ZONAUTARA.com – Pagi masih basah oleh embun ketika seorang nenek bernama Rasina mencangkul di antara deretan nisan di pemakaman umum bagian barat Kelurahan Motoboi Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu Kamis,(29/1/2025).
Tangannya keriput, punggungnya sedikit membungkuk, dan rambutnya putih. Di tempat yang bagi banyak orang identik dengan sunyi dan duka, ia justru menanam kehidupan. Di sela-sela makam itulah terong-terong hijau, beberapa pohon tomat dan sereh tumbuh rapi. Daunnya lebar, batangnya kokoh, dan buahnya menggantung segar seolah menolak menyerah pada kesan kelam tempat mereka berakar.
Semua itu dirawat oleh sang nenek, seorang pekebun sederhana sebagai ruang bertahan hidup yang tinggal tak jauh dari makam.
“Daripada tanah kosong, lebih baik ditanami,” ujarnya tertawa kecil sambil membersihkan rumput liar di sekitar tanaman.
Menurutnya setiap pagi dan sore, ia datang membawa cangkul kecil dan ember air. Tak ada rasa takut, dan canggung, baginya makam-makam itu sudah seperti tetangga lama.
Bagi warga Motoboi Kecil, pemandangan ini bukan lagi hal aneh. Justru banyak yang merasa terharu. Di tengah keterbatasan, beberapa orang termasuk sang nenek memilih bekerja. Ia tidak meminta belas kasihan, hanya memanfaatkan tanah dan tenaganya sendiri.
Sebagaimana yang diungkapkan Subroto Paputungan ketika membersihkan makam mendiang isterinya di sekitar lahan terong tersebut.
“Dua kali saya datang minggu ini, nenek Rasinah sedang menanam bibit, dan hari ini memetik beberapa terong,” ujarnya.
Pemandangan ini bagi banyak orang, hanya terlihat sebagai aktivitas biasa ketika melintas di pemakaman umumMotoboi Kecil. Namun, di tempat orang-orang mengenang kematian, Nenek Rasinah itu menanam harapan. Di antara nisan dan doa, terong-terong itu tumbuh sebagai simbol keteguhan hidup. Bahwa selama tangan masih mau bekerja dan tanah masih bisa ditanami, hidup harus terus berjalan.


