ZONAUTARA.com – Hari Selasa merupakan hari kedua dalam sistem penanggalan Masehi yang umum digunakan di banyak negara. Namun, tahukah Anda bahwa penamaan hari Selasa memiliki akar sejarah dan budaya yang panjang, bahkan terkait dengan kepercayaan dan ilmu perbintangan kuno?
Dalam bahasa Indonesia, kata “Selasa” berasal dari bahasa Arab, yakni ṯalāṯā’ (ثلاثاء), yang berarti “tiga”. Hal ini merujuk pada urutan hari dalam kalender Islam, di mana hari Minggu dianggap sebagai hari pertama, Senin sebagai hari kedua, dan Selasa sebagai hari ketiga.
Tradisi ini masuk ke dalam budaya Nusantara seiring penyebaran Islam dan pengaruh bahasa Arab dalam kehidupan masyarakat.
Namun, jauh sebelum pengaruh Arab masuk, peradaban Romawi sudah mengenal sistem penamaan hari berdasarkan benda langit dan dewa-dewa mereka. Dalam bahasa Latin, hari Selasa disebut dies Martis, yang berarti “hari Mars”.
Mars adalah dewa perang dalam mitologi Romawi, yang dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, dan aksi. Sistem ini dipengaruhi oleh ilmu astrologi Babilonia dan kemudian diadaptasi oleh bangsa Romawi kuno.
Pengaruh penamaan ini terlihat pula dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya. Dalam bahasa Inggris, Selasa disebut Tuesday, yang berasal dari nama dewa Nordik, Tiw atau Tyr, yang merupakan dewa perang dan setara dengan dewa Mars. Jadi, meskipun nama dan mitologinya berbeda, makna simbolik Selasa sebagai “hari perang” tetap dipertahankan di berbagai budaya.
Di Jawa, hari Selasa dikenal sebagai Anggara, yang juga merujuk pada planet Mars (Anggara Kasih dalam sistem hari pasaran Jawa). Dalam kepercayaan Jawa kuno, hari Anggara memiliki karakter energi yang kuat dan cocok untuk memulai kegiatan besar, mirip dengan simbolisme keberanian dalam mitologi Mars.
Penamaan hari dalam berbagai kebudayaan ini menunjukkan bagaimana manusia mengaitkan waktu dengan makna dan simbol. Hari Selasa bukan sekadar penanda urutan hari, tetapi juga cerminan sejarah panjang percampuran budaya, kepercayaan, dan pengetahuan langit yang diwariskan dari masa ke masa.


