Ampowplur: Kilas balik perjalanan menuju grunge

Redaksi ZU
Penulis: Redaksi ZU
Editor: Redaktur
Ampowplur saat tampil di Southern Noises. (Foto: Dok Southern Noises)

ZONAUTARA.com – Predikat sebagai band ugal-ugalan nampak cocok disematkan kepada Ampowplur.

Ketika mayoritas penampil memasang standar tinggi demi mendekati kesempurnaan, band asal Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut) ini justru asik bermain-main dengan ketidaksempurnaan itu sendiri.

Alih-alih terobsesi menjadi yang “terbaik”, Ampowplur justru lebih ingin terlihat berbeda.

Nyaris tak ada skill yang ditonjolkan masing-masing personel dalam tiap lagu. Sekilas drum, bass, gitar, dan vokalnya terdengar biasa saja.

Band yang digawangi Erik (vocal), Dani (gitar), Indra (gitar), Billy (bass) dan Bayu (drum) tak ingin muluk-muluk dalam bermusik. Bagi mereka pesan dalam sebuah lagu lebih penting dari cara penyampaiannya.




Gaya vocal Erik yang agresif sudah cukup menjelaskan bahwa lagu-lagu Ampowplur tak terlahir dari ruang hampa, melainkan berasal dari tumpukan keresahan.

Fill drum Bayu yang tak menampilkan kerumitan merupakan upaya penyajian kompleksitas melalui cara paling sederhana.

Pun demikian, dua gitar dan satu bass dalam lini instrumen Ampowplur senantiasa memainkan riff yang catchy.

Gaya musik Ampowplur yang terkesan seenaknya dan serampangan tak lepas dari perjalanan panjang dalam enam tahun terakhir yang merubah banyak hal, termasuk cara penyajian sebuah karya.

Pencarian Jati Diri

Awal terbentuk pada tahun 2019, Ampowplur menafsir berbagai unsur musik dalam karya-karyanya.

Bisa dibilang fase 2019 hingga akhir 2021 merupakan tahap penjajakan dan pencarian jati diri.

Beberapa karya yang lahir dalam rentang waktu ini punya karakter masing-masing.

Welcome to Ampowplur terdengar sangat rock n roll, sedangkan Love Monkey dan Malam Misteri memuat unsur slow rock dengan lead gitar yang melodius.

Tak Ada yang Percaya dan Pemuda Merdeka merupakan luapan hati dengan irama punk rock, serta Ketindisan terlahir sebagai lagu yang menggabungkan elemen pop dan blues. Lalu ada Sepagi Ini yang bertema pop folk.

Di fase ini, Ampowplur baru beranggotakan empat personel (tanpa Indra yang baru bergabung akhir 2021) dengan formasi instrumen, yakni drum, bass, gitar akustik dan gitar elektrik.

Tak dapat dipungkiri, musik Ampowplur di fase ini lebih ramah pendengar, terutama bagi remaja penghuni rumah kopi.

Tak ada emosi yang meledak-ledak, tak ada distorsi yang berat, dan tak ada dentuman kick bass yang menghentak.

Memilih Grunge

Pertengahan tahun 2022 atau tiga tahun setelah berdiri, sebuah keputusan penting diambil. Kiblat musik Ampowplur dikoreksi masing-masing personel yang di fase ini telah berjumlah lima orang. Jenis kelamin band harus segera diidentifikasi.

Dari sebuah proses yang pelik, lahirlah keputusan bahwa Ampowplur akan mengusung grunge, sebuah genre yang tak begitu populer (setidaknya bagi pendengar di Sulut). Bukan tanpa alasan, grunge dipilih karena dianggap dapat mewakili keunikan imajinasi masing-masing personel.

Musik Ampowplur mulai didominasi distorsi dari dua gitar yang memainkan riff demi riff. Kemampuan eksplorasi vokal Erik pun memegang peranan. Dia berhasil merubah cara bernyanyi menjadi lebih agresif namun tetap terdengar emosional.

Alhasil, lahirlah Kerasukan Nirvana sebagai lagu pertama yang memuat unsur grunge dan langsung mengundang atensi. Di luar dugaan, tema grunge yang diusung justru terterima dengan baik di telinga pendengar.

Gigs demi gigs disambangi, sembari berupaya tetap produktif menghadirkan karya terbaru di tengah kesibukan masing-masing personel. Dalam langkah penuh distorsi itulah lahir Xibat in Patung yang menyertakan unsur etnik Mongondow dalam bait liriknya.

Lagu ini juga mengadopsi notasi etnik Mogondow di bagian interlude. Masuknya Billy Yahya menggantikan Billy Blongkod di lini bass adalah jaminan musik Ampowplur tampil lebih cadas.

Ampowplur secara eksplisit menyuarakan kritik terhadap kondisi politik negeri ini melalui karya teranyarnya, Adilkah Penguasa?. Bagian reff dan orasi setelah interlude merupakan daya pikat lagu ini.

Perubahan genre inilah yang membuat kemasan musik Ampowplur nampak lebih sederhana dari band yang mengusung genre lain.

Semangat Kebersamaan

Saat Ampowplur tampil sebagai pembuka Southern Noises di Site Boulevard, Manado pada Jumat (22/08/2025), Erik menyuarakan pentingnya spirit kebersamaan.

“Karya anak lokal bukan hanya untuk didengar tapi untuk sama-sama disuarakan,” ucapnya di sela-sela penampilan Ampowplur.

Baginya, kebersamaan adalah hal mutlak yang harus dimiliki pekerja seni dan audiens agar semuanya dapat terhubung serta saling topang dan bahu membahu.

Pun demikian, bagi Ampowplur yang merupakan pendatang baru dalam skena musik Sulut, Do it Together bukan sekedar jargon, melainkan oase di pandang tandus. Dengan begitu, membuka diri adalah sebuah keniscayaan.

“Kita terbuka dengan siapa saja yang ingin bekerja sama dan berkolaborasi,” tambahnya.




Di sisi lain, Erik menjelaskan bahwa saat ini Ampowplur sedang menggodok banyak materi untuk merampungkan album. Tak tanggung-tanggung, Ampowplur direncanakan akan merilis dua E.P (Extended Play—album pendek yang biasanya berisi 3 hingga 7 lagu) sekaligus.

“Materinya sudah ada, saat ini sedang digodok. Setelah itu kita akan recording,” akunya.

Saat ini para pendengar yang tertarik baru bisa mendengarkan Welcome to Ampowplur melalui kanal YouTube. Sementara untuk lagu-lagu lain baru bisa dinikmati secara terbatas dari panggung ke panggung.

“Kita usahakan rilis album secepat yang kita bisa,” tutup Erik.

Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com