ZONAUTARA.com—Di bidang tanah yang tak begitu luas, berdiri gedung SD Negeri Oboy, Desa Pusian, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
SD Negeri Oboy terletak di antara perkebunan yang didominasi jagung dan padi. Hal itu tak lepas dari identitas Dumoga secara umum sebagai kawasan yang dikenal sebagai sentra produksi beras utama di wilayah Bolmong, yang juga menjadi lumbung beras Sulut.
Di kawasan sekolah, ada dua bangunan utama yang memanjang, masing-masing diberi sekat dari papan kayu sebagai pembatas antara kelas yang satu dan lainnya. Ruang guru terletak di ujung salah satu bangunan.
Ada pula satu koridor beratap yang dibangun sebagai penghubung kedua bangunan utama tersebut.
Meski matahari sedang menyengat, bocah-bocah dengan seragam lengkap nampak asik bermain di halaman ketika waktu istirahat tiba.
Mereka riang dan bersemangat meski berada di tengah berbagai kekurangan yang kemungkinan besar belum mereka sadari.
Dari luar, SD Negeri Oboy terlihat seperti sekolah pada umumnya. Namun saat diamati dari dekat, barulah nampak segala kekurangan sekolah yang telah berdiri puluhan tahun itu: beberapa tiang mulai diserang rayap, plafon berlubang, dan tak ada listrik.
Ya, anda tak salah baca, SD Negeri Oboy yang total siswanya hanya berjumlah 44 orang itu memang belum punya akses listrik. Alhasil, metode pembelajaran yang bergantung pada listrik, tak bisa dilakukan.
Ketiadaan listrik juga mengakibatkan pengurusan administrasi sering kali terbengkalai atau setidaknya tertunda.
Pun kebutuhan seperti mengisi daya ponsel dan laptop serta mencetak berkas dan materi ajar tak dapat dilakukan di sekolah. Semuanya harus diselesaikan di rumah.
Tak hanya itu, persediaan air untuk toilet harus ditimba secara manual tanpa menggunakan pompa air karena ketiadaan listrik.
Bahkan, salah seorang guru honorer yang merangkap tugas sebagai penjaga sekolah, harus menyambung listrik secara mandiri.
Ia yang memang tinggal di dalam kawasan sekolah, memilih menyambung listrik dari rumah warga yang bertetangga dengan bangunan sekolah.
7 tahun tanpa listrik
Akses listrik di SD Negeri Oboy putus sejak tahun 2018. Hal itu disampaikan Kepala Sekolah Agustine Saisak saat ditemui Zonautara.com, Selasa (22/10/2025) di ruangannya.

Ia yang telah mengajar di sekolah tersebut sejak 2008 menjabarkan, jaringan listrik putus jauh sebelum ia menjabat Kepala Sekolah pada tahun 2024.
Tujuh tahun berlalu tanpa listrik, media pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka tak dapat diterapkan sepenuhnya. Di mana, media pembelajaran berbasis digital belum optimal dilaksanakan.
“Sekarang pembelajaran untuk Kurikulum Merdeka seharusnya pakai media pembelajaran (berbasis digital),” ucapnya.
PLN hadir sebagai pelita bagi pendidikan
Pada Agustus 2025, dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia, PLN hadir di SD Negeri Oboy.
PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kotamobagu melaksanakan Program Light Up The Dream (LUTD).
Program LUTD sendiri merupakan program bantuan penyambungan listrik gratis yang didanai dari donasi sukarela para pegawai PLN.

Manager PLN UP3 Kotamobagu, Hengky Purbo Lesmono dalam keterangan resmi yang diterima Zonautara.com menyebut, program LUTD merupakan langkah nyata PLN untuk memastikan setiap anak bangsa memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang layak, salah satunya adalah akses listrik.
“Melalui Light Up The Dream, PLN ingin memastikan sekolah dan anak-anak kita bisa belajar dengan lebih baik karena terang adalah jalan menuju masa depan,” ujarnya.
Senada, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun mengatakan, listrik bukan sekedar komoditas melainkan fondasi bagi kemajuan suatu bangsa.
“Dengan memberikan listrik gratis kepada sekolah, kami berharap dapat menerangi masa depan anak-anak Indonesia. Membantu mereka belajar dengan lebih nyaman dan membuka akses ke berbagai sumber informasi,” ucap Usman.
Komitmen PLN wujudkan energi berkeadilan
Apa yang dilakukan PLN UP3 Kotamobagu di SD Negeri Oboy merupakan salah satu upaya mewujudkan energi berkeadilan sebagai suatu konsep yang memastikan akses energi yang merata bagi seluruh rakyat, dengan harga yang terjangkau dan berkelanjutan, serta mengoptimalkan potensi sumber energi lokal.

Hal tersebut sejalan dengan peryataan Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri yang menegaskan kesiapan dan komitmen PLN dalam menghadirkan listrik hingga ke seluruh penjuru tanah air.
Menurutnya, terwujudnya energi berkeadilan merupakan bagian dari amanah Pancasila untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
“PLN akan menjalankan mandat dari pemerintah untuk meningkatkan dan mengalirkan listrik ke pelosok negeri. Dan karena bagi kami, terang ini bukan sekedar cahaya tapi ini tanda hadirnya keadilan, kemajuan, dan harapan bagi seluruh anak negeri,” ucapnya.
Visi besar PLN tesebut kemudian diejawantahkan, salah satunya melalui Program LUTD. Selain SD Negeri Oboy, PLN UP3 Kotamobagu juga melakukan penyambungan listrik gratis di sepuluh sekolah lainnya.
Hingga saat ini setidaknya 35 pelanggan telah menerima bantuan penyambungan listrik gratis melalui Program LUTD oleh PLN UP3 Kotamobagu.

“Total 35 pelanggan. Rumah tangga sebanyak 24 pelanggan dan sekolah sebanyak 11 pelanggan,” ujar Holino Makrawung.
Dikutip dari data BPS Sulut, rasio elektrifikasi Kabupaten/Kota di Sulut pada tahun 2022-2024 rata-rata berada pada angka 99 persen.
Hal tersebut mengindikasikan keberhasilan pemerataan elektrifikasi yang di Sulut dalam beberapa tahun terakhir.
Program LUTD tuai apresiasi
Tentu keberhasilan program LUTD mendapat respons positif dari berbagai pihak, salah satunya datang dari Pengamat Pendidikan, Hamdi Gugule.
Ia menyebut, program LUTD wajib diapresiasi oleh seluruh masyarakat sebab program tersebut merupakan bentuk kepedulian PLN terhadap warga kurang mampu dan juga lembaga pendidikan.

Hamdi yang juga merupakan mantan dosen di Universitas Negeri Manado mengatakan, ketersediaan listrik di lembaga pendidikan merupakan hal yang urgen, terlebih dalam metode pembelajaraan saat ini yang berbasis digital.
“Karena salah satu kendala di sistem pembelajaran digital modern adalah ketersediaan listrik,” ujarnya saat dihubungi Zonautara.com, Kamis (23/10/2025).
Sehingga ia berharap, program LUTD dan sejenisnya akan terus berlanjut hingga ke pelosok daerah-daerah yang belum memiliki akses listrik.
Selain itu, ia menilai, apa yang dilakukan PLN UP3 Kotamobagu di SD Negeri Oboy merupakan kontribusi nyata dalam memajukan pendidikan di seluruh penjuru Indonesia.
“Sehingga dengan penyambungan secara gratis ini ikut menunjang pembelajaran secara digital di sekolah. Dengan program ini juga PLN memberi kontribusi terhadap pendidikan di indonesia,” pungkasnya.



