Di balik keunikan Rambut Merah Bilalang: Antara bullying dan kebanggaan

Di Bilalang, Sulawesi Utara, sekelompok kecil warga berambut merah hidup dengan kisah unik di antara mitos asal-usul, kajian ilmiah, dan pengalaman sosial.
bilalang
Perkampungan di Bilalang. (Foto: ZOnautara.com / Ronnyy Adolof Buol)
bilalang

zonaX

Di balik keunikan Rambut Merah Bilalang: Antara bullying dan kebanggaan

Di Bilalang, Sulawesi Utara, sekelompok kecil warga berambut merah hidup dengan kisah unik di antara mitos asal-usul, kajian ilmiah, dan pengalaman sosial.

ZONAUTARA.com — Sandi Pobela tersenyum ramah saat Zonautara.com bertandang ke kediamannya. Wajahnya tetap memancarkan keceriaan meski seharian penuh ia bekerja di kebun.

Lelaki berusia 33 tahun itu duduk santai sambil sesekali melempar candaan di antara raungan sepeda motor ber-knalpot brong yang lalu lalang di depan rumahnya, Sabtu (29/11/2025) malam.

Sandi merupakan salah satu warga berambut merah. Ia lahir dan tumbuh di Bilalang III, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), sebelum akhirnya hijrah dan menetap di Poyowa Besar II, Kota Kotamobagu pada tahun 2021 setelah menikah.

Di antara kepulan asap tembakau dan rasa manis teh kemasan, Sandi berkisah banyak hal khususnya tentang eksistensi rambut merah. Baginya, rambut merah merupakan hal yang telah identik dengan sebagian kecil masyarakat di wilayah Bilalang.

Sering kali rambutnya yang berwarna merah membuat Sandi lebih mudah dikenal orang dan mendatangkan keuntungan tersendiri.




Meski begitu Sandi belum benar-benar tahu dari mana gen yang ia miliki berasal sebab ayah ibunya berambut hitam, begitu pula dengan kakek neneknya baik garis ayah maupun ibu.

“Mungkin dari kakek buyut,” ucap Sandi sembari menerangkan bahwa di keluarga, ia dan adiknya memiliki ciri fisiologis yang sama.

Jika dicermati, rambut yang dimiliki Sandi berwarna oranye kemerahan. Tak hanya rambut, alis dan bulu mata juga berwarna sama. Kulitnya putih dengan bintik-bintik kecil berwarna cokelat (freckles) dan bermata cokelat.

Sebutan rambut merah sendiri merupakan terminologi yang merujuk kepada orang-orang dengan dengan ciri fisik yang relatif sama dengan Sandi yang berasal dari Bilalang. Rambut mereka berwarna merah sejak lahir. Sebagian kecil di antaranya mempunyai warna rambut yang lebih gelap, dan hanya menyisakan sedikit warna kemerahan.

Orang-orang berambut merah ini sebagian kecil tersebar di Desa Bilalang I dan II (Kota Kotamobagu) dan bisa dijumpai di seluruh wilayah Kecamatan Bilalang (Kabupaten Bolmong).

rambut merah
Sandi Pobela, salah satu warga Bilalang yang memiliki rambut merah sejak lahir. (Foto: Zonautara.com/Indra Umbola)

Asal mula rambut merah di Bilalang

Dikutip dari berbagai sumber, ada dua kisah populer mengenai asal usul masyarakat berambut merah di wilayah Bilalang. Kisah pertama adalah tentang seorang wanita yang meninggal dalam kondisi hamil.

Jenazah wanita tersebut kemudian tidak langsung dikubur dan masih disemayamkan di peti. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam peti tersebut.

Setelah dilihat, ternyata ada seorang bayi dengan rambut memerah. Ada pendapat yang mengatakan rambut tersebut merah karena darah sang ibu dan ada pula yang mengatakan saat terlahir bayi tersebut sudah berambut merah.

Kisah kedua adalah tentang perkawinan seorang bogani bernama Antong dan seorang wanita Portugis pada abad ke-16 yang kemudian melahirkan anak berambut merah.

Bogani merupakan sebutan untuk tokoh pemimpin kelompok dalam masyarakat Bolaang Mongondow di masa lampau yang memiliki peran sebagai pelindung, bijaksana, dan kuat.

Soal nama Antong, sanggahan datang dari pegiat sejarah Bolmong, Ricco Mokoginta yang menyebutkan bahwa perempuan dari luar negeri itu menikah dengan Bogani Ojotang (saudara dari Bogani Antong).

Dijelaskannya, ada sumber yang menyebutkan bahwa Bogani Ojotang menikah dengan seorang perempuan Spanyol (bukan Portugis) bernama Catarina De Lara.

“Setelah saya telusuri, ternyata De Lara itu adalah nama (klan) bangsawan di Kerajaan Kastilia Spayol, dan mereka berambut merah. Rambut merah mereka berasal dari (wilayah) Skotlandia,” ungkap Ricco.

Meski begitu, hingga kini belum ada kajian ilmiah yang menelusuri genealogi masyarakat rambut merah yang ada di Bilalang.

Sejarawan dan Budayawan Bolmong lainnya, Chairun Mokoginta mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan kajian ilmiah mengenai hal tersebut dan rencananya akan dirilis pada tahun 2026 nanti.

Insya Allah (rilis) tahun depan. Kajian secara pribadi sudah saya mulai sejak tahun 2014 dan saya temukan banyak hal yang selama ini kita tidak tahu,” ucapnya saat dihubungi Zonautara.com, Minggu (30/11/2025).

Selanjutnya, ia juga menyentil belum adanya tes DNA yang dilakukan untuk meneliti genetika masyarakat rambut merah.

“Belum ada (tes DNA). Kalau dalam kajian ilmiah, tes DNA merupakan salah satu faktor penting sebelum merumuskan kesimpulan,” tambahnya.

Kajian ilmiah yang masih dalam tahap penyusunan itu membuatnya tak bisa menjelaskan lebih jauh lagi.

“Saya belum bisa memberi komentar. Banyak pertanyaan tentang rambut merah di Bilalang namun hasil sementara belum bisa di-publish,” ujarnya.

rambut merah
Perempuan di Bilalang yang berambut merah sejak lahir. (Foto: Zonautara.com / Ronny Adolof Buol)

Eksistensi rambut merah

Di balik senyum Sandi yang senantiasa merekah, tersimpan sebuah cerita pilu. Ada pengalaman pahitnya menjadi korban bullying sewaktu masih bocah akibat ciri fisiologis yang dimilikinya. Masa-masa SD dan SMP adalah yang terberat. Sandi kerap mendapat candaan bahkan ejekan karena rambutnya yang merah.

“Mereka menyebut saya Belanda,” kenang Sandi.

Dalam masa sulit itu, Sandi sempat terpikir untuk mewarnai rambutnya menjadi hitam namun tak pernah terwujud.

Hal serupa juga pernah dialami oleh Anisa (23), warga Bilalang II. Meski warna rambutnya dominan gelap, namun mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Sulut itu juga sempat menjadi objek candaan. Salah satu ungkapan yang sering dilontarkan kepadanya adalah rambutnya seperti sarang semut.

“Waktu kecil, saat SD dan SMP, saya sering di-bully di sekolah. Namun saat SMA tidak lagi mengalami (bullying) karena sudah menggunakan jilbab,” ucap Nisa, sapaan akrabnya.




Ipal (23), warga Apado, tak jauh berbeda. Hingga kini berbagai candaan maupun ejekan masih sering dilontarkan kepadanya. Ipal bahkan sempat memutuskan mewarnai rambutnya. Namun itu tak berlangsung lama. Saat cat rambut yang digunakan mulai luntur, Ipal memutuskan untuk tidak lagi mewarnai rambutnya.

“Pernah satu kali saya mewarnai rambut dengan warna putih karena sering diejek,” ucapnya.

Apa yang dialami Sandi, Nisa, dan Ipal merupakan pengingat bahwa bullying atau perundungan bisa terjadi di mana saja, sekalipun di ruang-ruang yang dianggap aman. Berbagai sumber menyebutkan, ejekan termasuk dalam kategori perundungan verbal.

Dikutip dari halodoc.com, bullying adalah tindakan agresif dan berulang yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap korban yang lebih lemah. Bullying dapat terjadi di berbagai tempat, seperti sekolah, tempat kerja, atau bahkan di dunia maya.

Menurut WHO, bullying adalah masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan memerlukan perhatian serius. Ada beberapa jenis bullying, antara lain perundungan fisik, perundungan verbal, perundungan emosional, cyberbullying, dan pelecehan seksual.

Dalam perundungan verbal, pelaku biasanya menggunakan kata-kata, pernyataan, atau pemanggilan nama yang tidak sesuai untuk melakukan tindakan bullying pada korban.

Dikutip dari alodokter.com, pelaku bullying verbal biasanya akan melontarkan kata-kata kasar dengan menyerang hal-hal personal, seperti penampilan, keyakinan, suku, ras, atau disabilitas.

Yang termasuk dalam kategori perundungan verbal, antara lain menghina, mempermalukan, meremehkan, mengejek, mengancam, dan melecehkan.

rambut merah
Ipal, salah satu warga Apado yg berambut merah sejak lahir. (Foto: Zonautara.com/Indra Umbola)

Diferensiasi dan stratifikasi sosial

Dalam kajian sosiologi dijelaskan ada perbedaan mendasar antara diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial, meski kedua konsep tersebut sama-sama berkaitan erat dengan struktur sosial.

Diferensiasi sosial dipahami sebagai pembeda atau pemilah masyarakat ke dalam golongan atau kelompok secara horizontal (tidak secara bertingkat). Perbedaan yang tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat, antara lain agama, ras, etnis, klan, pekerjaan, budaya maupun jenis kelamin.

Perbedaan di atas, tidak dapat diklasifikasikan secara vertikal atau bertingkat seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi (lapisan tinggi, menengah, dan rendah).

Secara horizontal, masyarakat ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, profesi, ras, adat, dan kedaerahan.

Sedangkan stratifikasi sosial merujuk pada pengelompokan orang ke dalam tingkatan atau strata dalam hirarki secara vertikal. Stratifikasi sosial merupakan gejala penggolongan manusia yang bersifat hirarkis vertikal, yang konsekuensi dari gejala tersebut akan menimbulkan kelas-kelas sosial sehingga muncul istilah kelas sosial atas (upper class), kelas sosial menengah (middle class), dan kelas sosial bawah (lower class).

Stratifikasi sosial lebih dipahami sebagai gejala sosial di mana ketimpangan distribusi dan kelangkaan benda-benda berharga yang dibutuhkan masyarakat terbagi secara tidak merata.

Secara vertikal, struktur sosial yang ada umumnya ditandai oleh adanya perbedaan antar kelas sosial dan polarisasi sosial cukup tajam.

Dalam penjelasan yang dikutip dari Pengantar Sosiologi (Elly M. Setiadi dan Usman Kolip) di atas, perbedaan antar ras didefinisikan sebagai diferensiasi sosial yang bersifat horizontal. Hal itu juga sebagaimana yang disampaikan pegiat kebudayaan Bolmong, Wahyu Pratama Andu.

“Perbedaan ras, klan, dan sejenisnya bersifat horizontal. Jadi tidak ada satu ras yang lebih tinggi dari ras lainnya,” ucap Ayung, sapaan akrabnya, saat dihubungi Zonautara.com, Senin (1/12/2025).

Ayung berpandangan, adanya candaan maupun ejekan yang sempat dialami masyarakat berambut merah tak lepas dari relasi mayor-minor yang terjadi di masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat rambut merah yang jumlahnya sedikit terklasifikasikan sebagai kelompok minor.

“Dalam berbagai kejadian, biasanya yang mayoritas selalu mendominasi dan kelompok minor selalu teralienasi,” ucapnya.

Ayung yang berprofesi sebagai tenaga pendidik menyebut bahwa perundungan merupakan salah satu musuh terbesar dalam ruang sosial. Penyebab utamanya adalah perbedaan. Untuk itu, ejekan tak dapat dibenarkan.

“Karena kita tidak tahu dampaknya seperti apa. Penerimaan tiap orang berbeda-beda,” tambahnya.

rambut merah
Perkebunan di Bilalang. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Kelebihan dan kesetaraan

Seiring berjalannya waktu, Sandi, Nisa, dan Ipal telah berdamai dengan segala keunikan yang mereka miliki. Segala candaan ataupun ejekan yang pernah dialami tak lagi membuat mereka berkecil hati. Ketiganya merasa bahwa ciri fisik yang berbeda dari kelompok mayoritas merupakan sebuah kelebihan.

Sandi berkisah, saat memasuki masa SMA, kuliah, hingga bekerja, tak ada lagi candaan atau ejekan. Justru di masa itulah keunikan yang dimiliki membuatnya semakin percaya diri. Di masa itu pula, ada beberapa hal unik yang dialaminya.

“Dulu saat baru masuk kuliah, ada dosen yang bertanya apakah saya mewarnai rambut. Namun saya menjelaskan jika ini rambut asli,” ucapnya sembari menirukan gaya bertanya dosen tersebut.

Saat apel perdana setelah menjabat Kepala Sekolah SMK Kesehatan Bulawan pada tahun 2022, kejadian serupa terulang. Salah satu petinggi Dinas Pendidikan Provinsi Sulut juga bertanya hal yang sama. Namun dengan tenang Sandi menjelaskan jika ia tidak mengubah warna rambut.

Dengan segala kejadian yang ia alami, Sandi pun berkesimpulan bahwa keunikan yang ia miliki merupakan sebuah kelebihan.

“Karena sudah banyak pengalaman hidup yang dialami, saya merasa dan berpikir bahwa ini merupakan sebuah kelebihan,” ucap Sandi.

Ipal juga demikian. Jika ada candaan tentang rambut berwarnanya, ia menganggap perkataan tersebut hanya sebagai angin lalu. Ia merasa keunikannya adalah sebuah anugerah yang harus disyukuri.

Tak jauh berbeda, Nisa pun merasa bahwa warna rambutnya merupakan sebuah kelebihan yang belum tentu dimiliki kebanyakan orang.

“Saat SMA, saya sadar bahwa apa yang saya miliki merupakan suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain,” ucapnya.

Sementara, Ricco Mokoginta yang juga ahli dalam silsilah marga orang Bolmong menegaskan, masyarakat berambut merah merupakan bagian dari keluarga besar persaudaraan Bilalang. Sehingga ia berharap, candaan hingga ejekan yang pernah terjadi tak lagi terulang di masa sekarang.

“Kita semua bersaudara. Kita semua setara,” tegasnya.

Ayung juga menambahkan, dalam konteks kebudayaan Bolmong, relasi masyarakat harus didasarkan pada local wisdom, seperti mooaheran (saling menghargai) dan mobobangkalan (saling menghormati).

“Pendekatan itu yang seharusnya kita pakai sebagai orang Mongondow dalam lingkup sosial,” tutup Ayung.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com