GPC 2026 di Minahasa Utara gaungkan jurnalisme pelindung pesisir

Penulis: David Sumilat
Editor: Redaktur

ZONAUTARA.com — Untuk pertama kalinya hajatan Green Press Community (GPC) digelar di luar Jawa. Agenda yang mempertemukan jurnalis dan banyak stakeholders lingkungan tahun ini digelar di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (07/02/2026).

Agenda strategis yang diselenggarakan oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia ini menjadi tonggak penting bagi Sulawesi Utara. Sebab, dengan tema: “Jurnalisme Melindungi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil”, pertemuan ini bisa membuka perspektif dan kesadaran seluruh masyarakat bahwa Sulawesi Utara adalah wilayah kepulauan yang dominan wilayahnya adalah pesisir.

Ketua SIEJ Daerah Sulut, Finda Muhtar menyampaikan selamat datang kepada peserta dari luar daerah, khususnya pengurus SIEJ yang datang dari 26 Provinsi di Indonesia.

“GPC 2026 ini pertama kalinya diselenggarakan di luar Pulau Jawa,” katanya.

Finda menyebut perjalanan SiEJ simpul Sulut tidak mudah semenjak 25 Juli 2014.




“SIEJ simpul Sulut Sulut hadir dari lokakarya dengan tema besar: kebijakan pembangunan di darat dan dampaknya pesisir laut,” terangnya.

Finda berharap para pemangku kepentingan daerah di Sulut dapat memperhatikan lingkungan, dan tidak gegabah dalam kebijakan.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat memihak kepada lingkungan, dan berkelanjutan,” ujar Finda.

Sementara Ketua Umum SIEJ, Joni Aswira mengatakan kegembiraan GPC di Sulut dihadiri seluruh lapisan masyarakat: jurnalis, akademisi, pegiat lingkungan, LSM, siswa, dan pemerintah.

“Mengharukan, betapa gelaran iven ini disambut dengan antusias,” terangnya.

Menurutnya GPC hadir untuk membicarakan kelangsungkan bumi. Spiritnya adalah jurnalis, pemerintah, NGO, dan lainnya karena tidak mampu jika berjalan sendiri.

“Kita harus bahu membahu di tengah ancaman terhadap ekologi di depan mata kita,” tukasnya.

Di indonesia saat ini, kata Aswira, ancaman-ancaman itu nyata di berbagai daerah. Seperti bencana Sumatera, sebagai dampak perubahan iklim. Bencana ekologis nyata bagi seluruh masyarakat, belum lagi ancaman krisis pangan.

“Itu semua kami yakin banyak didalangi ulah manusia itu sendiri,” ujar Joni.

“Dengan hadirnya GPC menjadi kolaborasi semua pihak mencari solusi dalam menyelamatkan bumi,” kata Joni menambahkan.

Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda yang hadir sekaligus membawakan materi mengaku sadar bahwa pembangunan dan kemajuan pengetahuan akan berdampak buruk bagi alam (ekologi).

“Pertanyaannya, apakah kita harus meninggalkan bumi begitu saja? Saya meyakini bumi lebih baik dari planet lain. Makanya harus diselamatkan dengan bijak mengelola kekayaan bumi,” jelasnya.

Menurut Bupati Joune, pengaruh jurnalisme dapat menjadi jalan perbaikan bagi bumi.

“Saya sangat senang karena ini membahas tentang pulau-pulau (kecil), karena di sekitar kita banyak pulau yang hilang bahkan dihilangkan,” ungkap

Joune seraya menyebut Minahasa Utara memiliki 40 pulau kecil yang perlu effort lebih untuk menjaganya.

Sekadar informasi pembukaan GPC 2026 di Minahasa Utara ini diawali dengan tarian Tetengkoren yang dibawakan Sanggar Trisan Kinaskas Tomohon.

GPC 2026 ini disokong penuh sejumlah NGO lingkungan antar lain Satya Bumi, Greenpeace, Celios, Trend Asia, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Climateworks, Pulitzer Centre, International Media Support (IMS), Global Buildings Performance Network (GBPN), Indonesian Data Journalism Network (IDJN), Yayasan Masarang, dan Indigenous Peoples and Local Community Conserved Area and Territory (ICCAs).

Follow:
Pewarta yang menggeluti jurnalisme data, lingkungan, dan lainnya, telah menjelajahi berbagai aspek jurnalistik selama lebih dari 10 tahun.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com