ZONAUTARA.com – Di Hunian Tetap (Huntap) Desa Modisi Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) yang berdiri rapi tak jauh dari garis pantai, salah satu penghuni Carlos Katimpale menceritakan bagaiman ia memulai hari dengan perasaan yang masih campur aduk.
Carlos adalah salah satu warga pindahan dari Desa Pumpente di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), kampung yang dulu menjadi tempat ia membangun mimpi, membesarkan harapan, dan menambatkan kenangan.
“Mau tidak mau harus,” ucapnya pelan, saat mengingat keputusan berat meninggalkan rumah yang sudah tak mungkin ditempati.
Dinding yang retak, atap yang runtuh, serta ancaman yang tak kasatmata membuatnya sadar bahwa bertahan bukan lagi pilihan.
“Keselamatan keluarga menjadi alasan utama untuk melangkah pergi,” ungkapnya dengan berlinang air mata, saat ditemui pada Jumat (13/2/2026).
Di Hunian Tetap yang kini ia tempati, Carlos perlahan menemukan kembali pijakan. Fasilitas yang tersedia menurutnya sudah baik. Air bersih mengalir, listrik menyala, dan tempat tinggal terasa lebih aman. Sejak awal bencana hingga sekarang, kebutuhan makanan dan logistik pun disiapkan Pemerintah.
Bantuan itu menjadi penopang di masa-masa paling sulit, saat ia dan warga lain masih berjuang menata ulang hidup yang porak-poranda.
Namun, di balik rasa syukur itu, terselip kegelisahan tentang masa depan. Carlos tahu, bantuan tidak akan selamanya ada. Ia harus kembali berdiri di atas kakinya sendiri. Di tempat baru ini, ia memandang laut sebagai harapan.
“Untuk ke depan mungkin saya akan menjadi nelayan di sini,” katanya, dengan nada yang lebih datar.

Laut yang dulu mungkin hanya latar pemandangan, kini menjelma sumber asa. Ia membayangkan perahu kecil, jaring yang ditebar dan hasil tangkapan yang bisa menghidupi keluarga dikampung sebelumnya.
Baginya, profesi nelayan bukan hal mudah. Ia sadar akan risiko ombak, cuaca, dan hasil yang tak menentu. Tetapi Carlos percaya, laut menawarkan sesuatu yang tak ia dapatkan dari puing-puing masa lalu, kesempatan untuk memulai kembali.
“Perpindahan dari Desa Pumpente bukan hanya perpindahan tempat tinggal. Itu perpindahan hidup, dari kehilangan menuju harapan baru,” ujarnya.
Di rumah yang diberikan Pemerintah di lokasi Hunian Tetap Modisi, yang sederhana namun aman, Carlos belajar bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan tempat di mana keberanian untuk bangkit tumbuh.
“Setelah ini saya akan mulai lagi dengan mejadi nelayan,” tutupnya.


