Kenaikan jumlah kendaraan bisa picu kelangkaan BBM di Sitaro

Editor: Neno Karlina Paputungan
Antrian kendaraan di APMS Ulu di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Foto : Jufri / ZONAUTARA.com.

ZONAUTARA.com – Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) khususnya jenis Pertalite di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kembali menjadi perhatian publik.

Antrean panjang di agen penyalur, serta keluhan masyarakat yang kesulitan memperoleh BBM, kian sering terdengar.

Namun di balik fenomena ini, ada faktor lain yang patut dicermati, pertumbuhan jumlah kendaraan dan meningkatnya aktivitas ekonomi berbasis energi.

Data Dinas Perhubungan Kabupaten Sitaro, menjelaskan bahwa jumlah kendaraan bermotor di daerah tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan, pada tahun 2024 tercatat sebanyak 6.633 unit kendaraan, terdiri atas 5.681 unit roda dua dan 952 unit roda empat. Sedangkan pada tahun 2025 meningkat menjadi 7.103 unit, dengan rincian 6.097 unit roda dua dan 1.006 unit roda empat.




“Dalam setahun terjadi kenaikan sekitar 470 unit kendaraan, atau sekitar tujuh persen. Pertambahan ini tentu berdampak langsung terhadap peningkatan konsumsi bahan bakar di lapangan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Sitaro, Indra Purukan, Senin (20/10/2025).

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Sitaro, Jelin Yolanda Langitan, menyebutkan bahwa kuota BBM untuk wilayah Sitaro tahun ini mencapai 4.522 kiloliter Pertalite.

Untuk penyaluran di tingkat agen, APMS Maranatha di Siau mendapat jatah sekitar 120 kiloliter per bulan, sedangkan APMS Sawang memperoleh sekitar 80 kiloliter per bulan.

“Pemerintah daerah sudah berupaya menambah kuota hingga 20 persen setiap tahun agar kebutuhan masyarakat terpenuhi. Namun dengan tren pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi, perlu dilakukan evaluasi agar distribusi tetap seimbang,” jelas Jelin.

Selain kendaraan pribadi dan transportasi umum, sektor lain seperti pariwisata dan perikanan juga memberi kontribusi besar terhadap konsumsi BBM di Sitaro.

Harry Kakunsi, salah satu pengelola jasa pariwisata di Pulau Siau, mengakui bahwa kebutuhan bahan bakar di sektor pariwisata cukup tinggi.

“Untuk melayani para turis yang berwisata laut dan keliling pulau, kami butuh tidak kurang dari 600 liter BBM setiap bulan. Itu belum termasuk kebutuhan tambahan saat musim liburan,” ungkap Harry.

Kebutuhan tinggi dari berbagai sektor ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasokan BBM di wilayah kepulauan seperti Sitaro bukan hanya berasal dari pertambahan kendaraan, tetapi juga dari aktivitas ekonomi yang terus tumbuh.

Kondisi ini menegaskan pentingnya sinkronisasi data antara jumlah kendaraan, kebutuhan nelayan, serta aktivitas ekonomi lainnya dengan kuota BBM yang disediakan pemerintah. Tanpa perencanaan berbasis data, penambahan kuota tiap tahun tidak akan cukup mengatasi kelangkaan di lapangan.

Dengan meningkatnya aktivitas transportasi dan pariwisata, pemerintah daerah diharapkan terus melakukan pemantauan konsumsi BBM secara dinamis, sekaligus mengedukasi masyarakat agar menggunakan bahan bakar secara bijak dan efisien.

 

Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
1 Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com