Catatan Perjalanan: Menembus malam Jakarta, dan sebuah penasaran yang terbayar

Melihat Ibu Kota dari dalam bajaj.

Editor: Redaktur
Aku dan bajaj

ZONAUTARA.com – Jakarta, Jumat malam (26/9/2025), saat langit mulai menggelap ketika langkah kaki saya menapaki trotoar Ibu Kota.

Di antara deru kendaraan dan lampu-lampu kota yang tak pernah padam, malam itu saya membayar lunas satu rasa penasaran lama, naik bajaj.

Bagi sebagian orang, bajaj mungkin hanyalah kendaraan lawas yang mulai terpinggirkan oleh hadirnya transportasi online. Tapi bagi saya yang datang dari Kotamobagu, bajaj adalah bagian dari cerita Jakarta yang ingin sekali saya rasakan langsung. Dan malam ini, keinginan itu akhirnya terwujud.
Dari kejauhan, suara khas mesin bajaj terdengar keras, agak serak, dan sedikit menggetarkan jalanan.

Bang Rony melambaikan tangan, dan dalam hitungan detik, kendaraan kecil berwarna biru cerah itu berhenti tepat di depan kami.

“Mau ke mana, Bang?” tanya si sopir ramah, suaranya nyaris tenggelam oleh bising jalanan kepada Bang Rony.




Muter-muter aja dulu” jawab Bang Ronny singkat.

Perjalanan dimulai. Di tengah padatnya lalu lintas Jakarta, bajaj yang kami tumpangi menyusup lincah. Belok ke gang kecil, menyalip kendaraan besar, dan kadang menerobos celah yang nyaris mustahil. Rasanya seperti naik bentor di Kotamobagu tapi lebih cepat, lebih mengguncang, dan lebih bebas.

Saya sempat berpikir, mungkin beginilah sensasi naik roda tiga urban yang sesungguhnya. Tak ada AC, tak ada sabuk pengaman, hanya angin malam dan suasana kota yang menyergap dari segala arah. Tapi justru di situlah letak kenikmatannya.

Jakarta terasa lebih nyata dari balik bajaj. Setibanya di kawasan Monas, suasana langsung berubah. Lampu-lampu taman menyala syahdu, dan kerumunan manusia mulai tampak dari kejauhan. Namun ada yang berbeda malam ini, Monas dikelilingi oleh puluhan tentara berseragam lengkap. Barikade dipasang di beberapa titik.

“Lagi ada kegiatan di dalam” ujar sopir bajaj menjawab tatapan heran kami. Ia sendiri tak tahu pasti acaranya apa, tapi dari raut wajahnya, situasi seperti ini bukanlah hal asing di Jakarta.

Usai berkeliling saya turun, berdiri sejenak di trotoar, mencoba mengamati suasana. Beberapa pejalan kaki tampak penasaran, sama seperti saya. Namun tak ada kegaduhan, tak ada hiruk-pikuk yang berlebihan. Hanya barisan tentara, suara toa dari kejauhan, dan Monas yang berdiri anggun di tengah kota diam namun tetap memikat.

Malam semakin larut, angin membawa bau tanah yang baru saja disiram, entah oleh hujan atau percikan air taman. Kami berjalan pelan menjauhi kerumunan, sambil menoleh ke arah bajaj yang perlahan kembali menyusup ke lalu lintas, hilang ditelan malam.

Bagi saya, malam ini bukan tentang tujuan, tapi tentang perjalanan. Tentang bajaj yang sederhana namun menghidupkan rasa. Tentang Monas yang tetap kokoh di tengah geliat kota. Dan tentang bagaimana kota ini dengan segala kerumitannya masih bisa menyimpan kejutan-kejutan kecil yang menghangatkan hati.

Jakarta, malam ini aku mengingatmu dengan cara yang berbeda. Lewat suara mesin bajaj tatapan sopir yang ramah, dan langkah kaki yang sempat terpaku di bawah cahaya Monas.

TAGGED:
Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com