ZONAUTARA.com – Lomba Innovative Government Award (IGA) Kota Kotamobagu ke-VII Tahun 2026 tidak hanya mempertemukan peserta untuk memperebutkan gelar juara.
Berbagai inovasi yang muncul dalam ajang tersebut memperlihatkan upaya menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pendampingan lansia, pelayanan kesehatan jiwa, pengelolaan rumah sakit, hingga lingkungan dan pelestarian budaya.
Rangkaian lomba yang digelar Pemerintah Kota Kotamobagu melalui Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) itu resmi ditutup, Selasa (22/9/2026), melalui pertemuan daring.
Sebelum pengumuman pemenang, para inovator telah melewati tahapan presentasi, wawancara hingga fact finding. Tahapan terakhir dilakukan tim juri untuk melihat secara langsung implementasi, manfaat dan keberlanjutan inovasi yang diajukan peserta.
Dari kategori perangkat daerah, inovasi Sekolah Lansia “Mototabian” dari Pemerintah Desa Bilalang I menjadi juara pertama. Program ini sebelumnya diluncurkan sebagai ruang belajar dan aktivitas bagi warga lanjut usia dengan tujuan mendorong lansia tetap sehat, mandiri dan produktif di lingkungan masyarakat.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kependudukan tidak hanya berkaitan dengan anak dan kelompok usia produktif. Bertambahnya kelompok lansia juga membutuhkan pendekatan pelayanan dan pemberdayaan yang membuat mereka tetap memiliki ruang untuk belajar dan beraktivitas.
Juara kedua diraih UPTD Puskesmas Gogagoman melalui Kurma Rigawa Gemoy, singkatan dari Kunjungan Rumah Penderita Gangguan Jiwa dan Gerakan Minum Obat.
Program tersebut menggunakan pendekatan pelayanan langsung dengan mengunjungi pasien di rumah sekaligus mendorong kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Dalam tahapan fact finding, inovasi ini menjadi salah satu program yang dikunjungi langsung oleh tim juri.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana inovasi pelayanan publik dapat diarahkan untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama bagi kelompok yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Sementara itu, RSUD Kotamobagu meraih juara ketiga melalui Moindoy atau Monitoring Data dan Informasi Layanan RSUD Kotamobagu. Inovasi ini diarahkan untuk mendukung pemantauan data dan informasi pelayanan rumah sakit sehingga pengelolaan layanan dapat dilakukan dengan lebih baik.
Di kategori umum, inovasi yang muncul justru semakin beragam.
MAN 1 Kotamobagu menjadi juara pertama melalui FELAGO, inovasi yang memanfaatkan limbah pelepah pisang Goroho menjadi bioleather untuk produk fashion berkelanjutan. Produk tersebut sekaligus membawa unsur pengenalan budaya Bolaang Mongondow melalui teknologi QR Code.
FELAGO memperlihatkan bahwa inovasi lingkungan dapat dikembangkan bersamaan dengan kreativitas anak muda dan pengenalan budaya lokal. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dicoba diolah menjadi material yang memiliki fungsi baru.
Juara kedua kategori umum diraih SMK Negeri 1 Kotamobagu melalui Smart Gas Leak Detector, perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mendeteksi kebocoran gas LPG.
Adapun juara ketiga diraih STMIK Multicom Bolaang Mongondow melalui MONGOBASA AI, asisten belajar bahasa Bolaang Mongondow yang terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan.
Ragam inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat kini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan administratif. Teknologi mulai digunakan untuk menjawab kebutuhan keselamatan rumah tangga, pendidikan, serta pelestarian bahasa daerah.
Hal lain yang menarik adalah hadirnya GRIYA ASRI, inovasi yang menggabungkan pengelolaan sampah, ruang hijau dan ketahanan pangan keluarga. Inovasi ini meraih penghargaan sebagai inovator terbaik kategori umum.
Sebelumnya, panitia IGA Kotamobagu menyebut ajang tersebut memang diarahkan untuk menampilkan inovasi yang aplikatif, kreatif dan memiliki manfaat bagi daerah. Sejumlah peserta juga membawa inovasi yang berhubungan dengan pelayanan masyarakat dan teknologi tepat guna.
Ketua tim juri IGA, Prof. Dr. Herie Saksono dari BRIN, menilai kualitas inovasi yang ditampilkan peserta terus berkembang. Menurutnya, keberhasilan inovasi tidak berhenti pada munculnya sebuah gagasan, tetapi juga dilihat dari kualitas pelaksanaan dan dampaknya kepada masyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting karena sebuah inovasi pada akhirnya tidak dinilai hanya dari seberapa baru idenya.
Inovasi akan lebih berarti ketika benar-benar digunakan.
Program untuk lansia harus mampu memberi manfaat bagi lansia. Layanan kesehatan jiwa harus mampu menjangkau pasien. Sistem rumah sakit harus membantu pelayanan menjadi lebih terpantau. Pemanfaatan limbah harus menghasilkan produk yang dapat digunakan. Teknologi harus menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar menjadi pajangan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kotamobagu Noval Manoppo yang menutup kegiatan tersebut juga menekankan bahwa IGA tidak semata-mata bertujuan mencari pemenang.
Menurutnya, lomba ini diharapkan melahirkan ide dan gagasan kreatif untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di daerah.
Karena itu, pekerjaan berikutnya justru dimulai setelah lomba berakhir.
Bappelitbangda Kotamobagu menyatakan seluruh inovasi yang terdaftar akan ditindaklanjuti agar dapat diaplikasikan.
Dengan begitu, ukuran keberhasilan IGA tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang piala pada 22 September 2026, tetapi pada berapa banyak gagasan yang akhirnya benar-benar masuk ke kehidupan sehari-hari warga Kotamobagu.

