ZONAUTARA.com – Warga dan otoritas desa Kristen di Lebanon membantah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebut komunitas mereka meminta aneksasi oleh Israel. Penolakan keras ini disampaikan setelah Netanyahu menyatakan dalam program televisi bahwa beberapa desa Kristen menginginkan perlindungan dari Israel atas ancaman Hizbullah.
Tuduhan Netanyahu, yang disiarkan melalui program The Sunday Briefing di saluran Fox News, memicu kemarahan besar di Lebanon. Pejabat dari 15 kota Kristen di Lebanon Selatan segera merilis pernyataan pada Senin (06/07/2026) menegaskan kesetiaan mereka kepada Lebanon.
Sejumlah analis politik menilai klaim Netanyahu sebagai upaya untuk memanfaatkan sistem kuota sektarian di pemerintahan Lebanon. Profesor Karim Emile Bitar dari Saint Joseph University of Beirut menyebut upaya Netanyahu sebagai strategi adu domba untuk memecah belah Lebanon.
“Klaim Netanyahu mencerminkan sinismenya dan fakta bahwa dia adalah seorang pembohong patologis,” kata Karim Emile Bitar kepada Al Jazeera. Data dari Armed Conflict Location and Event Data menunjukkan bahwa desa Kristen di perbatasan Lebanon lebih sering menjadi sasaran serangan Israel.
Pejabat Lebanon, termasuk anggota parlemen Melhem Khalaf, juga membantah klaim Netanyahu. Kepala Kota Rmeish, Hanna al-Amil, menyatakan tidak ada desa yang mengajukan permintaan untuk aneksasi seperti itu. Jajak pendapat dari Lebanese American University menunjukkan bahwa 87% warga Lebanon menilai Israel sebagai musuh.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

