ZONAUTARA.com – Banjir kembali melanda Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.
Peristiwa tersebut bermula saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Desa Bakan sejak pukul 14.00 WITA. Dua jam kemudian, banjir bandang setinggi lutut disertai gelondongan kayu menerjang permukiman warga dan mengakibatkan sedikitnya 55 rumah terdampak.
Saat ditemui pada Sabtu (21/2/2026) dinihari, salah satu warga, Restia Podomi (60), mengaku sempat tidak melaksanakan salat Ashar karena khawatir dengan kondisi air yang terus meningkat.
“Saat banjir terjadi, kami sedang menjalankan ibadah puasa. Namun kami tidak sempat melaksanakan salat Ashar karena khawatir debit air semakin meningkat,” ujarnya.
Restia menambahkan, banjir di Desa Bakan sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2006. Namun kondisi terparah terjadi sejak 2024 hingga sekarang.
“Ini karena aliran Sungai Tagin dialihkan dan digabung dengan sungai yang menuju permukiman kami,” ungkapnya.

Ia juga menyebut adanya dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) di hulu Sungai Tagin yang memperparah kondisi banjir.
Hal senada disampaikan oleh, Kasima Podomi (61). Ia mengungkapkan sejak aliran Sungai Tagin dialihkan, wilayah mereka menjadi langganan banjir.
“Sejak aliran Sungai Tagin ditutup dan dialihkan menyatu dengan sungai yang menuju permukiman kami, wilayah kami selalu menjadi langganan banjir,” katanya.
Ia juga menilai perubahan aliran sungai terjadi setelah masuknya perusahaan PT JRBM di wilayah tersebut. Ia berharap pemerintah serta pihak perusahaan dapat mengembalikan aliran Sungai Tagin seperti semula.
“Saya berharap aliran Sungai Tagin dikembalikan ke jalur yang semestinya,” katanya.
Warga juga menyoroti adanya aktivitas pertambangan tanpa izin yang menggunakan alat berat di hulu Sungai Tagin, yang diduga turut memperparah banjir di Desa Bakan.
