ZONAUTARA.com — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) kembali mencatat capaian signifikan dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan Sitaro tahun 2025, angka stunting di daerah kepulauan ini kini menyisakan hanya 14 kasus aktif, yang tersebar di enam puskesmas.
Rincian sebaran kasus adalah sebagai berikut:
• Puskesmas Minanga: 3 kasus
• Puskesmas Talawid: 3 kasus
• Puskesmas Sawang: 3 kasus
• Puskesmas Makalehi: 2 kasus
• Puskesmas Salili: 1 kasus
• Puskesmas Lia: 2 kasus
Penurunan ini menjadi salah satu capaian terbaik Sitaro dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Sitaro telah menjalankan berbagai program inovatif, termasuk penguatan edukasi gizi keluarga, pemeriksaan kesehatan rutin, intervensi gizi spesifik, serta implementasi program unggulan seperti Sekolah Lansia dan Aplikasi SIHERO, yang fokus pada pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri sebagai langkah pencegahan sejak dini.
Bupati Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit dalam berbagai kesempatan juga menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan kunci menurunkan stunting secara berkelanjutan. Pemerintah daerah, puskesmas, pemerintah kampung, hingga kader kesehatan terus bergerak aktif melakukan pemantauan dan pendampingan keluarga berisiko.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sitaro, Evita Janis menyampaikan bahwa hasil terbaru ini menunjukkan tren penurunan yang sangat positif, sekaligus menjadi bukti bahwa intervensi pemerintah dan partisipasi masyarakat berjalan efektif.
“Capaian ini bukan akhir, tetapi momentum untuk memastikan Sitaro benar-benar menuju zero stunting. Dengan kerja bersama, kami optimis kasus yang tersisa dapat diselesaikan dalam waktu dekat,” ujarnya.
Selain intervensi medis, Pemkab Sitaro juga memperkuat edukasi kepada keluarga mengenai penyebab langsung dan tidak langsung stunting, mulai dari pola asuh, sanitasi, hingga pencegahan infeksi. Keterlibatan kader PKK, tenaga gizi puskesmas, serta pemerintah kampung turut menjadi faktor pendorong.
Dengan tersisanya hanya 14 kasus pada tahun 2025, Kabupaten Kepulauan Sitaro menunjukkan bahwa kerja terpadu di wilayah kepulauan pun mampu menghasilkan capaian signifikan. Pemerintah daerah berharap seluruh lapisan masyarakat tetap mendukung upaya bersama menuju generasi Sitaro yang lebih sehat, kuat, dan bebas stunting.



