Kembali ditemukannya rasa bangga perempuan Indonesia pada kebaya

Editor: Redaktur
Ilustrasi, (Foto: Pixabya.com).

ZONAUTARA.com – Dalam beberapa tahun terakhir, kebaya kembali menemukan tempat istimewa di hati perempuan Indonesia. Tidak lagi hanya dikenakan saat upacara adat atau perayaan resmi, kebaya kini menjadi simbol kebanggaan dan identitas yang dikenakan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam keseharian.

Kebangkitan ini seakan menjadi penanda bahwa perempuan Indonesia mulai merebut kembali warisan budaya mereka yang sempat terpinggirkan oleh mode global.

Fenomena ini terlihat dari maraknya komunitas dan gerakan yang mendorong penggunaan kebaya, seperti “Selasa Berkebaya” yang rutin dilakukan oleh perempuan di berbagai kota di Indonesia.

Melalui gerakan ini, perempuan tak hanya mengenakan kebaya, tetapi juga membangun solidaritas dan kesadaran akan nilai budaya yang melekat pada pakaian tradisional tersebut.

Di media sosial, tagar #Berkebaya kembali ramai, memperlihatkan kebaya dalam berbagai versi, dari yang klasik hingga yang dimodifikasi menjadi lebih kasual.




Menurut hasil riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023, sebanyak 68 persen responden perempuan usia 18 hingga 40 tahun menyatakan merasa lebih percaya diri dan bangga mengenakan kebaya karena merepresentasikan identitas keindonesiaan.

Riset ini juga mencatat bahwa peningkatan penggunaan kebaya tidak hanya terjadi di daerah Jawa, tetapi juga menyebar di luar Jawa, termasuk Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra.

Kebaya kini juga hadir dalam berbagai bentuk yang lebih inklusif. Banyak desainer lokal menghadirkan kebaya dengan bahan yang nyaman, potongan yang sederhana namun tetap anggun, dan ukuran yang ramah bagi semua bentuk tubuh.

Perempuan muda, yang sebelumnya merasa kebaya terlalu “kuno” atau tidak praktis, mulai memandangnya sebagai ekspresi gaya yang elegan dan otentik. Kebaya tidak lagi identik dengan tuntutan tradisional, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang tetap berakar pada nilai budaya.

Perempuan urban di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makassar, dan Surabaya juga menjadikan kebaya sebagai bagian dari fashion statement.

Tidak sedikit influencer dan figur publik perempuan yang mempromosikan kebaya dalam aktivitas harian mereka, dari pergi ke kantor, menghadiri acara sosial, hingga jalan-jalan santai. Ini menunjukkan bahwa kebaya bukan sekadar busana, tetapi juga simbol resistensi terhadap tekanan budaya global yang cenderung menyeragamkan selera.

Meningkatnya penggunaan kebaya juga menjadi ruang perjuangan baru bagi perempuan dalam meredefinisi makna kecantikan dan keberdayaan. Dalam balutan kebaya, perempuan dapat merayakan tubuhnya dengan cara yang mereka pilih sendiri, lembut, kuat, anggun, sekaligus penuh makna.

Kebaya menjadi bentuk pernyataan bahwa perempuan Indonesia mampu mendefinisikan diri mereka dengan warisan sendiri, bukan dengan standar luar yang seragam dan kerap menghapus keberagaman.

Kembalinya kebaya sebagai pilihan busana perempuan Indonesia bukan hanya tentang estetika, tetapi juga gerakan kultural yang menyiratkan bahwa perempuan kini aktif memilih untuk mencintai warisan budayanya. Di tengah gempuran globalisasi, kebaya menjadi wujud nyata dari semangat perempuan Indonesia untuk tetap berdiri tegak dalam identitasnya yang kaya dan beragam.

Suka berkelana ke tempat baru, terutama di alam bebas. Mencintai sastra fiksi dan tradisi. Berminat pada isu-isu ekofeminisme, gender, hak perempuan dan anak. Beberapa kali menerima fellowship liputan mendalam. Tercatat sebagai anggota AJI.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com