Pamit memancing, dua remaja di Sitaro ditemukan meninggal dunia di pantai

Tenggelam di pantai Mohon Salu, Desa Kinali.

Editor: Redaktur
Salah satu korban saat berada di rumah duka. (Foto : Istimewa)

ZONAUTARA.com — Dua remaja laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah ditemukan tewas tenggelam di Pantai Mohong Salu, Desa Kinali, Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sabtu (18/10/2025).

Kedua korban adalah Noverlando Salindeho (12) Warga Desa Kinali dan Leandro Adilang (14) Warga Desa Winangun. Korban dikabarkan meninggal dunia karena tenggelam saat memancing.

Kejadian bermula sekitar pukul 08.00 WITA, ketika kedua korban berpamitan kepada orang tua mereka untuk memancing di Pantai Mohong Salu. Kawasan pantai tersebut dikenal menjadi tempat favorit warga mencari ikan kecil, namun memiliki arus laut yang cukup kuat dan berbahaya, terutama bagi anak-anak. 

Sekitar pukul 15.00 WITA, seorang warga bernama Meiva Kalensang mendengar teriakan minta tolong dari arah pantai. Ia segera meminta bantuan kepada Kapitalau (kepala desa) Winangun, Frangky Tatambihe, dan beberapa warga lain. Saat tiba di lokasi, mereka menemukan tas dan ponsel di atas batu, diduga milik korban. 

Warga kemudian melakukan pencarian dengan cara menyelam di radius 10 meter dari tanjung pantai. Upaya ini akhirnya membuahkan hasil ketika seorang warga, Jetro Gansa melihat dua tubuh tertelungkup di kedalaman sekitar empat meter. Kedua korban segera dievakuasi bersama warga lainnya, termasuk Jendri Kundimang. 




Meski sempat diberikan pertolongan pertama, nyawa kedua remaja tersebut tak terselamatkan. Jenazah lalu dibawa ke rumah Kapitalau Winangun sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing. 

Tangis keluarga

Santi Nondo, tak kuasa menahan kesedihan. Beberapa kali ia terlihat berteriak nama putranya. Ibu dari Leandro, ini menceritakan anaknya berpamitan untuk pergi memancing. 

“Dia sempat bilang mau memancing sebentar. Saya tunggu sampai sore tapi tak kembali,” ujarnya lirih.

Sementara itu, Norce Tahulending, ibu dari Noverlando, mengaku sempat melarang anaknya pergi.

“Saya dengar dia dipanggil Leandro, saya sempat larang. Tapi waktu saya cek, dia sudah tidak ada di rumah,” ucapnya penuh sesal. 

Warga yang ikut melakukan pencarian sempat menyiarkan suasana panik melalui media sosial, memperlihatkan bagaimana masyarakat bergotong royong mencari kedua remaja tersebut.

Menurut Kepala Puskesmas Hiung, dr. Youraine A. Ruitang, yang memeriksa jenazah, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. 

“Keduanya meninggal karena kekurangan oksigen (hipoksia),” jelasnya. 

Sementara itu, Kapolsek Siau Barat AKP Ronny Mamengko, menegaskan bahwa hasil olah tempat kejadian menunjukkan peristiwa ini murni kecelakaan.

“Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan ataupun unsur pidana,” tegasnya. 

Pihak keluarga pun menolak dilakukan autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.

TAGGED:
Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
1 Comment
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com