ZONAUTARA.com – Upaya konservasi sumber daya air dinilai semakin mendesak di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata. Pakar sumber daya air sekaligus Wakil Presiden Asia Water Council, Firdaus Ali, menegaskan bahwa pemerintah harus serius dan konsisten menjalankan komitmen konservasi air agar Indonesia mampu beradaptasi.
Hal itu ia sampaikan dalam forum “Konservasi Air dalam Rangka Beradaptasi dengan Perubahan Iklim” pada gelaran Indowater Expo & Forum 2025 yang digelar Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB (IATL ITB) bersama Napindo di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Menurut Firdaus, krisis iklim sudah terasa sejak 2018, tetapi langkah konkret pemerintah masih belum optimal.
“Kita gagal dalam mencapai target-target yang kita susun, yang kita announce berkali-kali,” ujarnya. “Kalau tidak kerja keras, tidak kerja cerdas, tidak mengerahkan semua resources, tidak kolaborasi, maka kita tidak akan bergerak jauh, dan untuk itu, harus ada komitmen kuat dari pemerintah.”
Ia juga menyinggung soal pendanaan yang kerap menjadi hambatan. “Kita harus menunjukkan (kalau) kita butuh bantuan (dari) siapa saja, jangan sombong, jangan belagu,” tegasnya.
Anggaran air masih jadi masalah
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Dewi Chomistriana, mengakui keterbatasan biaya dan kapasitas sumber daya manusia masih menjadi keluhan pemerintah daerah dalam pengelolaan air. Ia menyebut hingga 2024, Indonesia mencatat defisit ketersediaan air.
Untuk kebutuhan air minum, pemerintah kini berkoordinasi dengan Bappenas agar skema pendanaan lebih mudah diakses.
“Ke depan, akan dipisahkan betul alokasi anggaran air minum dan sanitasi sehingga lebih dapat diprioritaskan lagi,” jelas Dewi.
Dari sisi perencanaan, Direktur Kehutanan dan Konservasi SDA Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin, mengingatkan besarnya risiko yang dihadapi akibat perubahan iklim.
“12,7 juta hektare lahan kritis mengalami penurunan fungsi sebagai pengatur tata air di Indonesia, 100 juta penduduk dan 325 kabupaten/kota berisiko tinggi terpapar banjir, dan lebih dari 8 juta orang menderita dan mengungsi karena bencana selama tahun 2024,” paparnya.
Menurutnya, konservasi sumber daya air merupakan langkah penting untuk mengantisipasi krisis air bersih, banjir, hingga kekeringan akibat cuaca ekstrem.
Akademisi Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, menekankan pentingnya menjaga prinsip 3K: Kuantitas, Kualitas, dan Kontinuitas. Ia menilai banyak regulasi berhenti pada tahap aturan tanpa implementasi yang jelas.
“Ga perlu menambah regulasi, yang perlu itu, diawasi ga? Dikerjakan ga? Amanah ga? Yang penting itu regulasinya dikerjakan dengan amanah,” katanya.
Indowater Expo & Forum 2025 menjadi ruang strategis mempertemukan pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas untuk merumuskan solusi pengelolaan air. Forum ini diharapkan melahirkan aksi nyata, mulai dari kebijakan, inovasi teknologi, hingga program komunitas, guna memperkuat ketahanan air nasional sekaligus mendukung pencapaian SDGs.


