ZONAUTARA.com – Menguatnya nilai tukar Dolar AS di tengah ketidakstabilan ekonomi global menjadi tantangan besar bagi banyak negara berkembang sepanjang semester pertama tahun 2026. Sejumlah arus modal mengalir menuju aset safe haven, menyebabkan depresiasi pada beberapa mata uang, bahkan melemah secara signifikan.
Negara-negara yang paling terdampak oleh fenomena ini antara lain adalah negara berkembang yang mata uangnya terdepresiasi paling dalam akibat perubahan arus modal. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu turut memperburuk situasi ini.
Dalam program Power Lunch CNBC Indonesia yang ditayangkan pada Senin, 6 Juli 2026, Andi Shalini memaparkan lebih lanjut mengenai daftar negara yang mengalami pelemahan mata uang paling signifikan sepanjang setengah tahun ini.
Menurut Andi Shalini, penyebab utama dari kondisi ini adalah minat investor yang tinggi terhadap aset-aset yang dianggap lebih aman, seperti Dolar AS, yang menyebabkan aliran keluar modal dari negara-negara berkembang. “Dalam kondisi pasar yang bergejolak ini, negara-negara berkembang yang tidak memiliki cadangan devisa yang cukup akan sangat rentan,” jelasnya.
Penguatan Dolar AS diyakini masih akan berlangsung hingga kondisi ekonomi global kembali stabil. Hingga saat itu tiba, banyak negara berkembang harus menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas ekonomi mereka masing-masing.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

