Ketika pohon Pala Siau “disekolahkan” dan petani menjadi buruh di tanah sendiri

Editor: Ronny Adolof Buol
Dominik Derek sedang menemani seorang turis yang ingin menyaksikan cara petani pala di Pulau Siau memanen buah pala. (Foto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala)

ZONAUTARA.com – Di balik ketenangan desa-desa di lereng Gunung Karangetang, terjadi transaksi sunyi yang memiskinkan. Tidak ada notaris, hanya selembar kuitansi tulisan tangan di atas materai. Di sinilah nasib ribuan pohon Pala Siau berpindah tangan melalui sistem yang disebut warga lokal sebagai “apoteke”. Ini bukan apotek tempat membeli obat, melainkan sistem gadai tradisional yang memaksa petani menyerahkan hak panennya selama bertahun-tahun demi uang tunai sesaat.

Eduard Neghe, seorang petani di Desa Kinali, Pulau Siau, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menjelaskan “matematika rugi” yang menjerat mereka. Demi mendapatkan uang cepat sebesar Rp 400.000 di muka, petani rela menggadaikan satu pohon palanya selama 5 tahun. Padahal, jika dihitung normal, satu pohon pala produktif bisa menghasilkan pendapatan kotor lebih dari Rp 1 juta per tahun.

“Kalau dua kali panen raya saja, sebenarnya sudah bisa menutupi uang gadai itu. Jadi yang sangat untung itu pemberi gadai,” kata Eduard medio Januari 2026.

Sistem ini mengubah status petani secara drastis. Mereka yang tadinya pemilik lahan, berubah menjadi buruh di kebun sendiri, diupah harian oleh si pemegang gadai untuk memanen buah dari pohon yang mereka tanam. Desakan kebutuhan ekonomi seperti biaya sekolah dan kesehatan memaksa mereka masuk ke dalam lingkaran setan ini.

Dampaknya tidak hanya pada dompet petani, tapi juga pada kualitas pala itu sendiri. Petani yang terdesak uang atau takut dicuri sering melakukan panen dini. Buah muda yang dipanen menghasilkan biji keriput dengan kualitas rendah.




Asrin Makahinda, seorang pengepul, mengakui, “Ada pala yang masuk masih mentah. Kalau begitu kami potong berat.” Praktik jual mentah atau gelondongan ini menghilangkan 90 persen nilai potensial yang seharusnya bisa didapat petani.

Apoteke menjadi mekanisme paling efektif dalam melanggengkan kemiskinan di tengah kekayaan alam Pulau Siau. Bagaimana pemerintah daerah menyikapi praktik yang seolah sudah “dilegalkan” secara sosial ini?

Baca laporan mendalam kami berjudul  Sisi Gelap Di Balik Wangi Pala Siau di teras/id/zonautara-com sebagai konten VIP.

Untuk membaca laporan lengkap PARADOKS PAL A SIAU, Anda harus mendaftar dan berlangganan. Ini bukan sekadar cerita tentang pala, melainkan tentang keadila yang harus diterima petani dan kealpaan pemerintah daerh.

Berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, memulai di surat kabar Manado Post, lantas ke koran Indo Post. Melanjutkan karir di Kompas TV, dan pada 2023 bergabung dengan Zonautara.com. Telah mengikuti pelatihan cek fakta dan liputan investigasi, serta mengerjakan berbagai fellowship.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com