Menengok aktivitas belanja rumah tangga di awal Ramadan

Perbedaan kondisi ekonomi di antara masyarakat turut memengaruhi pola belanja yang dilakukan. Ada yang mampu meningkatkan anggaran untuk persiapan sahur dan berbuka, ada pula yang menyesuaikan dengan kemampuan finansial.
ramadan
Suasana pasar tardisional di Kotamobagu saat menjelang Ramadan. Penjual meluber hingga ke badan jalan. (Foto: David Sumilat)
ramadan

zonaX

Menengok aktivitas belanja rumah tangga di awal Ramadan

Perbedaan kondisi ekonomi di antara masyarakat turut memengaruhi pola belanja yang dilakukan. Ada yang mampu meningkatkan anggaran untuk persiapan sahur dan berbuka, ada pula yang menyesuaikan dengan kemampuan finansial.

ZONAUTARA.com – Kebiasaan belanja menghadapi Ramadan telah menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kotamobagu. Aktivitas ekonomi di pasar tradisional maupun toko modern cenderung meningkat signifikan seiring berjalannya Ramadan.

Pemandangan antrean pembeli di lapak sayur, daging, hingga bahan kebutuhan pokok menjadi hal yang lazim. Pedagang mengaku mengalami lonjakan permintaan, sementara masyarakat berupaya memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi untuk menyambut bulan puasa yang berlangsung selama kurang lebih 30 hari.

Di sejumlah pasar tradisional di Kotamobagu, suasana menjelang dan saat Ramadan tampak lebih ramai dibanding hari biasa. Lapak penjual beras, gula pasir, minyak goreng, telur, ayam, daging sapi, hingga aneka rempah dan bumbu dapur dipadati pembeli sejak pagi hari. Tidak hanya itu, komoditas khas ramadhan seperti kurma, sirup, tepung terigu, mentega, dan bahan pembuatan kue kering juga menjadi tujuan masyarakat.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga di pasar-pasar kelurahan dan desa. Masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi turut meramaikan aktivitas belanja. Sebagian warga memilih berbelanja lebih awal untuk menghindari lonjakan harga yang biasanya terjadi mendekati hari pertama puasa. Sementara itu, sebagian lainnya menyesuaikan waktu belanja dengan ketersediaan dana.

Selain bahan konsumsi, perlengkapan ibadah juga diburu oleh masyarakat, seperti mukena, sarung, sajadah, peci, dan Al-Qur’an. Banyak keluarga memanfaatkan momen ini untuk membeli perlengkapan ibadah baru bagi anggota keluarga, terutama anak-anak yang mulai belajar berpuasa. Beberapa toko bahkan menyediakan paket khusus Ramadan yang berisi perlengkapan ibadah dengan harga promosi.




Di sisi lain, aktivitas membersihkan dan menata rumah turut menjadi bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Sejumlah keluarga melakukan pembersihan menyeluruh, mencuci tirai, karpet, serta merapikan perabot rumah tangga. Beberapa warga juga memanfaatkan momen ini untuk memperbaiki peralatan dapur atau mengganti perlengkapan makan yang sudah lama digunakan.

Persiapan di hari pertama Ramadan

Kebiasaan belanja bumbu dapur menjelang malam pertama sahur menjadi fenomena tersendiri di tengah masyarakat. Bawang merah, bawang putih, cabai, merica, tomat, dan aneka rempah lainnya mengalami lonjakan pembelian. Ibu-ibu rumah tangga berupaya memastikan ketersediaan bumbu untuk memasak hidangan sahur pertama yang biasanya disiapkan secara khusus. Permintaan terhadap bahan-bahan tersebut cenderung meningkat drastis sehari atau dua hari sebelum Ramadan dimulai.

Nurvitha Irene Arbi, salah satu pedagang asal Matali, mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan bumbu dapur selalu terjadi menjelang Ramadan. Ia mengatakan bahwa harga cabai yang dijualnya saat ini mengikuti harga pasar, yakni Rp50.000 per kilogram. Menurutnya, harga tersebut sudah menyesuaikan dengan kondisi pasokan dan permintaan yang berlaku.

“Untuk harga cabai sekarang Rp50 ribu per kilo, itu sudah menyesuaikan dengan harga pasar. Biasanya kalau mau masuk Ramadan, permintaan naik dan harga bisa ikut bergerak,” ujarnya saat ditemui Zonautara.com, Senin (17/2/2025).

Ia menjelaskan bahwa cabai yang dijual merupakan hasil kebun sendiri yang dikelola bersama suaminya. Dengan mengandalkan hasil panen sendiri, ia dapat mengontrol kualitas sekaligus menjaga ketersediaan stok. Strategi tersebut juga membantunya menekan biaya distribusi karena tidak bergantung sepenuhnya pada pemasok dari luar daerah.

Menurut Nurvitha, peningkatan pembelian biasanya mulai terasa sekitar satu minggu sebelum Ramadan. Pembeli tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari wilayah lain yang sudah menjadi pelanggan tetap. Ia menuturkan bahwa sebagian pelanggan memilih membeli dalam jumlah lebih banyak untuk disimpan sebagai persediaan beberapa hari pertama puasa.

Selain cabai, komoditas seperti bawang merah dan bawang putih juga mengalami peningkatan permintaan. Ia mengaku kerap menambah stok untuk mengantisipasi lonjakan pembelian. Meski demikian, mereka tetap menyesuaikan harga dengan harga pasar yang berlaku agar tidak terjadi perbedaan signifikan dengan pedagang lain.

ramadan
Dua keperluan dapur yang sering dicari ibu rumah tangga saat Ramadan. (Foto: David dan Trideyna)

Melihat isi kulkas

Dari sisi konsumen, peningkatan belanja menjelang Ramadan dirasakan oleh banyak keluarga. Asyifa Nurizah Ontowirjo (26), warga Kelurahan Mogolaing, mengungkapkan bahwa pengeluaran belanja rumah tangganya meningkat dibanding hari-hari biasa saat menyambut Ramadan. Ia menyebutkan bahwa kenaikan tersebut terutama untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka pada hari-hari pertama puasa.

Menurut Asyifa, isi kulkas (refrigerator) menjadi gambaran nyata dari peningkatan belanja tersebut. Jika pada hari biasa ia berbelanja seperlunya untuk kebutuhan harian, menjelang Ramadan ia memastikan stok bahan makanan lebih lengkap. Lauk pauk, telur, ayam, ikan, menjadi daftar belanja yang diprioritaskan.

“Kalau mau masuk Ramadan, belanja pasti lebih banyak dari biasanya. Untuk persiapan sahur pertama saja bisa habis sekitar Rp170 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung menu yang mau dimasak. Biasanya saya isi kulkas lebih penuh supaya tidak bolak-balik ke pasar di awal puasa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pengeluaran tersebut mencakup bahan untuk beberapa kali makan, terutama untuk dua hingga tiga hari pertama puasa. Dengan stok yang cukup, ia tidak perlu kembali ke pasar dalam kondisi ramai pada awal Ramadan. Selain itu, ia juga membeli bahan tambahan seperti santan, bumbu instan, dan makanan ringan untuk kebutuhan berbuka.

Asyifa menambahkan bahwa peningkatan belanja bukan semata karena frekuensi makan bertambah, melainkan sebagai upaya memastikan ketersediaan bahan makanan selama menjalankan ibadah puasa. Ia menyusun daftar belanja sebelum pergi ke pasar agar pengeluaran tetap terkontrol dan sesuai dengan kebutuhan keluarga.

ramadan
Isi kulkas milik Sartika (kiri) dan Asyifa (kanan). / Foto: Trideyna Cahyani.

Berbeda dengan Asyifa, Sartika Dunggio (42), warga Molinow, menceritakan bahwa Ramadan tahun ini terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan kondisi ekonomi keluarganya membuatnya harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, termasuk dalam hal belanja kebutuhan sahur dan berbuka.

Menurut Sartika, ia tetap menyambut Ramadan dengan persiapan, namun menyesuaikan dengan kemampuan keuangan keluarga. Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia dapat membeli bahan makanan dalam jumlah lebih banyak, tahun ini ia membatasi anggaran sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk satu kali belanja awal.

“Ramadan kali ini terasa cukup berat bagi kami, jadi isi kulkas juga seadanya saja. Yang penting cukup untuk sahur dan berbuka, tidak perlu berlebihan,” ujarnya (17/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa bahan makanan yang dibeli difokuskan pada kebutuhan dasar seperti telur, dan lauk sederhana lainnya. Sartika juga memanfaatkan bahan yang masih tersedia di rumah untuk menghemat pengeluaran. Ia menyusun menu sederhana yang dapat dimasak dalam beberapa variasi agar tidak perlu membeli bahan tambahan.

Menurutnya, pengaturan belanja dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan harian serta pendapatan keluarga. Ia memilih berbelanja dalam jumlah cukup untuk dua hingga tiga hari agar tetap dapat mengatur arus kas rumah tangga. Sartika juga membandingkan harga di beberapa lapak sebelum memutuskan membeli untuk mendapatkan harga yang sesuai.

Fenomena perbedaan pola belanja tersebut menunjukkan variasi kondisi ekonomi masyarakat dalam menyambut Ramadan. Sebagian keluarga meningkatkan anggaran untuk memastikan ketersediaan bahan makanan dan kenyamanan menjalankan ibadah, sementara sebagian lainnya menyesuaikan dengan kemampuan finansial.

Dari pantauan Zonautara.com, Jumat (20/2/2026) selain pasar tradisional, minimarket seperti gerai Aalfamaret, Indomaret dan Aalfamidi juga menjual produk-produk paket hemat, seperti sirup, minuman instan, serta camilan. Gerai jaringan nasional ini menyediakan diskon khusus atau paket bundling khusus Ramadan.

Perbedaan kondisi ekonomi di antara masyarakat turut memengaruhi pola belanja yang dilakukan. Ada yang mampu meningkatkan anggaran untuk persiapan sahur dan berbuka, ada pula yang menyesuaikan dengan kemampuan finansial. Meski demikian, aktivitas belanja tetap berlangsung sebagai bagian dari persiapan menyambut Ramadan di berbagai lapisan masyarakat.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com