Air mata dan kesedihan Yuce Walo di balik peresmian Huntap Modisi Bolsel

Editor: Ronny Adolof Buol
Yuce Walo, salah satu penyintas bencana Gunung Ruang saat ditemui di Huntap Modisi, Bolsel, 13 Februari 2026. (Foto: Zonautara.com/Marsal Datundugon)

ZONAUTARA.com – Di sela-sela peresmian dan serah terima Kawasan Hunian Tetap Relokasi Pasca Bencana Erupsi Gunung Ruang di Modisi Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan pada 13 Februari 2026, Yuce Walo (48) mencurahkan kisah sedihnya.

Dengan cucuran air mata ia mengenang kehidupan keluarga mereka waktu itu di bawah kaki Gunung Ruang. Kini kehidupan itu tak pernah sama lagi.

Perempuan asal Pumpente itu dulunya hanya seorang pedagang kecil di pasar Tagulandang. Cabe, tomat, daun singkong, dan hasil kebun lain ia gelar rapi di lapaknya.

Ia menceritakan, bagaimana hari itu, orang-orang pasar berbisik cemas. Sekelompok nelayan melihat pancaran api dari arah gunung. Asap membumbung. Langit kelabu.

“Kami diminta segera pindah,” ujarnya.




Namun Yuce dan beberapa pedagang lain masih bertahan beberapa jam. Mereka mengira itu hanya kabut dan mendung pertanda hujan.

Sesampainya di kampung (Pumpente), Yuce bergegas mengajak para tetangga. Satu perahu milik warga mengangkutnya bersama 11 orang lainnya. Sebelum pergi, ia masih sempat merapikan beberapa barang di ruang tengah rumahnya seolah rumah itu akan menunggu kepulangannya.

Selain itu Yuce menuturkan pada tanggal 14 April 2024, ia masih berduka karena ibu mertuanya baru saja berpulang. Tanggal 15 April, dirinya masih ke pasar dengan baju hitam (tanda berkabung –red) yang sama. Tanggal 17 April, seharusnya menjadi hari ulang tahunnya, dimana ia mempersiapkan diri untuk ibadah syukur sederhana. Namun yang datang justru kabar kepanikan.

“Waktu itu kami dengar suara burung-burung ribut, tapi belum yakin apa-apa,” tuturnya pelan.

Ia juga mengungkapkan bagaimaa mereka sempat memasak bersama, berbagi makanan di pengungsian sementara di sekolah. Ibu camat mengajak mereka tinggal dan bertahan. Siang itu terasa biasa saja hingga malam berubah menjadi ketegangan. Tiba-tiba kabar datang, semua makanan harus segera dibawa, semua orang harus menyingkir. Tak ada waktu membereskan apa pun.

“Malam itu gunung meletus hebat,” ucapnya.

Dari beberapa hal yang ia ingat malam itu, dimana orang-orang terpisah dalam gelap. Ada yang lari ke Bahulehu, ada yang mencari perlindungan di gereja. Sementara Yuce dan rombongannya tiba di Gereja Nusawan saat pagi mulai menyingsing. Di sana lautan manusia sudah lebih dulu berkumpul. Wajah-wajah lelah, mata sembab, anak-anak yang kebingungan.

gunung ruaang
Tampak suasana erupsi gunung ruang yang difoto warga dari pelabuhan Tagulandang.

Dari kampung ke kampung, dari satu tempat penampungan ke penampungan lain, mereka akhirnya dibawa ke Manado. Air mata Yuce tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan. Semua bantuan yang sempat ada, tertinggal. Semua yang dimasak malam itu, tak lagi berarti.

Ia menjelaskan Sejak awal Februari 2025 hingga Februari 2026, ia tinggal di lokasi pengungsian rumah susun Tangkoko di Bitung. Setahun berlalu dalam ketidakpastian. Bantuan bulanan yang dijanjikan, katanya, baru diterima dua kali.

Yuce mengakui sebenarnya tak ingin pindah ke Modisi, Bolsel. Namun ketika lokasi pengungsian di rumah susun akan ditempati tentara, ia dan keluarga kembali harus mengalah. Pergi lagi. Menyingkir lagi.

Hari pertama di tempat baru ini (11 Februari 2026), mereka mendapat makan dua kali. Hari kedua hanya sarapan. Hari ketiga, makanan datang dalam kardus karena ada seremoni pembukaan hunian tetap. Perahu yang dijanjikan masih tertinggal di Pelabuhan Bitung. Sementara hidup harus terus berjalan.

Di sela-sela cerita, suaranya beberapa kali terhenti.

gunung ruang
Kondisi kampung di Pulau Ruang, sebulan pasca Gunung Ruang erupsi. (Foto: Zonautara.com/Yegar Sahaduta)

“Mereka bilang harus semangat,” katanya lirih. “Tapi hati hancur… makam orang tua, ayah dan ibu, ada di sana,” tambahnya lagi.

Namun di tengah segala keterbatasan, ia tetap bertahan. Menunggu janji yang entah kapan ditepati.

“Meski hati tertinggal di kampung yang kini sunyi di bawah bayang-bayang Gunung Ruang. Kejadiannya masih cukup membekas,” tutupnya dengan berlinang air mata.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com