Menemukan harapan suapan terakhir pada “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Resensi Buku

Editor: Ronny Adolof Buol

ZONAUTARA.com – Ada sesuatu yang menenangkan dari semangkuk mie ayam. Hangat, sederhana, akrab, dan entah bagaimana bisa mengobati lelah tanpa banyak bicara. Tapi siapa sangka, dalam tangan penulis Brian Khrisna, semangkuk mie ayam justru menjadi metafora paling menyentuh tentang hidup, kehilangan, dan alasan untuk bertahan.

Ketika pertama kali melihat judulnya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati banyak rasa penasaran sekaligus getir. Apakah buku ini tentang kuliner? tentang kematian? Atau tentang seseorang yang ingin menutup hidupnya dengan menu kesukaannya?

Namun setelah membaca beberapa halaman, saya segera tahu, buku ini bukan sekadar cerita tentang makanan, melainkan tentang manusia tentang seseorang yang sedang begitu letih hingga ia berpikir bahwa dunia sudah tak menyediakan tempat lagi untuknya.

Tokoh utamanya bernama Ale, seorang pria berusia 37 tahun yang hidupnya dibalut sunyi. Ia bergulat dengan rasa rendah diri, tubuh yang sering diejek, dan pikiran-pikiran yang semakin gelap. Dalam satu titik terendah hidupnya, Ale memutuskan satu hal, ia ingin mengakhiri hidupnya tapi setelah menikmati seporsi mie ayam terlebih dahulu.

Sederhana, tapi menyentuh. Karena justru di situlah Brian Khrisna menanamkan pesan, bahwa kadang alasan untuk bertahan tidak datang dari hal besar, melainkan dari sesuatu yang sangat kecil semangkuk mie ayam, aroma kuah yang akrab, atau sekadar ingatan bahwa dulu kita pernah bahagia.




Antara realitas dan renungan

Melalui gaya bercerita yang ringan namun reflektif, Brian mengajak pembaca masuk ke dalam ruang-ruang batin Ale. Di sana ada gelap, ada getir, tapi juga ada sisa-sisa cahaya yang perlahan tumbuh.
Bahasanya mengalir seperti percakapan tidak menggurui, tidak berpretensi bijak, tapi terasa jujur dan manusiawi.

Brian sendiri pernah mengatakan bahwa buku ini adalah bentuk penghormatan pada orang-orang yang bertahan, meskipun mereka tidak selalu menang. Ia ingin menulis tentang “kehidupan sehari-hari yang tampak biasa, tapi ternyata menyimpan pertempuran hebat di dalamnya.” (Dikutip dari Suara.com)

Maka jangan harap menemukan kisah heroik atau akhir bahagia di setiap bab. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati justru menantang pembaca untuk memeluk kenyataan bahwa hidup tidak selalu indah, tapi masih layak dijalani, bahkan hanya untuk menikmati hal kecil yang membuat kita tersenyum sebentar.

Sejak diluncurkan, buku ini langsung ramai dibicarakan. Banyak pembaca menulis di media sosial bahwa mereka menangis diam-diam setelah membaca kisah Ale. Ada yang merasa “terlihat”, ada yang merasa “diselamatkan”.

Di tengah lautan buku motivasi yang sibuk mengajarkan cara bahagia, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati hadir dengan cara berbeda, ia tidak memaksa kita bahagia, tapi mengajak kita berdamai dengan luka.

Brian Khrisna memang sudah dikenal lewat tulisan-tulisannya yang reflektif dan puitis. Namun lewat buku ini, ia mencapai kedewasaan baru dalam bercerita. Ia tidak hanya menulis tentang rasa sedih, tapi juga mengajak pembaca menatap langsung wajah depresi tanpa takut.

Dan di akhir cerita…

Ketika sampai di halaman terakhir, pembaca mungkin berharap kisah Ale berakhir dengan keajaiban mungkin ia berubah, menemukan cinta, atau mendapatkan secercah kebahagiaan besar.

Tapi Brian memilih jalan yang lebih jujur, Ale memang tidak tiba-tiba “sembuh”. Ia hanya menemukan satu alasan kecil untuk tetap melangkah rasa hangat mie ayam di lidahnya, aroma kaldu yang membawa ingatan pada masa kecil, dan bisikan lembut di kepalanya bahwa hidup, sesulit apa pun, masih punya rasa. Dan di antara refleksi itu, Brian menyelipkan kalimat yang entah lucu, entah pilu.

Mungkin Tuhan menciptakan mie ayam supaya manusia punya alasan untuk menunda mati, walau cuma sebentar.

Kalimat itu sederhana, tapi menggigit membuat kita tertawa kecil sekaligus menelan ludah, karena tahu betul kadang memang hanya hal seremeh itu yang membuat kita bertahan.

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan buku tentang kematian, tapi tentang kehidupan yang berjuang untuk tetap hidup. Tentang manusia yang hancur tapi masih mau duduk, mengambil sumpit, dan berkata: “Aku belum selesai.”

Brian tidak sedang mengajak kita menangisi hidup, tapi mengajarkan cara paling sederhana untuk menghargainya dengan memberi ruang bagi rasa lapar, rasa sedih, dan rasa ingin mencoba lagi.
Karena siapa tahu, di antara uap mie ayam yang mengepul itu, ada sejumput harapan yang diam-diam ingin kita temukan.


Identitas Buku

Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Pengarang: Brian Khrisna
Penerbit: Grasindo, Jakarta (Penerbit pertama kali PT Gramedia Widiasarana Indonesia)
Tahun terbit: 2025
Tebal halaman: 216 halaman
Ukuran buku: 13,5 x 20 cm
ISBN: 978-602-05-3132-8
Harga: Rp. 93.000 (pulau Jawa)

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com