ZONAUTARA.com – Selat Hormuz kini menjadi titik krusial dalam negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat setelah kedua negara sepakat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni. Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi kartu tawar utama Iran dalam perundingan dengan Amerika Serikat, yang perselisihan mengenai pembukaannya diperkirakan menjadi isu sulit diselesaikan.
Geopolitik kawasan ini terus menjadi perhatian pasar energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Kericuhan yang terjadi berpotensi memengaruhi arus perdagangan maupun harga minyak.
Berdasarkan MoU yang ditandatangani, Iran tidak diwajibkan untuk segera memulai perundingan substantif mengenai program nuklirnya sampai blokade di Selat Hormuz dicabut, meski Iran diwajibkan menggunakan “upaya terbaiknya” untuk membuka kembali jalur tersebut. Kondisi ini memberi keuntungan strategis bagi Teheran menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat yang menjadi ujian politik bagi Presiden Donald Trump.
Iran menegaskan bahwa hanya mereka yang berhak mencabut blokade tersebut, sehingga menolak keterlibatan negara atau lembaga internasional lain. Usulan pembukaan jalur alternatif di selatan, dikembangkan bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah PBB, pun ditolak meskipun jalur utama tertutup ranjau laut.
Setelah Iran menyerang kapal berbendera Singapura minggu lalu, IMO membatalkan rencana pembukaan jalur alternatif. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam konferensi di Baghdad menyatakan penolakan terhadap segala mekanisme baru yang bukan dijalankan oleh pemerintah Iran, mempertegas posisi strategis mereka.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

