 menunjukkan kecenderungan serupa di enam dari 14 wilayah luar negeri, termasuk Kanada dan Australia, yang mulai mempertimbangkan meninggalkan sistem monarki.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

