ZONAUTARA.com – Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Yonny Koesmaryono, menjelaskan cara kerja teknologi modifikasi cuaca yang sering disalahpahami oleh masyarakat. Ia menekankan bahwa teknologi ini tidak menciptakan hujan dari langit yang tidak memiliki potensi awan. Penjelasan ini disampaikan dalam program IPB Pedia yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
“Modifikasi cuaca adalah membuat perubahan dari sesuatu yang sudah ada. Jadi bukan membuat hujan atau membuat air, tetapi memodifikasi proses yang terjadi di atmosfer,” ujar Prof Yonny.
Secara alami, hujan terbentuk melalui siklus hidrologi saat air menguap, mendingin, dan membentuk awan. Namun, tidak semua awan berakhir menjadi hujan. Di situlah modifikasi cuaca berperan, yaitu pada awan dengan potensi seperti awan kumulus. Tim ahli menambahkan bahan higroskopis atau aerosol sebagai inti kondensasi untuk mempercepat proses hujan.
“Yang kita lakukan adalah mengintervensi proses fisika di awan agar pertumbuhannya bisa terkendali. Jadi bukan membuat hujan dari nol,” tegas Prof Yonny. Kondisi atmosfer yang tidak stabil justru mendukung modifikasi cuaca karena penguapan yang aktif membantu pertumbuhan awan. Sebaliknya, atmosfer yang stabil membuat intervensi kurang efektif.
Selain memicu hujan, modifikasi cuaca juga digunakan untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem. Meski demikian, Prof Yonny menyatakan intervensi sulit dilakukan jika badai telah berkembang kuat. Teknologi ini, menurut Prof Yonny, adalah instrumen penting dalam mengelola ketersediaan air dan bencana cuaca.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

