Mengenal Yaki, satwa kunci Sulawesi Utara

Yaki adalah primata endemik Sulawesi berstatus Kritis, populasinya diduga turun lebih dari 80 persen dalam tiga generasi, dengan perburuan sebagai ancaman utama dan Greater Tangkoko sebagai benteng populasi terpenting.

Editor: Redaktur
Seekor yaki jantan sedang beristirahat di bawah pohon di kawasan konservasi Tangkoko. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

ZONAUTARA.com – Monyet hitam Sulawesi atau orang Sulawesi Utara menyebutnya sebagai Yaki, adalah satu dari empat satwa kunci Sulawesi Utara. Artikel ini berisi fakta-fakta penting tentang Yaki yang populasinya semakin terancam, meski berbagai aksi konservasi dilakukan untuk mempertahakan keberadaan mereka.

Seluruh data dan informasi dalam artikel ini diolah dari The IUCN Red List of Threatened Species, asesmen Macaca nigra yang diterbitkan pada 2020.

YAKI
TopikFakta penting
Nama ilmiahMacaca nigra (Desmarest, 1822)
Nama umumYaki, monyet hitam; Celebes Crested Macaque / Black Crested Macaque
KlasifikasiAnimalia → Chordata → Mammalia → Primates → Cercopithecidae
Status IUCNCritically Endangered (CR / Kritis), kriteria A2cd. Asesmen diterbitkan 2020 dan penilaian dilakukan 23 November 2015.
Tren populasiMenurun (Decreasing).
Sebaran asliTimur laut Sulawesi, termasuk Pulau Manado Tua dan Talise. Dahulu terdapat di Lembeh, tetapi kemungkinan sudah hilang dari pulau tersebut.
Populasi introduksiAda populasi besar di Pulau Bacan, Maluku. Karena merupakan populasi introduksi, populasi Bacan tidak dimasukkan dalam penilaian status IUCN tersebut.
HabitatHutan hujan dataran rendah dan pegunungan; juga dapat menggunakan hutan sekunder/logged forest, padang rumput dan lahan budidaya yang dikelilingi hutan. Kisaran elevasi yang dicatat: 200–1.200 m.
Pola makanTerutama buah: sekitar 66% feeding bouts. Invertebrata sekitar 32%; juga daun muda, bagian tumbuhan, serta vertebrata kecil. Yaki dapat masuk kebun untuk memakan kelapa, jagung dan tanaman lain.
AktivitasTerutama terestrial; sekitar 60% waktu berada di tanah.
Kelompok sosialKelompok multi-jantan dan multi-betina; umumnya 60–80 individu, tetapi dapat mencapai sekitar 100 individu. Kelompok sekecil lima individu juga pernah diamati.
Home rangeSekitar 74–350 hektare; lebih besar pada musim hujan dan dapat tumpang tindih dengan kelompok lain.
ReproduksiMasa kehamilan sekitar 175 hari; betina melahirkan kira-kira setiap dua tahun, dengan interval kelahiran sekitar 22 bulan.
Panjang generasi11 tahun.
YAKI

Kenapa Yaki Kritis?

IUCN memperkirakan populasi Yaki mengalami penurunan lebih dari 80% selama tiga generasi atau sekitar 33 tahun, terutama akibat perburuan dan kehilangan habitat.

Namun, dokumen IUCN menekankan bahwa perburuan merupakan pendorong utama penurunan populasi. Yaki diburu untuk daging dan juga ditangkap untuk perdagangan satwa peliharaan.

Ancaman utama

  • Perburuan untuk konsumsi, khususnya terkait permintaan daging di Sulawesi Utara.
  • Perangkap dan jerat, termasuk di sekitar kawasan pertanian.
  • Kehilangan/degradasi habitat akibat pertanian, perladangan berpindah dan pengambilan kayu.
  • Pertambangan.
  • Kebakaran hutan.
  • Penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan.

Dalam tabel ancaman IUCN, perburuan dan penangkapan yang secara sengaja menargetkan spesies mendapat skor dampak 9 / high impact, dengan cakupan lebih dari 90% dan dikaitkan dengan penurunan yang sangat cepat.

YAKI

Angka kunci populasi

Asesmen 2008 memperkirakan kepadatan Yaki di seluruh wilayah sebarannya hanya sekitar 3 individu/km². Data yang lebih baru untuk seluruh sebaran belum tersedia dalam dokumen.

Tangkoko Nature Reserve disebut memiliki populasi terbesar dan paling layak bertahan. Kepadatannya diperkirakan meningkat dari sekitar 51,4 individu/km² pada 2005–2011 menjadi ±58,2 individu/km² pada 2015.

IUCN menyebut secara umum dipercaya bahwa Greater Tangkoko conservation area menjadi satu-satunya kawasan yang masih memiliki populasi yang viable, sementara di lokasi lain tersisa kelompok-kelompok kecil dan tersebar.

YAKI

Sebaran

Peta pada halaman 4 dokumen memperlihatkan wilayah populasi asli Yaki di semenanjung utara Sulawesi, sedangkan Pulau Bacan di Maluku ditandai sebagai wilayah populasi introduksi.

Lembeh ditunjukkan sebagai wilayah yang kemungkinan sudah kehilangan spesies tersebut. Informasi tekstual mengenai distribusinya juga membedakan populasi Sulawesi sebagai native/extant dan Maluku sebagai extant/introduced.

YAKI

Konservasi

Dokumen IUCN menekankan pendekatan ganda: mengurangi pasokan sekaligus permintaan terhadap Yaki hasil perburuan. Langkah yang disebut antara lain patroli kawasan, jalan dan pasar; penindakan terhadap penangkapan serta transportasi ilegal; perlindungan populasi yang masih ada; pendidikan konservasi; pengembangan ekowisata; dan alternatif mata pencaharian.

Mengenal Yaki, satwa kunci Sulawesi Utara

Yaki terdapat di sejumlah kawasan lindung, termasuk Gunung Lokon, Gunung Ambang, Manembonembo, Tangkoko Batuangus, Dua Saudara, serta Manado Tua di Taman Nasional Bunaken.

Menurut daftar kebutuhan konservasi dalam dokumen, prioritas mencakup perlindungan habitat, pengelolaan kawasan, pengelolaan perburuan, pengelolaan perdagangan, edukasi dan komunikasi, serta penegakan hukum nasional.

Share This Article
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com