ZONAUTARA.com – SETIAP PAGI, sebelum matahari menembus pepohonan di pesisir Binerean, Bolaang Mongondow Selatan, seorang lelaki bernama Hanafi sudah bersiap menembus ombak. Ia berangkat dengan perahu kecil atau berjalan kaki selama satu jam menuju lokasi peneluran burung maleo.
Tak peduli hujan atau badai, ia tetap berangkat.
“Harus berangkat, sebab mengingat telur jangan sampai terendam air,” katanya pelan.
Hanafi sudah 18 tahun menjadi penjaga maleo, burung endemik Sulawesi yang kini terancam punah. Dulu ia justru seorang pemburu telur maleo, saat masih berusia sembilan tahun, ia belajar sendiri menggali pasir untuk mencari telur untuk dikonsumsi. Bersama pemburu lainnya dalam sehari, mereka bisa mendapat 30 butir telur.
Perubahan hidupnya bermula pada tahun 2007. Keponakannya yang bekerja dengan Wildlife Conservation Society (WCS) meninggal dunia, dan lembaga konservasi itu mencari pengganti dari Desa Mataindo.
Mikrokosmos di laboratorium evolusi yang hidup
Sebelum kisah Hanafi berlanjut, penting untuk memahami kawasan ini. Binerean, di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara bukanlah sekadar pesisir terpencil. Ia adalah garis depan di salah satu zona biogeografis terpenting di planet ini, sebuah wilayah yang didefinisikan oleh seorang naturalis Inggris abad ke-19, Alfred Russel Wallace.
Pada tahun 1858, sambil memulihkan diri dari demam di Ternate, Wallace merumuskan secara independen teori evolusi melalui seleksi alam, sebuah gagasan yang mendorong Charles Darwin untuk segera mempublikasikan karyanya yang lebih terkenal, On the Origin of Species. Selama delapan tahun perjalanannya, yang didokumentasikan dalam mahakarya The Malay Archipelago (1869), Wallace mengidentifikasi sebuah “tembok” tak kasat mata yang membelah keanekaragaman hayati kepulauan ini.
Batas ini, yang kini dikenal sebagai “Garis Wallace” (Wallace’s Line), membentang di antara Borneo dan Sulawesi, serta antara Bali dan Lombok. Di sebelah barat garis, fauna jelas bersifat Asia (gajah, harimau, badak). Di sebelah timur, fauna bersifat Australia (marsupialia seperti kanguru). Penyebabnya bukanlah jarak daratan, melainkan palung laut yang dalam di Selat Lombok, yang bahkan pada Zaman Es, ketika permukaan laut turun drastis, tetap menjadi penghalang air yang tidak dapat diseberangi oleh sebagian besar mamalia darat.

Pulau Sulawesi, tempat Hanafi berada, adalah jantung dari zona transisi unik yang disebut “Wallacea“, tidak murni Asia, tidak murni Australia. Isolasi selama jutaan tahun ini mengubah Wallacea menjadi “laboratorium evolusi” yang hidup. Tanpa predator mamalia besar dari Asia, bentuk-bentuk kehidupan yang lebih kuno dan unik dapat berevolusi dan bertahan. Burung Maleo adalah produk sempurna dari isolasi ini; ia adalah simbol hidup dari keunikan Wallacea.
“Pak Iwan (WCS) akhirnya menemui saya. Masih honor, belum kontrak, dari 2007. Saya bahkan masih sempat tinggal di tempat pengasapan kelapa selama enam bulan,” kenang Hanafi saat ditemui di rumahnya di Desa Mataindo beberapa waktu yang lalu.
Sejak itu, Hanafi beralih dari pemburu menjadi pelindung. Tugasnya mencari telur maleo di pantai, memindahkannya ke lokasi penetasan, lalu mencatat setiap temuan.
“Dulu 2009 laporan datanya masih tiap minggu, sekarang tiap hari harus bikin laporan,” ujarnya.
Menurut Hanafi maleo biasanya turun jam enam pagi dan bertelur hingga jam sepuluh. Jika ada gangguan seperti perahu lewat atau orang memancing, indukan akan menunda bertelur hingga sore.
Macrocephalon maleo: Burung yang menitipkan takdir pada bumi
Tugas harian Hanafi adalah memindahkan telur ke lokasi penetasan. Terdengar sederhana, namun itu adalah intervensi kritis terhadap salah satu strategi reproduksi paling unik dan paling rapuh di dunia.
Burung Maleo, atau Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo), adalah satu-satunya anggota dari genusnya. Dengan bulu hitam legam, perut merah muda salmon pucat, dan “helm” atau casque hitam menonjol di kepalanya, penampilan burung ini sangat khas. Ia adalah anggota famili Megapodiidae (berkaki besar), yang berarti ia tidak mengerami telurnya menggunakan panas tubuh.
Sebaliknya, pasangan Maleo—yang dikenal monogami seumur hidup, mengandalkan inkubator alami. Mereka akan menggali lubang besar di pasir pantai yang dipanaskan oleh matahari, atau di tanah hutan dekat mata air panas yang dipanaskan oleh energi geotermal.
Strategi ini memiliki keajaiban evolusioner. Telur Maleo berukuran sangat besar, kira-kira lima kali ukuran telur ayam domestik. Ukuran masif ini diperlukan karena telur itu mengandung nutrisi yang cukup untuk mengembangkan anakan yang sudah jadi. Setelah terkubur, induk Maleo pergi dan tidak pernah kembali.
Setelah menetas jauh di bawah tanah, anak Maleo harus berjuang naik ke permukaan, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga 48 jam. Begitu ia menghirup udara pertama, ia adalah burung superprecocial. Ia sepenuhnya mandiri. Dalam beberapa jam, ia bisa terbang, mencari makan sendiri, dan harus menghindari predator tanpa pernah mendapat asuhan induknya.
Namun, keunikan biologis inilah yang menjadi kelemahan terbesarnya. Strategi bertelur komunal di lokasi yang sama dan terekspos dari tahun ke tahun menjadikannya “prasmanan” yang mudah bagi predator. Selama berabad-abad, ancaman terbesar adalah manusia, seperti Hanafi di masa lalunya, yang memanen telur-telur kaya protein tersebut.
Kini, ancaman tersebut diperparah dengan semakin hilangnya “inkubator” alami itu sendiri. Maleo terikat secara biologis pada lokasi peneluran dengan suhu yang spesifik. Ketika nesting ground ini diubah menjadi perkebunan, pemukiman, atau lokasi tambang, seluruh populasi lokal terancam lenyap.

Akibat kombinasi ancaman ini, populasi Maleo telah anjlok. Beberapa studi menyebutkan penurunan drastis hingga 90% sejak tahun 1950-an. Statusnya dalam Daftar Merah IUCN (International Union for the Conservation of Nature) adalah “Terancam Punah” (Endangered).
Pernah, saat banjir melanda, Hanafi tetap berangkat dengan bambu yang diikat tali, menantang arus air dan ancaman buaya, kobra, hingga piton.
“Pokoknya puas,” ujarnya sambil tersenyum.
Protected Area Specialist WCS-IP Sulawesi, Herman Teguh, mengatakan, bahwa dedikasi seperti yang dilakukan Hanafi sangat penting bagi keberlangsungan spesies endemik.
“Hanafi adalah contoh nyata bagaimana pengetahuan lokal bisa menjadi kekuatan konservasi. Maleo tidak bisa diselamatkan hanya dengan pagar kawasan, tapi lewat kehadiran orang-orang seperti dia yang setiap hari menjaga,” ujar Herman.
la menambahkan, di Sulawesi ada tiga faktor penting dalam penyelamatan maleo: lokasi peneluran, habitat, dan koridor. “Kalau salah satunya rusak, populasi tetap terancam,” katanya.

Jaringan penyelamat di Sulawesi Utara
Hanafi tidak bekerja sendirian. Dia adalah simpul penting dalam jaringan kolaboratif yang kompleks, di mana setiap lembaga memainkan peran unik untuk melindungi ketiga pilar tersebut. Di Sulawesi Utara, penyelamatan Maleo bukanlah kerja solo, melainkan sebuah mosaik kolaborasi.
Wildlife Conservation Society (WCS-IP): Model penjaga berbasis komunitas
WCS, lembaga tempat Hanafi bernaung, adalah pelopor konservasi Maleo berbasis sains dan komunitas di Sulawesi, yang telah dimulai sejak 2001. Model mereka di Binerean sederhana namun brilian: mengamankan nesting ground, mengelola hatchery (penetasan) semi-alami, dan menerapkan local guardianship (penjagaan lokal).
Bagian terpenting adalah yang ketiga. WCS secara strategis merekrut mantan pemburu telur, memberikan mereka insentif ekonomi untuk beralih dari ekstraksi menjadi proteksi. Hanafi adalah contoh sempurna dari strategi “membalik” ancaman menjadi solusi ini. Pengetahuan lokalnya dalam mencari telur kini menjadi aset konservasi yang tak ternilai.
Model ini terbukti sangat efektif. Sejak 2001, di lanskap Bogani yang lebih luas (termasuk situs-situs di dalam Taman Nasional dan di Binerean), WCS telah berhasil menetaskan dan melepaskan belasan ribu anak Maleo ke alam liar. Di beberapa situs yang mereka kelola, populasi Maleo yang datang bertelur dilaporkan meningkat hingga empat kali lipat.
Balai TNBNW: Benteng suaka dan advokasi publik
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) adalah otoritas negara yang mengelola “benteng pertahanan” utama Maleo, melindungi beberapa nesting ground geotermal (pedalaman) terpenting, seperti di Tambun, Hungayono, dan Muara Pusian. WCS juga bermitra erat di dalam taman nasional ini.
Selain perlindungan kawasan, BTNBNW berinovasi dalam pelibatan publik. Program andalan mereka adalah “Maleo Foster Parents” (Orang Tua Asuh Maleo). Ini adalah skema di mana pengunjung atau donatur dapat “mengadopsi” sebutir telur.
Peserta berdonasi, dapat mengamati Maleo bertelur, dan menyaksikan telur mereka dipindahkan ke hatchery yang aman dengan nama mereka terpasang. Sekitar 60-80 hari kemudian, ketika telur menetas, “orang tua asuh” akan menerima sertifikat, pin, dan dokumentasi foto serta video pelepasan anak Maleo mereka. Ini adalah strategi brilian yang mengubah konservasi dari konsep abstrak menjadi transaksi emosional yang personal, sekaligus menciptakan duta konservasi global.

BKSDA Sulawesi Utara: Kemitraan menghidupkan kembali yang mati
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara adalah otoritas konservasi di luar kawasan taman nasional, yang juga fokus pada penegakan hukum dan penyelamatan satwa. Strategi kunci BKSDA Sulut adalah memelopori kemitraan strategis dengan sektor swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR).
Studi kasus paling menonjol adalah di KPHK Tangkoko, Bitung. Situs nesting ground Rumesung di sana tercatat sudah tidak aktif selama bertahun-tahun, dengan populasi lokal diperkirakan hanya tersisa 6 ekor. Mulai tahun 2018-2019, BKSDA Sulut berkolaborasi dengan PLN Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Minahasa. PLN mendanai pembangunan hatchery, pembersihan areal nesting ground dari vegetasi yang menghalangi, penanaman pohon pakan, dan patroli penjagaan telur.
Hasilnya luar biasa. Maleo kembali datang untuk bertelur. Ini adalah keberhasilan pembiakan pertama yang tercatat di lokasi tersebut dalam 100 tahun terakhir. Hingga tahun 2024, kemitraan ini telah berhasil menetaskan dan melepaskan sekitar 20 anak Maleo. Meskipun angkanya jauh lebih kecil dari capaian di Binerean, signifikansinya sangat besar. Ini adalah bukti konsep bahwa nesting ground yang “mati” dapat dihidupkan kembali.
Pemerintah Kabupaten Bolsel: Payung hukum untuk koridor kehidupan
Di sinilah pilar ketiga koridor menjadi sangat penting. Lokasi kerja Hanafi di Tanjung Binerean sebagian besar berada di Area Penggunaan Lain (APL), bukan kawasan konservasi, sehingga secara hukum sangat rentan.
Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan turun tangan dengan inovasi legal yang krusial. Pemkab Bolsel menelurkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Kawasan Pengungsian Satwa. Ini adalah terobosan hukum, disebut sebagai yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, yang dirancang khusus untuk melindungi koridor hidupan liar di luar kawasan konservasi formal.
Pemkab Bolsel tidak berhenti di situ. Bekerja sama dengan WCS, mereka juga menghubungkan konservasi dengan ekonomi lokal. Mereka menggelar lokakarya bagi petani kelapa di sekitar koridor Binerean, mengajarkan praktik pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan (agroforestri). Pesannya jelas: petani dapat meningkatkan pendapatan dari kelapa sambil mendukung habitat Maleo. Ini menyelaraskan insentif ekonomi dengan tujuan ekologi, satu-satunya formula untuk konservasi jangka panjang.

Hanafi menentang pemburu, bergelut dengan alam
Bagi Hanafi, menjaga maleo berarti juga menjaga keberanian. Tahun 2008, ia sempat bersitegang dengan pemburu dari Dumoga yang menanam jerat di koridor tempat maleo biasa melintas.
“Mereka protes kenapa saya berani mencabut jerat,” ujarnya. “Saya pikir mereka akan mencabut parang, syukur mereka mereda dan perkelahian tidak terjadi.”
Sejak itu, tak ada lagi jerat dipasang di kawasan itu. Hanafi selalu memilih cara persuasif. la menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa lokasi itu merupakan kawasan lindung yang sedang diproteksi.
Kesadaran para pemburu perlahan tumbuh, terutama karena sosoknya yang dikenal konsisten menjaga satwa di wilayah itu.
Namun ancaman terhadap maleo tak berhenti. Habitat yang dulunya alami kini banyak berubah menjadi perkebunan. “Jumlah maleo sudah berbeda jauh, tidak seperti tahun 80-an yang masih ribuan,” katanya. Meski begitu, Hanafi tak menyerah.
“Tantangannya hanya di ombak. Kalau musim ombak berarti saya harus jalan kaki, kalau tidak ombak saya naik perahu ke lokasi. Itu saya lakukan setiap hari sejak 2007, tidak peduli apapun, banjir, hujan, saya tetap jalan,” ujarnya.
Keteguhannya membuat masyarakat sekitar menghormatinya. Di Binerean, tak ada lagi yang berani berburu telur maleo. Gangguan kini hanya datang dari perahu, anjing, atau pemburu alami seperti biawak.
Kerja kerasnya pun mendapat apresiasi. Tahun 2022, Hanafi menerima penghargaan dari Bupati Bolsel dan BKSDA Sulut atas dedikasinya melindungi maleo. Tapi penghargaan itu, katanya, bukanlah tujuan utama.
“Terharu, ada perasaan senang ketika melihat mereka terbang di alam bebas untuk pertama kalinya,” ucapnya.
Lokasi peneluran yang dekat laut sering membuat anak maleo yang baru menetas salah arah dan jatuh ke air. Tak jarang Hanafi menyelam untuk menyelamatkan mereka.
“Sayang saja kalau harus tenggelam di laut. Jadi tak ada pilihan selain kembali berusaha menyelamatkan,” katanya.
la sudah tak bisa menghitung lagi berapa ribu maleo yang berhasil dirilis sejak 2007. “Belum, itu susah, sebab tidak ada tanda,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Cinta dan warisan penjaga maleo
Di balik perjuangan Hanafi, ada sosok Maria, istrinya, yang menjadi rekan setia dalam menjaga maleo. Sejak menikah pada 2008, Maria tidak pernah memprotes pekerjaan suaminya yang penuh risiko. la justru menjadi bagian penting dari misi penyelamatan satwa ini.
“Apapun yang terjadi di lokasi, telur, ancaman, pemburu, perahu, penebangan pohon, bahkan anjing dan biawak semua saya catat. Lalu kami kirim sebagai laporan ke WCS,” kata Maria.
Selama 17 tahun, Maria menyimpan catatan manual tentang telur maleo dan penyu: jumlah telur, telur busuk, anak maleo, panjang badan, hingga kedalaman lubang bertelur. Semua tersusun rapi dalam buku-buku yang kini menjadi arsip perkembangan satwa di Binerean.
“Tidak pernah tercecer, semua buku itu selama 17 tahun dicatat secara manual,” tambah Hanafi bangga sembari memperlihatkan buku catatan laporannya.
Bagi pasangan ini, menjaga maleo bukan hanya pekerjaan, tapi jalan hidup. Hanafi bahkan sudah berpesan kepada anak-anaknya agar kelak melanjutkan tugasnya.
“Kalau suatu saat ajal menjemput, saya ingin anak-anak yang menggantikan saya menjaga maleo di Binerean,” katanya.
Mereka hidup sederhana, menggantungkan penghasilan dari kerja sama dengan WCS. Hanafi masih punya kebun kecil yang sesekali diurus istrinya, tapi waktunya sebagian besar tercurah untuk maleo.
“Kalau orang mau belajar sungguh-sungguh dua atau tiga bulan, pasti bisa juga mendeteksi telur,” ujarnya.
Sesekali Maria ikut ke lokasi, menyaksikan langsung proses penetasan hingga pelepasan anak maleo ke alam. “Senang bisa melihat prosesnya, dari telur yang dikumpulkan, lalu menetas dan kemudian dikembalikan ke alam. Itu perasaan yang luar biasa,” katanya dengan mata berbinar.
Bagi Hanafi dan Maria, menjaga maleo berarti menjaga keseimbangan hidup, menjaga warisan alam untuk generasi berikutnya. Dan meski suatu saat WCS tak lagi melanjutkan programnya, Hanafi sudah mantap dengan pilihannya.
“Saya akan tetap menjaga maleo,” katanya tegas. “Karena bagi saya, maleo bukan cuma burung. la adalah bagian dari Bolsel, bagian dari hidup saya.”
Upaya Hanafi menjaga maleo di Binerean bukan hanya menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga mosaik kehidupan di jantung Wallacea.
Di antara pasir dan ombak yang tak pernah berhenti, perjuangan Hanafi adalah pengingat bahwa konservasi bukan hanya urusan lembaga, tapi soal hati.
Dan selama masih ada langkahnya di tepi pantai Binerean, Wallacea masih punya alasan untuk tetap hidup.

Kabar baik dari jantung Wallacea
Kisah Hanafi adalah “Kabar Baik dari Wallacea”. Di tengah narasi global tentang krisis iklim, deforestasi, dan hilangnya keanekaragaman hayati, cerita dari Binerean adalah bukti nyata bahwa konservasi yang berhasil itu mungkin dilakukan.
Namun ini menunjukkan bahwa keberhasilan itu tidak bertumpu pada satu orang saja. Ia bertumpu pada sebuah mosaik yang berfungsi. Ia membutuhkan hati dan konsistensi Hanafi serta ketelitian pencatatan Maria. Ia membutuhkan sains, pendanaan, dan model penjagaan komunitas dari WCS. Ia membutuhkan advokasi dan pelibatan publik dari BTNBNW. Ia membutuhkan kemitraan inovatif BKSDA Sulut dan sektor swasta untuk membangkitkan harapan terhadap pelestarian satwa endemik.
Dan, yang paling krusial, ia membutuhkan payung hukum dan visi politik dari Pemkab Bolsel untuk menjembatani konservasi dengan kesejahteraan ekonomi.
Kegagalan satu kepingan mosaik akan meruntuhkan yang lain. Tetapi ketika mereka bekerja bersama, mereka tidak hanya menyelamatkan burung endemik yang unik. Mereka membuktikan bahwa di jantung laboratorium evolusi Wallace, harapan tidak hanya menetas pasif dari pasir panas, tetapi juga aktif dijaga oleh kolaborasi yang tulus.
Tulisan ini merupakan bagian dari upaya mendiseminasikan model-model sukses yang kompleks namun penuh harapan dari gerakan kolaborasi media #jurnalisjagawallacea.
