ZONAUTARA.com – Kemungkinan pertemuan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat dilaksanakan di Turki sebagai upaya mencari solusi damai atas konflik yang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di Kyiv, Kamis (16/7).
“Kami menyatakan bahwa negosiasi, khususnya kemungkinan pertemuan antara Presiden Zelensky dan Putin, dapat berlangsung di Turki,” ujar Sybiha seperti dilansir dari Anadolu. Ia menekankan bahwa pertemuan langsung antara kedua pemimpin negara tersebut akan memberikan dorongan baru bagi proses perdamaian. “Saya percaya hanya pertemuan puncak para pemimpin yang dapat memberikan momentum baru pada proses perdamaian,” imbuhnya.
Sybiha juga memuji peran Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam memfasilitasi penyelesaian konflik. Turki dinilainya telah berkembang menjadi salah satu pusat diplomasi penting dunia. “Kita harus memanfaatkan diplomasi semaksimal mungkin dan duduk di meja perundingan untuk mengakhiri perang ini,” kata Sybiha. Ia menegaskan bahwa Ukraina terus mendorong langkah-langkah konkret untuk menghentikan perang dan telah menyiapkan usulan nyata terkait proses perdamaian. “Sebagai Ukraina, kami siap untuk gencatan senjata,” jelasnya.
Meski demikian, Sybiha menekankan bahwa Kyiv tidak akan menerima kesepakatan yang mengorbankan kedaulatan atau integritas wilayah Ukraina. “Ukraina tidak akan menerima solusi apa pun yang merugikan integritas teritorial atau kedaulatan kami,” lanjutnya. Selain itu, ia menyoroti peningkatan hubungan ekonomi dengan Turki, termasuk ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas Turki-Ukraina oleh parlemen Ukraina. Pemberlakuan perjanjian ini diharapkan meningkatkan nilai perdagangan bilateral kedua negara.
Kedua menteri juga membahas mekanisme kerja sama trilateral antara Turki, Ukraina, dan Suriah. Sybiha menyoroti situasi keamanan di Laut Hitam yang memburuk setelah aneksasi Krimea oleh Rusia. “Arsitektur keamanan kawasan ini hampir sepenuhnya hancur sejak aneksasi ilegal Krimea oleh Rusia,” ujarnya, menambahkan bahwa Turki adalah aktor penting dalam menjaga keamanan navigasi di Laut Hitam. “Dengan kehadiran dan armada angkatan lautnya di Laut Hitam, Turki saat ini merupakan negara terkuat NATO dalam hal ini,” tuturnya.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

