Dua korban jiwa pascagempa M5.8 Poso, Kepala BNPB tekankan ketahanan bangunan dan kucurkan bantuan

Editor: Redaktur
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto saat berdialog dengan para warga di Kantor Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (19/8). (Foto: BNPB)

ZONAUTARA.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto langsung bertolak ke Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Senin (18/8) untuk meninjau dampak gempa bumi berkekuatan M5.8 yang mengguncang wilayah tersebut sehari sebelumnya, Minggu (17/8). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung situasi dan kondisi terkini pascagempa yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur bangunan serta jatuhnya korban jiwa. 

Setibanya di Poso, Suharyanto segera meninjau lokasi terdampak parah, termasuk SDN 01 Tangkura di Poso Pesisir Selatan, di mana plafon ruang kelas ambruk dan kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara. Ia juga berdialog dengan warga terdampak di Kantor Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, mendengarkan aspirasi dan menekankan pentingnya pengecekan kondisi rumah serta penguatan struktur bangunan agar lebih tahan gempa.

Dua korban jiwa pascagempa M5.8 Poso, Kepala BNPB tekankan ketahanan bangunan dan kucurkan bantuan
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto (Baju hijau rompi hijau) saat meninjau kerusakan pascagempa di Sekolah SDN 1 Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (19/8).

Dalam dialognya dengan warga, Suharyanto menyampaikan pentingnya kewaspadaan pascagempa.

“Mohon bapak/ibu semua untuk saat ini dapat melakukan pengecekan kondisi rumah pascagempa. Apakah rumahnya ini masih dalam kondisi layak huni atau tidak. Karena upaya penguatan struktur bangunan juga kiranya dapat dilakukan untuk menjadikan rumah yang lebih tahan gempa,” jelas Suharyanto.

Kaji cepat sementara menunjukkan Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, menjadi lokasi paling terdampak dengan 8 orang luka ringan, 49 rumah rusak berat, 34 rumah rusak ringan, 3 rumah ibadah gereja, dan 1 sekolah dasar terdampak. Suharyanto juga akan memerintahkan tim gabungan untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap rumah ibadah di Desa Tangkura.




Apabila dinilai rentan, kegiatan disarankan tidak dilaksanakan di dalamnya demi keselamatan. Ia juga menekankan penguatan struktur bangunan di seluruh Kabupaten Poso, mencontohkan Gereja Jemaat Elim Masani yang masih direkonstruksi agar tidak digunakan jika belum rampung. 

Terkait penanganan pasca-gempa, Suharyanto menambahkan, “Setelah ini, dimohon para pemerintah daerah untuk melakukan pendataan terhadap rumah rusak yang ada akibat gempa. Nantinya BNPB akan memberikan bantuan stimulan rumah rusak sesuai dengan kategori kerusakan rumah”.

Bantuan stimulan yang akan diberikan adalah Rp15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat. 

Kondisi serupa juga terlihat di Desa Towu, Kecamatan Poso Pesisir, di mana rumah milik Daeng mengalami kerusakan parah pada bagian kamar. Wanita paruh baya tersebut sempat tertimpa runtuhan batako saat gempa terjadi, menunjukkan kerentanan bangunan yang belum diplester dan tanpa plafon. 

Berdasarkan perkembangan data terbaru di lapangan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Poso kini bertambah menjadi dua orang, di mana salah satunya sebelumnya dalam kondisi kritis dan dirawat di RSUD Poso. Selain itu, tercatat 9 orang luka berat dan 32 orang luka ringan. 

Menyikapi kondisi darurat ini, Pemerintah Daerah melalui Bupati Poso Verna G.M. Inkiriwang telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 24 hari, terhitung 18 Agustus hingga 31 Agustus 2025, melalui surat keputusan No. 100.3.3.2/0580/2025.

Bupati Verna juga menyatakan akan mempertimbangkan masukan BNPB mengenai penguatan struktur bangunan, seperti melapisi dinding dengan kawat anyam, sebagai upaya preventif mengingat bangunan yang tidak memenuhi kaidah tahan gempa seringkali menjadi penyebab utama kerusakan dan korban jiwa. 

Usai peninjauan lapangan, Suharyanto memimpin rapat koordinasi penanganan darurat di Kantor Bupati Poso, di mana BNPB juga menyerahkan bantuan logistik dan peralatan. Bantuan tersebut meliputi 100 paket sembako, 50 hygiene kit, 100 selimut, 100 matras, 50 velbed, 200 paket makanan siap saji, 3 unit tenda pengungsi, 25 unit tenda keluarga, serta paket makanan balita/anak dan kebutuhan pokok bagi kelompok rentan.

BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk mempercepat penanganan darurat dan pemulihan masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, waspada terhadap gempa susulan, dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan BNPB.

 

TAGGED:
Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com